Semangat Belajar Alam, Mahasiswa Unila Malah Alami Kekerasan Diksar

- Faris dan lima rekannya mengalami kekerasan fisik dan psikis saat mengikuti pendidikan dasar Mahepel
- Para peserta diturunkan di masjid sebelum menempuh perjalanan kaki selama 15 jam menuju lokasi Diksar, dan mengalami kekerasan serta kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar
- Tim investigasi independen Unila akan menyelidiki kasus ini, dengan kemungkinan pemberian sanksi kepada organisasi pelaku jika terbukti melakukan pelanggaran berat
Bandar Lampung, IDN Times - Masih terekam jelas dalam ingatan Faris, saat pertama kali mendaftar ke Organisasi Mahasiswa Ekonomi Pecinta Lingkungan (Mahepel) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung. Ia disambut hangat—duduk di dalam sekretariat, ditemani segelas sirup manis dan sepiring gorengan. Suasana akrab itu membuatnya yakin, inilah rumah baru yang akan ia perjuangkan.
Tapi keyakinan itu tak bertahan lama. Beberapa waktu kemudian, saat mengikuti kegiatan pendidikan dasar (diksar) untuk menjadi anggota tetap organisasi tersebut, semuanya berubah. Bukan alam yang menyambut, melainkan tekanan, bentakan, dan dugaan kekerasan.
Pengalaman pahit itu bukan hanya milik Faris. Lima rekannya seangkatan dalam pendidikan dasar Mahepel juga merasakan luka yang sama. Bukan luka karena tergelincir di hutan atau jatuh di tepi sungai, tapi karena tamparan, tendangan, dan terjangan kaki yang menghantam perut mereka—berulang kali.
1. 15 Jam jalan kaki dan push-up berseri

Kepada IDN Times, Faris menceritakan situasi mencekam yang dialaminya saat mengikuti Diksar selama 4 hari, yakni sejak 11-14 November 2024. Berangkat pada malam hari, ia bersama lima temannya naik mobil pikap yang membawa mereka menuju Desa Talang Mulya, Kabupaten Pesawaran, Lampung, yang menjadi lokasi Diksar.
Namun, rasa curiga mulai muncul saat mereka diturunkan di sebuah masjid yang disebut sebagai titik awal keberangkatan menuju lokasi. Ternyata, dari titik tersebut mereka harus menempuh perjalanan kaki selama 15 jam untuk sampai ke lokasi Diksar.
"Kalian akan menyelesaikan apa yang kalian mulai. Ingat kalian ini enam orang satu badan," kata Faris menirukan perkataan seniornya sebelum melakukan perjalanan ke lokasi Diksar, Jumat (30/5/2025).
Menurut Faris, sebelum berangkat, peserta diminta mengumpulkan HP dan dompet. Lalu mereka di suruh jalan kaki mengikuti petunjuk dari seniornya. Karena dianggap memiliki fisik paling kuat, Faris pun ditunjuk sebagai ketua lapangan atau sebutannya jenderal lapangan. Tugas tambahannya cukup berat, setiap satu jam sekali, ia harus membuat laporan bahwa dirinya dan lima rekannya dalam keadaan baik-baik saja.
Di awal perjalanan, Faris mengaku semuanya masih berjalan normal. Jika lelah, peserta diperbolehkan beristirahat sejenak sambil makan camilan masing-masing. Namun, tetap ada hukuman seri yang harus dijalani jika melakukan kesalahan. Setiap satu kesalahan dihitung sebagai satu seri, dan setiap seri itu dihukum 25 kali push-up.
2. Stok logistik menipis, makan nasi setengah beras dan tak sadar minum spiritus

Menurut Faris, situasi mulai terasa mencekam saat memasuki hari kedua pelaksanaan Diksar. Pagi hari setelah sarapan, para senior Mahepel mulai menunjukkan sikap yang jauh lebih tegas dibanding hari sebelumnya. Tak hanya itu, stok makanan para peserta pun diketahui banyak yang hilang. Artinya, mereka harus menghemat sisa logistik untuk bertahan hingga acara selesai.
Masa-masa tersulit, selain dapat kekerasan fisik, menurut Faris adalah menahan haus dan lapar karena harus benar-benar hemat makanan. Selain itu, waktu memasak yang hanya sedikit membuat mereka harus makan nasi setengah beras karena belum sampai matang.
"Walaupun pengen muntah kami makan saja karena kalau sampai muntah malah kena hukuman lagi," keluhnya.
Bahkan, karena kehausan yang tak tertahankan, Faris mengaku rela minum air dari kubangan sawah. Kondisi semakin memprihatinkan ketika salah satu temannya, Pratama, tanpa sadar meminum cairan yang ternyata adalah spiritus.
“Teman saya itu, si Pratama, malah gak sadar kalau yang dia minum itu spiritus. Soalnya stok minum kami awalnya ada 24 botol, tapi hilang sisa dua botol. Makanya kami benar-benar harus hemat air minum,” ucapnya.
Faris mengakui, selama Diksar mereka memang mendapatkan materi seputar alam dan cara bertahan hidup di hutan. Mulai dari mengenali sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan, hingga membuat tenda darurat dari bahan yang tersedia di sekitar mereka.
“Jadi waktu di sana itu, kami gak pakai tenda yang kami bawa tapi bikin pakai kayu dari hutan. Alas tidurnya bisa pakai batu atau tanah yang ada di sana. Terus waktu bahan makanan habis kami makan daun-daun yang ada di hutan. Sampai saya juga makan buah beracun,” ujarnya.
Lebih lanjut, Faris menceritakan, semakin sore situasinya semakin mencekam. Sejak pukul 15.00-22.00, kegiatan Diksar diwarnai berbagai perlakuan kasar. Para peserta, kata Faris, ditendang, ditampar berulang kali, dipaksa merangkak di area sawah sampai ada kuku kaki yang lepas, sambil diteriaki para senior.
“Woy dek, kalian ini lemah banget! Mana semangatnya?!” kata Faris menirukan suara para senior.
Faris mengatakan perutnya sempat dipukul. Temannya, Pratama, bahkan mendapat perlakuan lebih parah karena dianggap paling lemah. Bahkan menurut Faris, ada yang nampar di bagian kepalanya sampai telinga kirinya berdengung dan sempat tak bisa mendengar. Kondisi itu membuatnya harus menjalani perawatan medis setelah pulang diksar, karena selama enam minggu gendang telinganya mengalami masalah.
“Waktu perut kami dipukul itu, dok, dok gitu. Si Pratama sempat mengelak, tapi malah ditendang sampai jatuh. Kami langsung bantu dia berdiri,” tuturnya.
Di tengah situasi yang mencekam itu, Faris mencoba menyemangati teman-temannya. Namun menurutnya percuma, karena yang di pikiran teman-temannya hanya ingin pulang.
"Kami sempat kepikiran mau kabur tapi kami gak tau jalan pulang, jadi kami takut tersesat. Kan saya pernah suruh teriak kencang sama seniornya, dan ternyata gak ada yang dengar. Makanya terpaksa kami ikuti kegiatan sampai akhir," terangnya.
3. Malam terakhir jadi puncak kekerasan

Menurut Faris, malam terakhir diksar justru menjadi puncak dari semua perlakuan kasar yang mereka terima. Sekitar 20 alumni organisasi datang ke lokasi dan sebagian ikut melakukan kekerasan terhadap para peserta.
"Di malam terakhir itu alumni datang. Nah, itu ujian akhir kami—harus hafal nama-nama alumni dari tahun 1997 sampai sekarang. Kalau gak hafal, ya dihukum lagi," kenang Faris dengan nada pahit.
Usai acara kenalan tersebut memang sempat disuruh tidur, namun Faris mengatakan para peserta justru dibangunkan secara kasar di tengah malam. Tenda mereka dirobohkan sambil diteriaki, lalu dipaksa berjalan menuju sejumlah pos yang sudah dijaga para alumni. Di setiap pos, mereka kembali menerima tekanan, baik secara fisik maupun verbal.
"Woy dek, kamu jangan coba-coba kabur atau cerita-cerita ya kalau pulang dari sini. Kami tahu alamat kamu lho, nanti bisa kami cari, pasti ketemu," kata Faris menirukan ancaman yang ia dengar langsung.
Ancaman itu membekas dan membuat mereka bungkam setelah kegiatan berakhir.
"Makanya pulang Diksar itu kami belum berani lapor, karena takut," ujarnya.
Tak berhenti sampai di situ, Faris mengungkap masih ada pos yang menguji mental dan fisik peserta. Di pos ini, perlakuan yang mereka terima jauh lebih keras dibanding sebelumnya.
"Pukulannya beneran keras banget. Kami disuruh angkat tangan terus dipukul, dok, dok, keras banget," ujar Faris.
Ia menyebut, malam itu menjadi titik paling menyakitkan secara fisik. Ditampar di muka, dipukul di dada sangat keras, membuat fisiknya benar-benar hancur lebur.
4. Diancam bisa jadi mahasiswa hilang, Faris pilih keluar dari Unila

Satu minggu setelah mengalami kekerasan fisik dan psikis selama kegiatan diksar, Faris akhirnya memberanikan diri untuk melapor. Namun jalan menuju keadilan tidak mudah dan justru dipenuhi tekanan baru.
"Saya coba lapor ke dekanat FEB. Tapi lima teman saya yang lain gak mau. Mereka takut," ujar Faris.
Proses pelaporan pun tidak langsung sampai ke Dekan. Faris mengatakan, butuh waktu sekitar satu minggu hingga ceritanya akhirnya didengar oleh Wakil Dekan III. Saat itu, ada anggota BEM yang juga hadir di ruangan, tapi mereka hanya diam. Menurut Faris, diamnya mereka karena diminta oleh pihak kampus. Setelah laporan diterima, organisasi Mapala yang terlibat akhirnya dipanggil. Namun sanksi yang diberikan dinilai sangat ringan.
"Cuma disuruh bersihin embung dan diingetin buat gak ngulangin lagi. Terus disuruh tanggung biaya pengobatan. Tapi yang dibayarin cuma saya, karena cuma saya yang melapor. Padahal teman-teman saya ada yang lukanya lebih parah, tapi mereka gak di biayai," katanya.
Menurut Faris, biaya pengobatan sebesar Rp2 juta yang seharusnya dibayar bertahap Rp500 ribu per minggu pun baru dibayarkan satu kali, itupun tiga bulan kemudian setelah ia menagih.
Merasa hukuman yang diberikan tidak adil, Faris mencoba speak up kembali pada Desember 2023. Ia menceritakan kejadian itu ke media kampus. Namun belum selesai berbicara, ia langsung dipanggil dua orang senior Mahepel.
"Kata mereka: 'Dek, dek, mulutmu harimaumu. Kami ini sayang sama kalian, kalian tetap bagian dari Mahepel. Kami cuma takut kamu kenapa-kenapa nanti. Kamu tuh udah jadi alat politik. Kamu pernah denger mahasiswa hilang? Nah, itu bisa kejadian ke kamu,'" ungkap Faris menirukan ancaman.
Meskipun disampaikan dengan suara pelan, Faris merasa ancaman itu sangat nyata. Ia seolah diperingatkan bahwa bisa jadi korban berikutnya. Tak hanya itu, Faris juga diminta menandatangani surat pernyataan dari pihak kemahasiswaan yang menyatakan bahwa ia "ikhlas" mengikuti kegiatan dan tidak akan menuntut. Semua peserta menandatangani, kecuali dia.
"Saya gak ikhlas. Teman-teman saya mau ini cepat selesai, tapi saya mau mereka diadili," katanya tegas.
Faris menyebut ada pernyataan tidak langsung dari pihak kampus bahwa jika ia tidak menandatangani surat itu, mereka tidak akan membantunya jika di kemudian hari ada masalah terkait beasiswa atau nilai akademik. Tekanan demi tekanan membuat Faris memilih berhenti speak up pada akhir tahun lalu. Ia merasa sendirian dan mentalnya jatuh.
Namun beberapa bulan kemudian, kasus ini kembali diangkat oleh teman-teman BEM FEB lewat aksi yang sampai ke tingkat rektorat. Faris melihat ini sebagai momentum baru.
"Sekarang saya gak mau kehilangan kesempatan lagi. Tapi karena kasus ini naik lagi, saya malah jadi target. Dikiranya saya pemicunya. Saya dicari, di-chat, jadi sasaran," katanya.
Faris mengaku khawatir jika terus bertahan di Unila ia akan kembali mendapat tekanan atau bahkan ancaman.
"Daripada saya dapat ancaman lagi, ngapain saya kuliah di Unila? Saya keluar aja. Iya, saya udah berhenti kuliah dari Unila sejak dua minggu lalu. Saya capek mikirinnya. Orang tua juga udah gak mau ngurusin kayak gini, mereka malah dukung saya buat pindah kampus," ujarnya pelan.
5. Berangkat mau belajar alam, pulangnya luka-luka dan dendam

Pengalaman pahit selama Diksar juga dialami peserta lain, FN (nama disamarkan), yang mengaku kecewa berat dengan perlakuan yang diterima selama kegiatan.
“Awalnya aku tertarik gabung Mahepel karena pengen naik gunung atau ke laut. Kukira belajar soal alam gitu. Tapi ternyata malah ada kekerasan,” kata FN kepada IDN Times.
FN mengaku sejak awal sebenarnya sudah ragu ikut kegiatan. Mereka berangkat pukul 21.00 dari kampus dan harus berjalan selama 15 jam di medan berat sambil membawa tas carrier besar.
“Baru dua jam jalan aku udah muntah-muntah. Aku bilang ke seniornya gak kuat, pengen berhenti, tapi tetap dipaksa. Mereka kasih motivasi biar lanjut,” kenangnya.
Menurut FN, kekerasan paling parah datang saat mereka berada di lokasi pelatihan, yang disebut sebagai basecamp Mahepel di tengah hutan. Bahkan, ia masih mengingat jelas momen paling menyakitkan.
“Kami disuruh merangkak muter-muter sekitar sejam di kubangan air kayak sawah, tapi bawahnya ada batu-batu. Tanganku, siku, sampai perut luka semua. Kepala juga ditekan masuk ke air. Terus yang paling sakit, perut saya diterjang pakai kaki, keras banget,” ujarnya.
Namun, FN mengaku baru menyadari kondisi tubuhnya penuh luka setelah kembali ke rumah.
“Berangkat mah masih seneng-seneng, kirain bakal belajar soal alam. Tapi pulangnya hancur, gak sesuai ekspektasi,” kata FN.
Menurut FN, ia dan Faris menjadi dua dari enam peserta yang berani bersuara. Ia mengajak rekan-rekan lain untuk ikut menyuarakan kasus ini saat aksi dilakukan di kampus, tapi tak mendapat respons.
“Alasannya sibuk. Akhirnya cuma aku sama Faris yang speak up. Teman-teman lain diem aja. Bahkan siang tadi kita udah di-kick dari grup besar Mahepel,” ujarnya.
6. Pihak organisasi dinilai tak bertanggung jawab

FN juga mengungkap rasa kecewanya terhadap sikap Mahepel setelah kasus ini dilaporkan. Menurutnya, sanksi yang diberikan pihak kampus sangat ringan dan tak sebanding dengan apa yang dialami para peserta.
“Mereka cuma disuruh bersihin embung. Tapi malah ngajak kita juga ikut bersihin. Kok bisa? Hukuman buat mereka aja ringan, malah ngajakin kita,” katanya kesal.
FN menyebut tak ada tanggung jawab yang jelas soal biaya pengobatan, termasuk untuk Faris yang mengajukan klaim. Ia pun merasa, tidak ada rasa bersalah dari pihak organisasi. Bahkan saat salah satu peserta, Pratama, meninggal dunia, FN mendengar dari ibunda Pratama bahwa pihak Mahepel tidak sempat menemui langsung orangtuanya.
“Mereka cuma datang melayat buat foto-foto. Tapi gak ada yang salaman atau ketemu langsung sama keluarganya,” ujar FN.
Kini, FN memilih tak lagi berhubungan dengan organisasi tersebut. Ia mengaku menyimpan dendam terhadap sistem Diksar yang menurutnya menyiksa fisik dan mental.
7. Sempat mandek, kasus kembali diangkat BEM FEB Unila

Diketahui, kasus yang sempat mandek pada akhir tahun lalu itu kembali diangkat lewat aksi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB Unila beberapa waktu lalu. Menurut Zidan, Koordinator Aksi, gerakan ini bermula dari forum konsolidasi biasa yang diadakan BEM FEB Unila.
“Awalnya kami hanya membahas sarana-prasarana dan etika civitas akademika. Tapi kemudian, ada mahasiswa Bisnis Digital angkatan 2024 yang menyampaikan bahwa temannya meninggal setelah mengikuti Diksar salah satu organisasi mahasiswa,” jelas Zidan kepada IDN Times.
Pernyataan itu langsung mengubah arah forum. Mahasiswa mulai mencatat poin-poin penting dan menggali keterangan dari korban-korban lain yang pernah ikut Diksar.
“Setelah itu, kami adakan konsolidasi lanjutan untuk merumuskan tuntutan dan sikap. Hingga akhirnya aksi digelar hari Senin (26/05/2025 di gedung rektorat Unila,” terangnya.
Namun, sebelumnya BEM FEB juga sudah melakukan aksi ke pihak dekanat FEB. Mirisnya aksi tersebut justru disambut dengan sikap meremehkan.
“Kami dibilang masih belajar demo. Intinya aksi kami dianggap remeh,” lanjut Zidan.
Menurut Zidan, pihak dekanat berdalih bahwa kasus ini merupakan ranah aparat hukum. Jika korban ingin mengusut, kampus siap mengawal. Tapi bagi mahasiswa, tuntutan mereka lebih dari sekadar pengawalan hukum.
“Yang kami sorot adalah sikap kampus. Kenapa organisasi itu hanya diberi sanksi bersih-bersih embung? Tidak ada pembekuan, tidak ada surat peringatan, tidak ada investigasi lanjutan,” tegas Zidan.
Lebih jauh, ia juga menyoroti organisasi tersebut masih bisa mengakses dana kemahasiswaan dan tidak menghadapi sanksi administratif yang berarti. Padahal, menurut catatan mahasiswa, organisasi ini sudah beberapa kali terlibat kasus kekerasan sejak tahun 2019 karena selalu menggelar Diksar dalam setiap perekrutan.
8. Pratama jadi sasaran para senior saat diksar

Sementara itu, terkait dengan meninggalnya salah satu peserta Diksar, Pratama Wijaya Kusuma, diduga menjadi korban kekerasan dalam kegiatan Diksar Mahepel. Dua rekannya, FN dan Faris, mengungkapkan kondisi Pratama memburuk setelah mengikuti kegiatan tersebut. Menurut Faris, sebelum mengikuti Diksar, Pratama adalah mahasiswa yang rajin kuliah dan sehat.
“Dia sehat sebelum Diksar. Fisiknya memang lemah saat tes fisik, tapi kami tetap semangat ikut karena mengira bakal kemah seru-seruan,” ujar Faris saat diwawancarai.
Faris menceritakan bahwa saat kegiatan berlangsung, Pratama sering menjadi sasaran para senior karena dianggap paling lemah.
“Dia sering dimarahin. Kami bantu sebisa mungkin, bahkan bawain barang-barangnya. Di perjalanan menuju lokasi Diksar dia jalan pakai tongkat karna udah gak kuat jalan,” lanjut Faris.
Setelah mengikuti Diksar, kata Faris, kondisi Pratama terus memburuk. Ia mulai sering izin sakit dari kampus hingga akhirnya dikabarkan meninggal dunia pada 28 April 2025. Faris juga sempat berbicara dengan ibu almarhum dan mendapat informasi soal hasil pemeriksaan medis.
“Kata ibunya, dokter bilang ada tumor kecil di kepalanya, tapi itu bukan penyebab kematiannya. Yang bikin dia meninggal itu gumpalan darah di kepala. Itu akibat kejadian yang dia alami sebelumnya,” jelas Faris.
9. Unila siap membentuk tim investigasi

Menjawab aksi mahasiswa yang menuntut keadilan untuk Pratama, Wakil Rektor III Unila, Sunyono mengumumkan, pihak kampus telah membentuk tim investigasi yang akan segera bekerja mengusut kasus ini. Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Sunyono dalam audiensi bersama mahasiswa di depan Gedung Rektorat, pada Rabu (28/5/2025).
Sunyono menjelaskan, undangan pembentukan tim telah dikirimkan ke unsur PPKPT dan Ketua UPBK. Tim dijadwalkan terbentuk pada Senin mendatang, dan mulai bekerja pada hari Selasa. Ia menegaskan, pendekatan investigasi akan dilakukan secara hati-hati, terutama karena adanya kekhawatiran korban terhadap intimidasi.
“Tim investigasi bersifat independen dan tidak diumumkan ke publik untuk mencegah intervensi dari pihak luar. Sama seperti kepolisian,” katanya.
Sunyono menambahkan, jika dalam proses investigasi ditemukan pelanggaran, kampus akan memberikan sanksi sesuai Peraturan Rektor (Pertor) terkait etika organisasi dan perilaku mahasiswa. Sanksi bisa bersifat ringan, sedang, atau berat tergantung hasil temuan tim investigasi.
“Kalau pelanggaran terbukti sistemik atau berat, organisasi pelaku bisa dibekukan atau bahkan dibubarkan,” tambahnya.