Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Update Karhutla Way Kambas: Kerahkan Water Bombing dan Tim Alfa TNI
Personel TNI memadamkan api di Taman Nasional Way Kambas Kabupaten Lampung Timur. (Dok. Kodam XXI Radin Inten).
  • Operasi karhutla di Taman Nasional Way Kambas diperkuat melalui pemadaman darat, water bombing helikopter BNPB, drone semprot, dan Tim Alpha TNI untuk menjangkau titik sulit.
  • Meski api di sejumlah lokasi telah padam, hotspot masih ditemukan di tengah vegetasi sangat kering. Tim terus melakukan pendinginan, pemantauan thermal, dan mitigasi agar bara tidak memicu kebakaran ulang.
  • Rangkaian kebakaran sejak 21 Agustus berdampak sekitar 802,4 hektare. Penanganan melibatkan lintas instansi, sementara kepolisian menyelidiki penyebab dan memperkuat edukasi pencegahan kepada masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Timur, IDN Times - Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan pendinginan di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK)terus diperkuat hingga, Selasa (25/8/2026). Dukungan tersebut diwujudkan melalui pengerahan personel, peralatan pemadaman darat, Tim Alfa TNI, hingga dukungan udara dari BNPB untuk melaksanakan water bombing di lokasi karhutla.

Kobaran api di sejumlah lokasi telah dipadamkan. Namun potensi munculnya kembali api masih harus diwaspadai karena tim masih menemukan titik-titik panas atau hotspot yang berpotensi menjadi bara dan kembali memicu kebakaran.

1. Water bombing sudah dilakukan

Proses water bombing oleh tim satgas Udara Karhutla Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)

Selain pemadaman dari darat, dukungan udara juga telah dikerahkan untuk menjangkau titik-titik yang sulit ditangani secara langsung oleh personel. Hingga pukul 13.49 WIB kemarin, satu helikopter BNPB dengan misi Fire Fighting Mission mendarat di Bandara Radin Inten II Lampung.

Helikopter tersebut kemudian digunakan untuk mendukung operasi water bombing di lokasi karhutla kawasan TNWK. Pada Selasa sore, water bombing telah dilaksanakan oleh tim BNPB untuk membantu menurunkan suhu pada titik-titik panas sekaligus mencegah munculnya kembali api.

Kobaran api di sejumlah lokasi telah dipadamkan. Namun potensi munculnya kembali api masih harus diwaspadai karena tim masih menemukan titik-titik panas atau hotspot yang berpotensi menjadi bara dan kembali memicu kebakaran.

2. Antisipasi titik panas agar tidak menjadi bara

Personel TNI memadamkan api di Taman Nasional Way Kambas Kabupaten Lampung Timur. (Dok. Kodam XXI Radin Inten).

Kepala BPBD Provinsi Lampung, Rudi Syawal mengatakan, pelaksanaan water bombing menjadi bagian dari upaya mempercepat pemadaman dan pendinginan di lokasi yang sulit dijangkau tim darat.

“Water bombing sudah dilakukan sore oleh tim BNPB di lokasi karhutla. Ini untuk membantu pendinginan dan menurunkan suhu di titik-titik yang masih panas. Helikopter akan terus standby sampai api benar-benar padam,” ujar Rudi.

Menurutnya, dukungan udara akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan, terutama apabila masih ditemukan titik panas yang membutuhkan penanganan dari udara.

“Jadi tidak hanya melihat api yang kelihatan, tetapi titik-titik panas yang masih ada juga kita antisipasi supaya tidak menjadi bara dan kemudian muncul api kembali,” katanya.

3. Pemadaman dari udara bantu turunkan suhu

Potret udara kebakaran hutan dan lahan di TN Way Kambas, Lampung Timur. (IDN Times/Istimewa).

Dukungan pemadaman dari udara ini melengkapi operasi darat yang dilakukan secara terpadu oleh TNI-Polri, Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, Balai TN Way Kambas, BPBD dan unsur terkait lainnya.

Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, pemadaman dari udara dibutuhkan untuk membantu menurunkan suhu pada titik-titik yang masih terdeteksi memiliki panas. Menurutnya, meskipun kobaran api telah berhasil ditangani di sejumlah lokasi, kondisi hotspot yang masih ditemukan menunjukkan potensi kebakaran belum sepenuhnya hilang.

“Water bombing ini kita laksanakan untuk membantu menyirami titik-titik hotspot tadi sehingga suhunya bisa turun, tidak memungkinkan untuk terjadinya kembali api,” ujar Kristomei di lokasi karhutla kawasan TNWK.

Kristomei menambahkan, hasil pengamatan menunjukkan masih terdapat titik yang memiliki suhu berbeda dari kondisi normal tanah. “Tadi dari pengamatan-pengamatan kita, masih ada titik-titik yang memungkinkan, karena suhunya berbeda dengan suhu tanah sebenarnya, masih kuning atau merah. Nah, itu yang harus kita waspadai,” jelasnya.

4. Kondisi vegetasi sangat kering

Personel TNI memadamkan api di Taman Nasional Way Kambas Kabupaten Lampung Timur. (Dok. Kodam XXI Radin Inten).

Kristomei mengatakan, titik-titik memiliki suhu berbeda menjadi perhatian. Itu karena, meskipun tidak lagi terlihat sebagai kobaran api, panas yang tersisa dapat menjadi bara dan berpotensi memunculkan api kembali, terutama dengan kondisi vegetasi yang sangat kering.

Karena itu, operasi tidak berhenti pada pemadaman kobaran api. Pendinginan dan pemantauan terus dilakukan untuk memastikan bara yang tersisa tidak kembali menimbulkan kebakaran. Selain dukungan water bombing dari BNPB, tim juga menyiapkan drone semprot untuk menjangkau lokasi yang sulit didatangi personel melalui jalur darat.

“Sore ini juga kita melakukan drone semprot dengan kapasitas 16 liter, 30 liter, dan 1 liter, sehingga bisa bolak-balik isi, diterbangkan ke tempat-tempat yang susah dijangkau dengan jalan kaki,” kata Kristomei.

Penggunaan drone tersebut diharapkan mempercepat proses pendinginan pada titik-titik yang tidak mudah dijangkau dengan kendaraan maupun personel. Dengan kombinasi pemadaman darat, water bombing BNPB dan drone semprot, tim menargetkan hotspot yang tersisa segera ditangani sehingga tidak berkembang menjadi bara maupun api baru.

“Harapannya jangan ada lagi tambahan-tambahan atau timbul lagi hotspot atau titik-titik api baru,” tegas Kristomei.

5. TNI kerahkan Tim Alfa

Operasi di lapangan juga diperkuat dengan pengerahan Tim Alfa. (IDN Times/Istimewa).

Operasi di lapangan juga diperkuat dengan pengerahan Tim Alfa. Pengerahan tersebut dilakukan menindaklanjuti instruksi Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI.

“Kemudian tadi kita terjunkan Tim Alfa sesuai dengan instruksi dari Bapak Presiden dan Panglima TNI. Mereka kita terjunkan di tempat-tempat yang memang susah dijangkau, di tempat-tempat yang masih memiliki hotspot yang ada, sehingga bisa lebih mempercepat proses pemadaman api,” ujar Kristomei.

Sebelum personel bergerak ke lokasi, tim melakukan surveillance menggunakan peralatan thermal untuk menemukan titik panas yang masih berpotensi menjadi bara. “Tadi sudah kita adakan surveillance dulu, pengamatan menggunakan thermal, di mana kira-kira titik api yang masih mungkin menjadi bara dan menyebabkan kebakaran,” katanya.

Metode tersebut digunakan untuk mendeteksi titik-titik panas yang secara visual mungkin sudah tidak menunjukkan kobaran api, tetapi masih menyimpan bara di bawah vegetasi.

6. Luasan lahan terdampak

Lahan seluas 673,4 hektare terdampak karhutla di Taman Nasional Way Kambas, petugas gabungan terus berupaya melakukan pemadaman, Kelurahan Kuala Penet, Kecamatan Resort Kuala Penet, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung (21/8/2026). (Dok. BNPB)

Kristomei juga menyampaikan data luasan wilayah terdampak dari rangkaian kejadian kebakaran sejak 21 Agustus. “Di kejadian pertama tanggal 21 sampai 22 Agustus kemarin itu 673 hektare yang terdampak di Desa Braja Harjosari,” kata Kristomei.

Kemudian, pada kejadian 23—24 Agustus, terdapat sekitar 123 hektare yang terdampak di wilayah Braja Kencana dan Braja Luhur. Sementara pada 24 Agustus, kebakaran juga terjadi di wilayah Rantau Jaya. “Di tanggal 24-nya juga terjadi di daerah Rantau Jaya. Rantau Jaya itu terdampak sekitar 6,4 hektare,” lanjutnya.

Berdasarkan data luasan yang disampaikan Pangdam, total wilayah terdampak dari rangkaian kejadian tersebut mencapai sekitar 802,4 hektare. Dari keseluruhan luasan tersebut, sebagian besar merupakan kawasan vegetasi alang-alang atau savana yang dalam kondisi kering sangat mudah terbakar.

Dengan kondisi tersebut, meskipun api telah dipadamkan di sejumlah titik, potensi munculnya kembali api tetap ada apabila bara yang tersisa tidak segera didinginkan. Karena itu, tim gabungan terus melakukan pemantauan agar tidak ada tambahan luasan akibat munculnya titik api baru.

Terkait dugaan awal penyebab kebakaran, Pangdam mengatakan kondisi kering ekstrem menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. “Dugaan sementara kan memang karena keringnya ekstrem, terjadi gesekan antar ranting, antar semak-semak itu,” ujar Kristomei.

7. Sorotan Kapola Lampung

Lahan seluas 673,4 hektare terdampak karhutla di Taman Nasional Way Kambas, petugas gabungan terus berupaya melakukan pemadaman, Kelurahan Kuala Penet, Kecamatan Resort Kuala Penet, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung (21/8/2026). (Dok. BNPB)

Kondisi vegetasi yang sangat kering, termasuk alang-alang dan semak di kawasan savana, membuat api lebih mudah berkembang. Namun, dugaan tersebut masih bersifat sementara berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan. Kemungkinan penyebab lain tetap didalami melalui proses penyelidikan kepolisian.

Terkait kemungkinan adanya unsur kesengajaan atau dugaan kawasan dibakar, Kapolda Lampung Irjen Helfi Assegaf menegaskan, kemungkinan tersebut tetap menjadi bagian dari proses penyelidikan. “Penyelidikan antisipasi laporan kebakaran, lahan, untuk tumbuh tanaman baru. Proses penyelidikan terus dilakukan untuk mengantisipasi kejadian serupa di kemudian hari,” ujar Helfi.

Ia mengatakan aspek tersebut perlu didalami, sekaligus dilakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. “Tanaman baru inilah yang akan menarik perhatian hewan-hewan yang mengkonsumsi ini,” lanjutnya.

Menurut Kapolda, edukasi menjadi bagian penting untuk mencegah terjadinya praktik yang dapat menimbulkan kebakaran. “Nah ini perlu kita edukasi, tentunya kita sudah bekerja sama dengan TNI, kemudian pemerintah, dan masyarakat setempat tentunya untuk diedukasi supaya tidak melakukan hal tersebut,” kata Helfi.

8. Wagub Lampung: kolaborasi lintas sektor

Briefing tim gabungan dilakukan di posko gabungan Taman Nasional Way Kambas, Selasa (25/8/2026). (Dok. Biro Adpim Pemprov Lampung).

Briefing tim gabungan dilakukan di posko gabungan dan diikuti Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi, Wakil Gubernur Lampung dr. Jihan Nurlela, Kapolda Lampung Irjen Helfi Assegaf, serta unsur Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, Balai TN Way Kambas, TNI-Polri, BPBD dan unsur terkait lainnya.

Jihan mengatakan, penanganan karhutla dilakukan melalui kolaborasi seluruh unsur. “Utamanya kita membentuk, mengomandoi tim gabungan, mulai dari TNI, Polda, dan juga seluruh dari tim TN, Balai, membentuk suatu tim gabungan untuk bisa memitigasi hal-hal yang berpotensi menjadikan titik api, hotspot baru,” ujar Jihan.

Menurutnya, penanganan tidak hanya menyangkut pemadaman, tetapi juga mitigasi agar kebakaran tidak kembali muncul. Kolaborasi juga diperluas dengan melibatkan masyarakat dan komunitas di sekitar kawasan TN Way Kambas.

“Kita juga mengajak seluruh komunitas, seperti dari Pramuka atau dari aktivis-aktivis lingkungan lainnya untuk bisa sama-sama menjaga atau aware, lebih aware bagaimana potensi terjadinya api dan lain sebagainya,” katanya.

Sosialisasi kepada masyarakat akan diperkuat sebagai bagian dari langkah pencegahan, terutama mengenai aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Curated For You

Editorial Team

Related Article