Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dorong Pembangunan Tol Lematang-Panjang, MTI Ingatkan Dampak ke Desa
Ilustrasi Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS). (dok. Hutama Karya)
  • MTI mendorong pembangunan Tol Lematang–Panjang di Lampung karena dinilai strategis memperkuat konektivitas menuju pusat logistik, kawasan industri, dan Pelabuhan Panjang.

  • MTI mengingatkan desain tol harus menjaga akses antardesa, jalan lokal, lahan pertanian, sentra produksi, serta peluang UMKM agar tidak menjadi sekat bagi warga.

  • Forum MTI akan mengawal proyek dari perencanaan hingga implementasi dan menyerukan partisipasi publik, sambil menyoroti pelayanan, keselamatan, investasi, tarif, serta pengawasan jalan tol nasional.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Rencana pembangunan Tol Lematang–Panjang di Provinsi Lampung mendapat dorongan dari Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol Pengurus Pusat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

Ketua Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol, M. Alkautsar mengatakan, Tol Lematang-Panjang memiliki posisi strategis dalam memperkuat konektivitas jaringan jalan tol di Lampung. Jalur tersebut dinilai dapat mendukung akses menuju pusat logistik, kawasan industri hingga Pelabuhan Panjang.

“Kami mendorong pembangunan Tol Lematang–Panjang. Tetapi jangan sampai pembangunannya mengulang pola pembangunan jalan tol yang sudah-sudah, ketika orientasi konektivitas nasional berjalan tetapi masyarakat dan desa yang dilalui belum mendapatkan manfaat secara optimal,” ujarnya, Rabu (7/10/2026).

1. Jangan sampai tol justru jadi sekat bagi desa

Ketua Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol, M. Alkautsar. (Dok. MTI).

Alkautsar mengatakan, pembangunan tol harus dirancang tidak hanya berdasarkan kepentingan konektivitas antarkawasan, sehingga akses masyarakat di sekitar jalur tol juga harus dipastikan tetap terhubung.

Selain itu, beberapa aspek perlu diperhitungkan di antaranya akses antardesa, konektivitas jalan lokal, akses menuju lahan pertanian dan sentra produksi hingga peluang pengembangan UMKM.

“Jangan sampai jalan tol menghubungkan kota, kawasan industri dan pelabuhan, tetapi justru menjadi sekat bagi desa yang dilewatinya. Infrastruktur harus mendekatkan masyarakat kepada pusat ekonomi, bukan menjauhkannya,” .

2. MTI kawal pembangunan sejak perencanaan

ilustrasi jalan tol (pexels.com/Pok Rie)

Alkautsar menambahkan, Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol Pengurus Pusat MTI akan mengawal pembangunan Tol Lematang–Panjang sejak tahap perencanaan hingga implementasi.

Oleh karenanya, ia mendorong adanya ruang partisipasi bagi pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam rencana tersebut.

“Kami akan kawal Lematang–Panjang secara serius. Pembangunan ini tidak hanya menghasilkan kilometer jalan tol baru, tetapi juga meninggalkan manfaat ekonomi dan sosial yang terukur bagi masyarakat di sepanjang koridor yang dilalui,” tegasnya.

3. Soroti pelayanan hingga investasi jalan tol

Ketua Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol, M. Alkautsar mendampingi Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal. (Dok. MTI).

Selain pembangunan Tol Lematang–Panjang, Alkautsar menyebutkan, sebanyak 12 rekomendasi Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol juga menyoroti sejumlah persoalan penyelenggaraan jalan tol nasional.

Rekomendasi tersebut mencakup penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM), transparansi pengawasan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), kualitas pelayanan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), keselamatan, kepastian investasi, kebijakan tarif, hingga mekanisme pengaduan pengguna jalan. Termasuk mendorong keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat dalam ekosistem jalan tol.

“BUJT membutuhkan kepastian investasi, masyarakat membutuhkan pelayanan dan manfaat, sementara BPJT harus memastikan keduanya berjalan seimbang. Itulah salah satu semangat utama dari 12 rekomendasi yang kami rumuskan,” imbuhnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article