Bali, IDN Times - Budayawan Bali mengkritisi label wisata budaya yang kini melekat dan hendak digarap oleh pemerintah daerah setempat terhadap sistem pengairan berkelanjutan milik Bali yakni Subak.
Sistem pengairan berkelanjutan tersebut telah resmi dijadikan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada 2012 lalu. Sayangnya, label wisata budaya serta munculnya investor di wilayah tersebut justru tidak sejalan dengan tujuan Subak yakni sebagai upaya konservasi.
Hal ini disampaikan oleh pengamat budaya dari Universitas Udayana Bali sekaligus pengurus Pura Ulun Danu Batur, I Ketut Eriadi Ariana dalam diskusi internasional ”Subak dan Jalur Rempah, Kearifan Lokal Pengelolaan Air” yang merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan World Water Forum ke 10 di Bali.
“Alih fungsi lahan pertanian menjadi hotel dan restoran dilakukan setelah Subak menjadi wisata budaya. Belum lagi masalah petani yang kini sudah menua dan tak ada regenerasi. Justru ini yang sebenarnya perlu dicari solusinya dulu,” katanya, Selasa (21/5/2024).
