Hanung Bramantyo hadir sebagai pembicara utama dalam sesi talkshow bertajuk “From Fact to Frame” dengan topik bahasan “Semiotika Sinema: Membaca Pesan Tersirat di Balik Lensa”. (Dok. Adhya Pictures dan Dapur Film).
Tak berhenti di bioskop, gelombang antusiasme berlanjut ke lingkungan akademisi. Bertempat di aula Universitas Bandar Lampung (UBL), Hanung Bramantyo hadir sebagai pembicara utama dalam sesi talkshow bertajuk “From Fact to Frame” dengan topik bahasan “Semiotika Sinema: Membaca Pesan Tersirat di Balik Lensa”.
Di hadapan ratusan mahasiswa, dosen, dan komunitas pegiat film lokal, Hanung membedah tuntas bagaimana sebuah kamera merangkai simbol fiksi tanpa mencederai sensitivitas sejarah bangsa.
“Film horor sering diremehkan hanya sebagai mesin pencipta kaget. Di ‘Lobang Buaya’, kami membuktikan sebaliknya: setiap sudut pengambilan gambar, pencahayaan temaram, hingga tata suara dirancang sebagai bahasa semiotika. Ada pesan tersirat tentang dendam, trauma, dan kritik kekuasaan yang harus dibaca penonton di balik lensa. Kamera adalah alat tafsir, bukan sekadar perekam,” tegas Hanung di hadapan audiens UBL.
Sesi diskusi interaktif tersebut disambut hangat oleh civitas akademika UBL. Dekan dan kalangan dosen mengapresiasi keberanian sang sutradara yang membuka ruang dialektika terbuka mengenai batasan etis antara rekonstruksi fiksi dan luka sejarah kolektif masyarakat.