Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kasus Pemukulan Santri, FKPP Bandar Lampung: Kiai Tak Ajari Kekerasan
Tersangka M Arya Yudha Wicaksono menjalani pemeriksaan oleh petugas Unit PPA Satreskrim Polresta Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).
  • Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kota Bandar Lampung menyayangkan insiden pemukulan terhadap santri di Ponpes setempat.
  • Ketua FKPP Bandar Lampung, Ustaz Ismail Zulkarnain, menegaskan bahwa pendidikan pesantren tidak mengajarkan perilaku kekerasan.
  • Pendidikan karakter dan akhlak mulia merupakan ciri khas pesantren, namun peristiwa ini menjadi peringatan untuk meningkatkan pembinaan akhlak tanpa kekerasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kota Bandar Lampung menyayangkan insiden pemukulan terhadap santri dilakukan seniornya di salah satu lingkungan pondok pesantren (Ponpes) kota setempat hingga berujung laporan kepolisian.

Perkara tersebut kini tengah ditangani Unit PPA Satreskrim Polresta Bandar Lampung dan telah mengamankan dan menetapkan satu tersangka M Arya Yudha Wicaksono (21).

"Sudah dapat informasinya, ya jelas, kita sangat prihatin atas peristiwa ini, terlebih terjadi di lingkungan pondok pesantren," ujar Ketua FKPP Bandar Lampung, Ustaz Ismail Zulkarnain dikonfirmasi, Jumat (31/5/2024).

1. Pemukulan bukan karakter pendidikan di Ponpes

Ketua FKPP Bandar Lampung dan pemilik Yayasan Ponpes Yatim Piatu dan Tahfidzul Qur’an Riyadhus Sholihin, Ismail Zulkarnain. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Menurut Ustaz Ismail, peristiwa ini tentu tidak serta-merta mencerminkan karakteristik pendidikan pembentuk disiplin di lingkungan ponpes, melainkan murni sebagai bentuk prilaku inisiatif dilakukan oleh pelaku tersebut.

"Apapun alasannya jelas tidak dibenarkan. Harus jadi catatan, para kiai dan guru-guru pondok tidak pernah mengajarkan perilaku kekerasan, apalagi membenarkan pemukulan," tegasnya.

2. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama

Aktivis santri di Ponpes Yatim Piatu dan Tahfidzul Qur’an Riyadhus Sholihin, Kota Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Dijelaskan Ustaz Ismail, pesantren memiliki ciri khas pendidikan menekankan sejumlah aspek. Di antaranya pendidikan karakter dan akhlak mulia, namun bukan berarti mengandalkan cara-cara kekerasan terhadap para peserta didiknya.

Kendati tetap, peristiwa ini kembali menjadi peringatan bersama bagi semua pihak terlibat dalam dunia pendidikan, agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.

"Pendidikan tidak semata merupakan tanggung jawab para pendidik baik ustaz maupun pengasuh, tetapi tanggung jawab semua pihak bersama-sama. Termasuk para orang tua, tidak melepaskan tanggung jawabnya begitu saja saat anak dipondokan. Artinya, tetap memberikan perhatian kepada anak," pungkas dia.

3. Perlu dilakukan identifikasi potensi perilaku menyimpang

ilustrasi kekerasan pada anak (IDN Times/Sukma Shakti)

Terlepas dari peristiwa ini, Ustaz Ismail mengajak para pengasuh pondok pesantren dapat meningkatkan pola-pola pembinaan dan pendidikan akhlak serta pembentukan karakter, tentunya, tanpa menganut perilaku-perilaku kekerasan.

Salah satunya dengan menerapkan identifikasi potensi perilaku menyimpang dalam berbagai hal. Terutama tindak bullying dan persekusi antara sesama santri.

"Mari kita ambil hikmahnya, bukan hanya perbaikan dalam aktivitas belajar tetapi juga dalam pembinaan perilaku yang bersentuhan langsung dengan pembentukan karakter," tandas Ustaz Ismail.

Editorial Team

Related Article