Pasca Dua Bulan Lebih Siaga, Gunung Anak Krakatau Turun Status Waspada

Badan Geologi menurunkan status Gunung Anak Krakatau dari Level III Siaga ke Level II Waspada pada 21 September 2026 pukul 18.30 WIB setelah aktivitasnya menurun.
Penurunan status didukung tren erupsi dan kegempaan yang mereda, serta deformasi deflasi; sebelumnya GAK mengalami 224 erupsi hingga 3 September dan erupsi menerus sekitar 25 jam.
Masyarakat dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas, tetap waspada terhadap batu pijar dan hujan abu, serta mengikuti informasi resmi.
Lampung Selatan, IDN Times - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda menurun. Badan Geologi menurunkan status gunung api tersebut dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) mulai, Senin (21/9/2026) pukul 18.30 WIB.
Kepala Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno membenarkan adanya penurunan tingkat aktivitas tersebut. Menurutnya, kondisi kegempaan dan aktivitas erupsi GAK menunjukkan tren menurun beberapa waktu terakhir.
"Memang aktivitasnya sudah mengalami penurunan. Jadi untuk saat ini statusnya Level II atau Waspada," ujarnya dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026).
1. GAK sempat berstatus Siaga sejak 2 Juli 2026

Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. (Dok. Eghie Febriansyah). Suwarno menjelaskan, status GAK merupakan gunung berapi aktif tipe A berada secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan tersebut naik status menjadi Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB
Menurutnya, peningkatan status itu didasarkan pada peningkatan kegempaan vulkanik dan deformasi gunungapi, dengan tercatat mengalami 224 kali erupsi hingga 3 September 2026. Kemudian aktivitas erupsi meningkat pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB. Erupsi menerus berlangsung hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB atau sekitar 25 jam.
"Berdasarkan pantauan citra satelit, erupsi menerus tersebut menghasilkan aliran lava yang mengarah ke barat laut, barat, hingga barat daya dari pusat erupsi," jelasnya.
Setelah erupsi menerus berhenti, GAK masih mengalami tujuh kali erupsi strombolian. Namun, aktivitas gunung api tersebut kemudian menunjukkan kecenderungan menurun hingga 20 September 2026 pukul 00.00 WIB.
"Kondisi ini jadi salah satu indikator, bahwa aktivitas GAK saat ini tidak lagi menunjukkan peningkatan seperti periode sebelumnya," lanjut dia.
2. Data kegempaan dan deformasi menurun

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau di kantor Pusdalops BPBD Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna). Penurunan aktivitas GAK disebut turut didukung hasil pemantauan deformasi menunjukkan adanya deflasi atau pengempisan tubuh gunung. Pada 20 September 2026, tercatat satu kali gempa low frequency dan tremor menerus dengan rata-rata amplitudo 2 milimeter.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh terhadap data aktivitas vulkanik tersebut, Badan Geologi kemudian menurunkan status GAK dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada).
"Ya, meski status aktivitas turun menjadi Waspada, masyarakat maupun wisatawan tetap diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dari Badan Geologi," tegas Suwarno.
3. Radius larangan 2 kilometer

Sejumlah wisatawan kedapatan beraktivitas di Gunung Anak Krakatau. (IDN Times/Istimewa). Suwarno menambahkan, masyarakat di sekitar GAK serta pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan memasuki atau melakukan kegiatan dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Namun, Badan Geologi mengimbau masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung tetap tenang, serta tidak mempercayai isu mengenai erupsi GAK disebut akan menyebabkan tsunami.
"Masyarakat tetap dapat beraktivitas seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan dari BPBD setempat dan informasi resmi terkait perkembangan aktivitas gunungapi," serunya.
Selain itu, perkembangan aktivitas dan rekomendasi GAK dapat dipantau melalui aplikasi maupun situs Magma Indonesia, serta kanal informasi resmi Badan Geologi. "Status Level II (Waspada) ini akan tetap berlaku hingga diterbitkan laporan evaluasi berikutnya atau terdapat perubahan aktivitas GAK yang signifikan," imbuh Suwarno.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















