Program Studi Teknik Lingkungan Itera memantau kualitas udara di lingkungan kampus imbas masuknya abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). (Dok. Itera).
Dosen Teknik Lingkungan Itera, Novi Kartika Sari, menjelaskan pemantauan dilakukan menggunakan dua perangkat, yakni alat pemantauan udara ambien di area depan pelataran Gedung A dan alat pemantauan kesehatan lingkungan kerja untuk mengukur kondisi udara di dalam ruangan Gedung A.
“Parameter yang kami ukur meliputi PM2.5 dan PM10 untuk udara luar dan dalam ruangan, kemudian SO₂, NO₂, CO, CO₂, serta parameter meteorologi seperti arah dan kecepatan angin, suhu, kelembapan, dan tekanan,” ujar Novi, Senin (7/9/2026).
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui kondisi kualitas udara di lingkungan Itera sekaligus melihat potensi pengaruh partikulat dari aktivitas erupsi GAK. Namun, Novi menegaskan perangkat yang digunakan tidak dapat secara langsung mengidentifikasi apakah partikulat yang terukur seluruhnya berasal dari abu vulkanik.
“Alat ini merupakan instrumen untuk pengukuran kualitas udara ambien, sehingga tidak bisa secara langsung mengatakan partikulat yang terukur berasal dari abu vulkanik. Namun, kita dapat memprediksi apakah lokasi yang menjadi reseptor terpengaruh oleh abu vulkanik atau tidak,” jelas Novi.