Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Status Anak Krakatau Siaga, BPBD Lampung: Abu Vulkanik Belum Berdampak

Bandar Lampung
2 min read
Status Anak Krakatau Siaga, BPBD Lampung: Abu Vulkanik Belum Berdampak
Tangkap layar aktivitas Gunung Anak Krakatau, Sabtu (10/10/2026) pukul 18.28 WIB. (Dok. Badan Geologi).
  • Status Gunung Anak Krakatau naik dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga sejak 9 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, menyusul evaluasi peningkatan aktivitas vulkanik.

  • Pada 9 Oktober hingga pukul 19.20 WIB, tercatat sembilan erupsi dengan amplitudo maksimum 55 milimeter dan durasi 32 detik; tinggi kolom erupsi tidak teramati.

  • Masyarakat dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer, sementara abu vulkanik hingga 10 Oktober pukul 07.00 WIB belum berdampak langsung ke Lampung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Masyarakat di Provinsi Lampung diminta meningkatkan kewaspadaan imbas kenaikan status aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Peningkatan status tersebut berlaku sejak Jumat (9/10/2026) pukul 21.00 WIB.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi resmi terkait aktivitas vulkanik gunung berapi di perairan Selat Sunda tersebut.

"BPBD Provinsi Lampung mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi atau hoaks," ujarnya dikonfirmasi, Sabtu (10/10/2026).

  1. 1. Gunung Anak Krakatau erupsi 9 kali

    IMG_20261010_105146.jpg
    Tangkap layar aktivitas Gunung Anak Krakatau, Sabtu (10/10/2026) pukul 18.28 WIB

    Berdasarkan hasil pemantauan, Aswarodi menyebutkan, peningkatan status Gunung Anak Krakatau ditetapkan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi terhadap perkembangan terkini aktivitas vulkanik.

    Pada Jumat (9/10/2026) hingga pukul 19.20 WIB, tercatat sembilan kali erupsi dengan amplitudo maksimum 55 milimeter dan durasi erupsi mencapai 32 detik. Namun, tinggi kolom erupsi tidak teramati.

    "Pemantauan melalui RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan fluktuasi dengan energi relatif rendah. Sementara itu, data tiltmeter Stasiun Tanjung periode 21 September hingga 9 Oktober 2026 memperlihatkan pola fluktuatif dengan kecenderungan mendatar pada komponen Y," jelasnya.

  2. 2. Warga diminta mewaspadai potensi bahaya erupsi

    Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036)
    Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036). (Dok. BPBD Lampung).

    Sejalan dengan kondisi tersebut, Aswarodi menegaskan, masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki maupun melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.

    Selain itu, masyarakat perlu mewaspadai potensi lontaran batu pijar, hujan abu vulkanik lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak material lava bersuhu tinggi dengan air laut maupun air hujan.

    "Apabila terjadi erupsi berkepanjangan, terutama saat aktivitas erupsi masih berlangsung, masyarakat diimbau menyiapkan dan menggunakan masker sesuai kondisi paparan abu vulkanik," ucap dia.

  3. 3. Abu vulkanik belum berdampak ke Lampung

    Kaca kendaraan warga Bandar Lampung masih terdampak debu dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
    Kaca kendaraan warga Bandar Lampung masih terdampak debu dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

    Berdasarkan pemantauan citra satelit melalui Terminal BMKG Lampung hingga Sabtu (10/10/2026) pukul 07.00 WIB, Aswarodi menambahkan, abu vulkanik terpantau belum berdampak langsung terhadap wilayah Provinsi Lampung.

    Selain itu, BPBD Provinsi Lampung terus mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai atau menyebarkan informasi belum terverifikasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dapat dipantau melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta pembaruan informasi dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung.

    "Masyarakat diharapkan tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti arahan instansi berwenang guna mengantisipasi potensi bahaya akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau," imbuh Aswarodi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More