Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sumur Mengering saat Kemarau, Warga Balam Diminta Waspada Kualitas Air
ilustrasi sumur (pexels.com/Sushil Shrestha)
  • Dinkes Bandar Lampung meningkatkan pengawasan kualitas air sumur dan sumber air tanah dangkal selama kemarau melalui puskesmas serta tenaga kesehatan lingkungan.

  • Pemeriksaan dilakukan dengan pengambilan sampel memakai sanitary kit untuk mengecek bakteriologi dan parameter sederhana, tanpa memeriksa seluruh sumur warga.

  • Warga diminta tidak memakai air yang tidak memenuhi syarat kesehatan; BPBD dan PDAM juga menyalurkan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bandar Lampung mengimbau kepada warga untuk lebih waspada terhadap kualitas air akibat berkurangnya sumber selama musim kemarau.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Temenggung Arsyad meminta warga untuk waspada terhadap air dari sumur dan sumber air tanah dangkal yang masih dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Menurutnya, pengawasan kualitas air ditingkatkan untuk memastikan sumber air yang digunakan masyarakat tetap memenuhi persyaratan kesehatan.

"Musim kemarau menyebabkan sejumlah sumber air mengalami kekeringan. Kondisi ini membuat pemantauan kualitas air menjadi penting untuk mengantisipasi risiko kesehatan masyarakat," katanya, Sabtu (3/10/2026).

1. Kualitas air sumur diperiksa secara berkala

Kepala Dinas Kesehatan Bandar Lampung Muhtadi Temenggung Arsyad. (IDN Times/Muhaimin)

Muhtadi mengatakan, pengawasan dilakukan melalui puskesmas dengan melibatkan tenaga kesehatan lingkungan.

"Petugas melakukan pemantauan dan pemeriksaan kualitas air dari sejumlah sumber yang digunakan masyarakat," ujarnya.

Muhtadi menjelaskan, setiap puskesmas telah dilengkapi sanitary kit untuk mendukung pemeriksaan tersebut. Peralatan ini digunakan untuk memeriksa kualitas air, termasuk aspek bakteriologi dan sejumlah parameter sederhana lainnya.

"Pemeriksaan dilakukan melalui metode sampling atau pengambilan sampel air. Dengan cara ini, petugas dapat mengetahui kondisi kualitas air dari sumber yang dipantau tanpa harus memeriksa seluruh sumur milik masyarakat," jelasnya.

2. Air tercemar berisiko menimbulkan gangguan kesehatan

ilustrasi air tercemar limbah (unsplash.com/fUZZI Lin)

Masyarakat diimbau tidak menggunakan air yang hasil pemeriksaannya tidak memenuhi syarat kesehatan untuk minum, mencuci bahan makanan, maupun membersihkan peralatan makan.

"Air yang tercemar dapat membawa mikroorganisme penyebab penyakit. Memasak air hingga mendidih dapat membunuh banyak mikroorganisme patogen, tetapi tidak menjamin seluruh kontaminan hilang," jelas Muhtadi.

3. Warga lebih perhatikan air

Ilustrasi Sumur. (unsplash.com/Maxime Bouffard)

Muhtadi mengimbau kepada warga, risiko juga dapat muncul ketika air yang tercemar digunakan untuk mencuci bahan makanan atau peralatan makan yang kemudian bersentuhan dengan makanan.

"Karena itu, warga perlu memperhatikan kondisi dan kualitas sumber air, terutama ketika sumber air mengalami penurunan atau kekeringan selama musim kemarau," imbaunya.

Selain meningkatkan pengawasan, pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan juga dilakukan melalui penyaluran air bersih.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) turut berperan menyuplai air bersih ke wilayah yang membutuhkan.

Langkah ini diharapkan membantu warga yang kesulitan memperoleh air akibat mengeringnya sumber air, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau.

Curated For You

Editorial Team

Related Article