Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mi Goreng vs Mi Kuah, Mana yang Lebih Sehat? Ini Perbedaannya
ilustrasi mie kuah (freepik.com/wirestock)
  • Kalori mi goreng dan mi kuah bergantung pada produk, ukuran porsi, bumbu, serta bahan tambahan; kuah hanya menambah volume tanpa otomatis menambah atau mengurangi kalori.
  • Mi goreng tidak selalu lebih tinggi lemak, sementara mi kuah tidak selalu lebih rendah natrium; kandungan keduanya ditentukan formulasi produk dan cara penyajian, termasuk penggunaan minyak serta bumbu.
  • Kedua jenis mi instan perlu dilengkapi protein dan sayuran; periksa label gizi setara, batasi bumbu bila perlu, dan jangan menjadikannya satu-satunya makanan rutin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mi instan menjadi salah satu makanan praktis yang digemari banyak orang. Selain mudah dibuat, makanan ini memiliki beragam varian rasa, mulai dari mi goreng hingga mi kuah.

Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya, mana yang lebih baik dari sisi kandungan gizi? Sebagian orang menganggap mi kuah lebih sehat karena disajikan bersama air, sedangkan mi goreng dinilai lebih tinggi lemak karena menggunakan minyak. Padahal, perbedaan kandungan gizi keduanya tidak sesederhana itu.

Kandungan gizi mi instan bergantung pada merek, varian rasa, ukuran porsi, bumbu, serta cara penyajiannya. Lantas, apa saja perbedaan mi goreng dan mi kuah dari sisi gizi? Simak penjelasannya berikut ini!

1. Kandungan kalori bergantung produk dan cara penyajian

Ilustrasi membuat mi rebus instan (pexels.com/@kent-ng-3491081)

Mi goreng dan mi kuah sama-sama dapat menjadi sumber energi karena mengandung karbohidrat dan lemak. Namun, jumlah kalori keduanya tidak selalu sama.

Mi goreng instan biasanya disajikan tanpa kuah setelah mi direbus dan ditiriskan. Sementara itu, mi kuah disajikan bersama air rebusan atau kuah yang telah diberi bumbu.

Meski terlihat lebih ringan, keberadaan kuah tidak otomatis membuat mi kuah memiliki kalori lebih rendah. Air memang menambah volume makanan, tetapi tidak menambah kalori secara berarti jika tidak mengandung bahan tambahan berenergi.

Untuk mengetahui perbedaannya secara akurat, kamu perlu membandingkan informasi nilai gizi pada kemasan kedua produk dengan ukuran porsi yang setara. Jika ingin menambah telur, ayam, atau bahan lainnya, jangan lupa memperhitungkan tambahan kalori dari bahan tersebut.

2. Kandungan lemak tidak selalu lebih tinggi pada mi goreng

ilustrasi mi goreng kecap ala Kanton (unsplash.com/tommao wang)

Mi goreng sering dianggap memiliki kandungan lemak lebih tinggi karena menggunakan minyak dalam proses penyajiannya. Anggapan ini tidak selalu benar jika yang dibandingkan adalah mi goreng dan mi kuah instan dalam kemasan.

Keduanya dapat mengandung lemak dari minyak yang digunakan dalam proses produksi mi, seperti penggorengan sebelum pengemasan, serta dari bumbu yang disertakan. Perbedaan kandungan lemak ditentukan oleh formulasi produk masing-masing.

Karena itu, mi goreng tidak otomatis lebih tinggi lemak daripada mi kuah. Cara penyajian juga berpengaruh. Menambahkan minyak, margarin, atau bahan berlemak lainnya dapat meningkatkan total lemak dalam satu porsi.

Jika ingin mengurangi asupan lemak, perhatikan jumlah lemak total pada label gizi dan hindari menambahkan minyak secara berlebihan.

3. Mi kuah bisa mengandung banyak natrium jika kuahnya dihabiskan

ilustrasi mie kuah (freepik.com/wirestock)

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan saat mengonsumsi mi instan adalah kandungan natrium atau sodium, yang banyak terdapat dalam garam dan bumbu penyedap. Natrium dibutuhkan tubuh dalam jumlah tertentu, tetapi konsumsi berlebihan secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

Pada mi goreng, bumbu biasanya dicampurkan langsung ke dalam mi. Sementara itu, pada mi kuah, bumbu dilarutkan ke dalam air sehingga natrium dapat tersebar di seluruh kuah.

Jika kamu menghabiskan seluruh kuah, kamu juga mengonsumsi natrium yang terlarut di dalamnya. Namun, bukan berarti mi kuah selalu mengandung natrium lebih banyak daripada mi goreng. Jumlahnya tetap bergantung pada produk dan bumbu yang digunakan.

Untuk membantu mengendalikan asupan natrium, kamu bisa menggunakan sebagian bumbu saja. Cara ini dapat mengurangi natrium yang dikonsumsi, meskipun jumlah pengurangannya bergantung pada komposisi bumbu dan produk.

4. Keduanya sama-sama perlu dilengkapi dengan sumber protein dan serat

Ilustrasi bahan mie kuah ala ramen (pexels.com/Towfiqu Barbhuiya)

Mi instan umumnya didominasi oleh karbohidrat dan belum tentu menyediakan protein, serat, vitamin, serta mineral dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam satu kali makan. Karena itu, memilih mi goreng atau mi kuah bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.

Komposisi makanan secara keseluruhan juga penting. Kamu bisa menambahkan telur, ayam, ikan, tahu, atau tempe sebagai sumber protein.

Sementara itu, sayuran seperti sawi, wortel, bayam, dan kol dapat membantu menambah asupan serat serta berbagai vitamin dan mineral. Penambahan bahan-bahan tersebut membuat menu lebih beragam secara gizi.

Namun, tetap perhatikan jumlah minyak, garam, saus, dan bumbu tambahan agar kandungan lemak serta natriumnya tidak berlebihan. Dengan begitu, kamu tidak hanya merasa kenyang, tetapi juga mendapatkan asupan zat gizi yang lebih beragam.

5. Mana yang lebih Sehat, mi goreng atau mi kuah?

ilustrasi mie kuah (unsplash.com/Kouji Tsuru)

Tidak ada jawaban mutlak mi goreng selalu lebih buruk atau mi kuah selalu lebih sehat. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan yang bergantung pada kandungan gizi produk, porsi, bumbu, serta bahan tambahan.

Jika ingin membandingkan dua produk, periksa jumlah kalori, lemak total, protein, serat, dan natrium pada label informasi nilai gizi. Pastikan ukuran saji yang dibandingkan setara agar hasilnya tidak menyesatkan.

Kamu juga bisa membuat mi instan menjadi pilihan yang lebih seimbang dengan menambahkan protein dan sayuran, mengurangi penggunaan bumbu jika diperlukan, serta membatasi konsumsi mi instan agar tidak menggantikan makanan beragam setiap hari.

Perlu diingat, mi instan boleh menjadi bagian dari pola makan, tetapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya sumber makanan secara rutin.

Perbedaan mi goreng dan mi kuah dari sisi kandungan gizi tidak bisa ditentukan hanya dari ada atau tidaknya kuah. Kalori, lemak, dan natrium pada keduanya dipengaruhi oleh formulasi produk, ukuran porsi, serta cara penyajian.

Mi kuah tidak otomatis lebih rendah kalori, sedangkan mi goreng tidak selalu memiliki kandungan lemak lebih tinggi. Keduanya juga perlu dilengkapi dengan sumber protein dan sayuran agar menu lebih beragam secara gizi.

Jadi, daripada hanya memilih antara mi goreng atau mi kuah, perhatikan kandungan gizi pada kemasan, atur penggunaan bumbu, dan lengkapi hidangan dengan bahan makanan bergizi lainnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article