Menilik dari sejarah, sejak diberlakukannya Politik Etis mulai tahun 1905, salah satu kebijakan yang diterapkan kala itu yakni migrasi atau perpindahan penduduk Jawa ke Tanah Seberang (luar Jawa), terus dilaksanakan sampai dengan berakhirnya pemerintahan kolonial Hindia Belanda (1942).
Belajar dari pengalaman pada Fase Percobaan, segala sesuatu yang menjadi catatan dievaluasi dan diperbaiki pada Fase Perluasan. Metro wilayah yang baru ada setelah pembukaan Kolonisasi Sukadana pada tahun 1935, dengan desa induk pertama adalah Trimurjo.
Sebagai bagian dari kebijakan kolonisasi pada tahap perluasan, perencanaan dan persiapan pembukaan Kolonisasi Sukadana dapat dikatakan lebih matang. Pemerintah Hindia Belanda telah memiliki rencana pembangunan ruang ibukota Kolonisasi Sukadana (Metro) dalam beberapa tahap, yang akan diselesaikan dalam waktu 10 tahun sejak dibukanya Kolonisasi Sukadana (1935).
Dalam rencana pembangunan tersebut, lokasi-lokasi telah disiapkan yang diperuntukan bagi rumah pengawas, (controleurs) dan calon pengawas (aspirant-controleur), rumah dokter pemerintah (dokterswoning), rumah sakit pemerintah (Gouvernements ziekenhuis), kantor administrasi nasional (Binnenlandsch Bestuur kantoor). Lokasi lainnya, kantor pekerjaan umum irigasi (Waterstaats-kantoor), kawasan perumahan pegawai pemerintah tingkat rendah (woningen kleine ambtenaren geprojecteerd), serta persiapan kawasan pemukiman bangsa Eropa (Europeesche woonwijk).
Sedangkan untuk rumah dokter atau dokterswoning, belum diperoleh tanggal tepat dimulainya pembangunan tersebut, sumber anonim menyebutkan tahun 1939.