Lampung Barat, IDN Times - Pagi belum sepenuhnya membuka mata ketika Heri Mulyadi mulai menapaki hari. Di atas sepeda motornya, petani alpukat dan kakao asal Pekon Suka Maju, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat itu berkendara menyusuri jalan menuju kebun, tempat harapan tumbuh di antara pepohonan dan tanah yang ia rawat dengan kesabaran.
Dahulu, perjalanan berkendara motor ke kebun bukan satu-satunya urusan yang harus ia pikirkan. Ada pula hal lain yaitu bahan bakar yang kerap menyita waktu dan tenaga. Ketika tangki motornya mulai menipis, Heri hanya punya dua pilihan, membeli Pertalite eceran dengan harga yang belum tentu bersahabat, atau menempuh perjalanan 35 Kilometer (Km) atau sekitar satu setengah jam menuju SPBU di Kota Liwa.
Kini, keadaan itu perlahan berubah. Kehadiran SPBU Satu Harga 26.348.13 yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya membawa kelegaan tersendiri bagi Heri. “Tak perlu lagi tempuh satu setengah jam dari rumah ke Liwa isi bensin. Sekarang jarak (SPBU Satu Harga) cuma 500 meter dari rumah,” jelasnya saat diwawancarai IDN Times, Kamis (17/9/2026).
Hadirnya SPBU Satu harga menurut Heri, selain untuk transportasi mengantar hasil bumi, bahan bakar juga digunakan untuk perawatan kebun. “Saya pakai untuk alat steam perawatan kebun alpukat dan cokelat butuh BBM juga,” katanya.
Selain lokasi SPBU Satu Harga jaraknya dekat dengan tempat tinggal, Heri mengatakan ia bisa menghemat hingga Rp50 ribu per satu kali isi bahan bakar Pertalite. “Efisien ini dalam artian, kalau beli (bensin) eceran rata-rata 13 ribu atau 14 ribu per liter lebih mahal dari harga resmi 10 ribu per liter. Kalau isi bensin di Liwa, selain waktu, juga keluar uang untuk biaya lainnya,” ujarnya.
Hadirnya SPBU Satu Harga di Pekon Suka Maju, pria berusia 40 tahun ini kini rata-rata mengisi BBM Pertalite tiga liter. Terkadang, saat Pertalite tidak tersedia, ia membeli Pertamax. “Kalau ditanya kendala BBM Satu Harga di sini, dalam sebulan mesti ada dua sampai tiga hari stok (Pertalite) kosong, gak masalah juga isi Pertamax,” kata Heri.
