Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Warga Blokade Akses Jalan SMAN 1 Labuhanratu, Kecewa Hasil Zonasi SPMB
Aksi blokade jalan dilakukan oleh warga menyoal kekecewaan terhadap hasil SMPB di SMAN 1 Labuhanratu. (IDN Times/Istimewa).
  • Warga Desa Pulau Sari memblokade akses jalan menuju SMAN 1 Labuhanratu sebagai bentuk protes terhadap hasil penerimaan siswa baru tahun 2026.
  • Aksi ini dipicu karena tiga calon siswa yang tinggal hanya 20–50 meter dari sekolah tidak lolos seleksi meski masyarakat merasa seharusnya mendapat prioritas zonasi.
  • Warga menutup jalan, drainase, serta melarang penggunaan fasilitas umum seperti masjid dan musala untuk kegiatan sekolah hingga ada tanggapan dari pihak sekolah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Timur, IDN Times - Warga Desa Pulau Sari, Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur melakukan blokade jalan menuju ke Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Labuhanratu. Aksi ini sebagai bentuk protes terhadap Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di sekolah setempat.

Berdasarkan dokumentasi diterima IDN Times, rekaman video menampilkan sebuah spanduk putih bertuliskan "PERINGATAN!!!" dengan huruf merah tebal. Di bawahnya terdapat maklumat dari Masyarakat Dusun Pulau Sari ditujukan kepada seluruh siswa dan guru SMAN 1 Labuhan Ratu.

Maklumat tersebut berisi 4 poin larangan terkait penggunaan fasilitas masyarakat, penutupan akses jalan, penutupan jalur air (drainase), serta larangan penggunaan fasilitas umum (masjid/mushola) saat acara kemah. Di bagian bawah tertulis bahwa keputusan ini dibuat dan disetujui atas nama masyarakat. Spanduk ini dipasang pada pagar bambu membentangi jalan.

1. Jalan ditutup barikade bumbu dan dedaunan kering

Aksi blokade jalan dilakukan oleh warga menyoal kekecewaan terhadap hasil SMPB di SMAN 1 Labuhanratu. (IDN Times/Istimewa).

Dalam rekaman video lainnya, menampilkan spanduk kedua yang dipasang telat di sebelah spanduk pertama. Spanduk ini berwarna kuning-hitam dengan tulisan "WARNING!!! JALAN INI DITUTUP SEMENTARA OLEH MASYARAKAT YANG (KATANYA) KURANG BERPENDIDIKAN". Terdapat simbol dilarang masuk di sisi kiri dan kanan tulisan tersebut.

Tak hanya itu, rekaman turut menampilkan kondisi jalan tanah di samping bangunan sekolah yang ditutup menggunakan barikade dari tumpukan bambu dan dedaunan kering. Di dinding pagar sekolah, terlihat plang kecil berwarna kuning bertuliskan tata tertib sekolah mengenai jam penutupan gerbang.

2. Warga protes tiga anak sekitar sekolah tak diterima SPMB

Perwakilan warga Desa Pulau Sari, Teguh. (IDN Times/Istimewa).

Perwakilan warga Desa Pulau Sari, Teguh mengatakan, aksi penutupan akses jalan dilakukan sebagai bentuk protes terhadap hasil SPMB 2026 di SMAN 1 Labuhanratu. Menurutnya, terdapat tiga calon siswa tinggal sangat dekat dengan sekolah, namun tidak lolos seleksi.

Selain itu, ia menyebut ketiga calon siswa tersebut diketahui berdomisili hanya sekitar 20 hingga 50 meter dari lingkungan sekolah. Padahal, masyarakat selama ini meyakini keberadaan sekolah tersebut sejak awal diprioritaskan untuk menampung anak-anak di sekitar lingkungan sekolah.

"Karena salah satu sistem zonasi itu, anak sekitar paling 20 meter sampai 50 meter gak keterima. Ada tiga anak. Dulu ada perjanjian lisan kalau pendirian SMA Negeri di sini memprioritaskan anak sekitar," ujarnya dimintai keterangan, Sabtu (18/7/2026).

3. Tutup akses jalan hingga larang penggunaan fasilitas lingkungan

Aksi blokade jalan dilakukan oleh warga menyoal kekecewaan terhadap hasil SMPB di SMAN 1 Labuhanratu. (IDN Times/Istimewa).

Lebih lanjut bentuk protes warga diwujudkan dengan menutup akses jalan selama ini digunakan sebagai jalur keluar masuk menuju sekolah. Menurut Teguh, jalan tersebut merupakan milik warga sehingga masyarakat memutuskan untuk menutup sementara akses tersebut.

Selain itu, warga juga melarang penggunaan sejumlah fasilitas lingkungan, seperti masjid dan musala untuk kegiatan sekolah, termasuk aktivitas saat perkemahan. Bahkan, masyarakat turut menutup jalur drainase sebagai bagian dari aksi protes.

Meski demikian, ia mengaku hingga kini belum ada komunikasi lanjutan antara masyarakat dengan pihak sekolah. Warga sebelumnya telah meminta kepala sekolah menemui massa untuk mendengarkan aspirasi, namun permintaan tersebut belum dipenuhi.

"Kami minta kepala sekolah keluar mendengarkan aspirasi masyarakat, tapi tidak keluar. Harapan kami ke depan, anak-anak warga sekitar kembali diprioritaskan agar bisa bersekolah di SMAN 1 Labuhanratu," imbuhnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article