Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rektor UBL Beber Alasan Banyak Mahasiswa Salah Pilih Prodi dan Karier
ilustrasi fresh graduate (pexels.com/Anna Shvets)
  • Rektor UBL menyoroti perubahan dunia kerja yang cepat akibat teknologi dan AI, sehingga mahasiswa perlu memahami diri sebelum menentukan arah karier.
  • Keberhasilan masa depan tidak hanya bergantung pada kemampuan akademik, tetapi juga adaptasi, pengenalan potensi diri, dan relevansi kompetensi dengan kebutuhan industri.
  • Orang tua diimbau membantu anak fokus bukan hanya pada gelar sarjana, melainkan pada keterampilan dan visi masa depan yang sesuai dengan perubahan dunia kerja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Memilih perguruan tinggi dan program studi sering dianggap sebagai keputusan penting yang akan menentukan masa depan seseorang. Namun, di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan transformasi industri global, memilih program studi ternyata tidak lagi cukup.

Banyak lulusan perguruan tinggi yang akhirnya bekerja pada bidang yang berbeda dari jurusan yang mereka tempuh saat kuliah. Tidak sedikit pula mahasiswa yang merasa kehilangan arah di tengah perkuliahan karena belum memahami potensi diri, minat, bakat, maupun tujuan karier yang ingin dicapai setelah lulus.

1. Perubahan dunia kerja sangat dinamis

ilustrasi fresh graduate menjalani wawancara kerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Fenomena tersebut menunjukkan tantangan generasi muda saat ini bukan sekadar memilih kampus atau program studi. Tetapi juga memahami siapa dirinya dan seperti apa masa depan yang ingin dibangun.

Rektor Universitas Bandar Lampung (UBL), M Yusuf S Barusman menilai, perubahan dunia kerja yang sangat dinamis menuntut pendekatan pendidikan yang berbeda dibandingkan dengan masa lalu.

“Dulu seseorang dapat memilih satu profesi dan menjalani karier yang relatif stabil hingga masa pensiun. Saat ini situasinya berbeda. Banyak profesi baru muncul, sementara beberapa pekerjaan yang ada saat ini mungkin akan berubah atau bahkan hilang dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, generasi muda perlu memahami dirinya terlebih dahulu sebelum menentukan langkah pengembangan kariernya,” ujarnya, Jumat (5/6/2026).

2. Keberhasilan masa depan tidak hanya ditentunkan kemampuan akademik

Ilustrasi nilai akademik (pexels.com/Andy Barbour)

Menurut Yusuf, keberhasilan seseorang di masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik saja, tidak juga mesti dari perguruan tinggi top. Namun, juga oleh kemampuannya mengenali potensi diri, beradaptasi terhadap perubahan, dan mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Saat ini para orang tua juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Selain mempertimbangkan kualitas akademik sebuah perguruan tinggi, mereka juga mulai mempertanyakan sejauh mana kampus mampu membantu mahasiswa mempersiapkan masa depan dan kariernya setelah lulus.

3. Bukan sekadar gelar sarjana

ilustrasi fresh graduate (freepik.com/Racool_studio_

Rektor menjelaskan, orang tua tentu ingin anak-anaknya tidak hanya memperoleh gelar sarjana. Tetapi juga memiliki arah masa depan yang jelas, keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja, serta kemampuan untuk berkembang di tengah perubahan yang terus berlangsung

“Di era ketika teknologi dan kecerdasan buatan terus mengubah lanskap pekerjaan, pertanyaan terpenting bagi generasi muda bukan lagi sekadar “program studi apa yang harus dipilih”, melainkan “potensi apa yang dimiliki dan masa depan seperti apa yang ingin dibangun”. Jawaban atas pertanyaan itulah yang diyakini akan menjadi fondasi kesuksesan mereka di masa depan,” ujar Guru Besar Ilmu Manajemen ini.

.

Editorial Team

Related Article