Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penikaman Pelajar SMP jadi Alarm Keras Pendidikan di Bandar Lampung
Korban VI (13) menjalani perawatan medis di RSUD Abdul Moeloek, Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).
  • Kasus penikaman antar pelajar SMP di Bandar Lampung memicu keprihatinan dan menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan terkait perhatian terhadap kondisi psikologis anak.
  • Komnas PA menekankan pentingnya dukungan keluarga dan pengawasan sekolah dalam mencegah kekerasan, serta kewaspadaan terhadap perubahan perilaku anak sejak dini.
  • Sekolah didorong memperkuat edukasi anti-bullying dan kolaborasi dengan orang tua serta masyarakat untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas kekerasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Kasus perkelahian berujung penikaman antara dua pelajar SMP di Kota Bandar Lampung dinilai menjadi alarm keras bagi seluruh pihak agar lebih serius memperhatikan kondisi psikologis hingga perilaku anak usia sekolah.

Peristiwa tersebut diketahui melibatkan dua siswa kelas VII di SMP Negeri 44 Bandar Lampung. Seorang siswa berinisial KAS (13) menusuk teman sekelasnya, V (13) menggunakan senjata tajam jenis pisau dapur saat jam pulang sekolah.

Ketua Komnas PA Bandar Lampung, Ahmad Apriliandi Passa mengaku prihatin dan menyampaikan duka mendalam atas insiden kekerasan yang melibatkan anak-anak tersebut.

“Peristiwa ini sangat miris dan memilukan. Kami sangat prihatin atas terjadinya penusukan yang dilakukan siswa kelas VII SMPN Negeri 44 Bandar Lampung terhadap teman sekolahnya sendiri,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).

1. Komnas PA: Perubahan perilaku anak jangan diabaikan

Pelaku KAS telah ditetapkan sebagai tersangka. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Apriliandi menilai, tindakan kekerasan di lingkungan sekolah sejatinya dapat dicegah, apabila anak mendapat dukungan kuat dari keluarga dan pengawasan maksimal dari sekolah. Menurutnya, perubahan perilaku anak sering kali muncul akibat persoalan psikologis yang luput dari perhatian orang dewasa di sekitarnya.

Oleh karenanya, pihak keluarga hingga sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter serta mengawasi perkembangan emosi anak sejak dini.

“Ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Orang tua, guru, dan lingkungan sekitar harus lebih peka terhadap perubahan perilaku anak agar potensi tindakan kekerasan bisa dicegah lebih awal,” katanya.

2. Sekolah diminta perkuat edukasi anti-bullying

ilustrasi bullying (pexels.com/Mikhail Nilov)

Komnas PA Bandar Lampung juga mendorong sekolah menerapkan aturan yang tegas dan konsisten terhadap berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.

Tak hanya itu, pihak sekolah diminta memperkuat edukasi terkait bahaya bullying, kenakalan remaja, hingga dampak penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan.

“Kita berharap kejadian seperti ini tidak kembali terulang. Semua pihak harus memberikan perhatian lebih terhadap pembentukan karakter anak, pemahaman tentang bahaya bullying, kenakalan remaja, dan tindakan tidak terpuji yang dapat mencoreng nama pribadi, keluarga, maupun sekolah," ucap Apriliandi.

3. Tegaskan pentingnya kolaborasi

ilustrasi bullying (pexels.com/cottonbro studio)

Apriliandi menambahkan, kasus tersebut kembali menegaskan pentingnya kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan bagi anak-anak.

"Jangan sampai kasus seperti ini kembali terulang, apalagi sampai menyebabkan hilangnya nyawa siswa,” imbuhnya.

Editorial Team

Related Article