Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gunung Anak Krakatau Erupsi 7 Kali, Ada Puluhan Gempa Hybrid Terekam
Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau, Minggu (18/10/2026). (Dok. Magma ESDM).
  • Gunung Anak Krakatau erupsi tujuh kali hingga Minggu malam, dengan kolom abu tertinggi 500 meter di atas puncak dan arah sebaran bervariasi.

  • Pemantauan merekam aktivitas kegempaan, termasuk 40 gempa hybrid, 17 vulkanik dangkal, enam low frequency, dua vulkanik dalam, serta empat gempa letusan.

  • Status Anak Krakatau berada di Level III atau Siaga; masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi dan area tertentu di pulau baru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Selatan, IDN Times - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan masih berlangsung hingga Minggu (18/10/2026) malam. Gunung api tersebut beberapa kali mengalami erupsi, termasuk dua letusan pada malam hari tidak terlihat secara visual.

Berdasarkan data diterima IDN Times, dua erupsi masing-masing terjadi pada pukul 22.22 WIB dan 22.25 WIB. Meski tidak teramati secara langsung, aktivitas tersebut tetap terekam oleh seismograf. Erupsi pukul 22.22 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 45 milimeter dengan durasi 100 detik. Sementara erupsi pada pukul 22.25 WIB masih berlangsung saat laporan pengamatan dibuat.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, pemantauan terus dilakukan melalui pengamatan visual maupun instrumen.

“Berdasarkan catatan pemantauan, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih terjadi hingga malam hari. Kami terus memantau setiap kejadian melalui pengamatan visual dan rekaman seismograf untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung,” ujarnya dikonfirmasi, Senin (19/10/2026).

1. Kolom abu sempat membubung 500 meter

Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau, Minggu (18/10/2026). (Dok. Magma ESDM).

Merujuk data 24 jam terakhir, aktivitas erupsi Anak Krakatau sebenarnya telah terpantau sejak menjelang siang. Pada pukul 11.44 WIB, kolom abu teramati mencapai sekitar 500 meter di atas puncak. Abu berwarna hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah utara.

Erupsi kembali terjadi pukul 12.01 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak. Erupsi tersebut terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 41 detik.

Selanjutnya, erupsi tercatat pada pukul 12.57 WIB dan 12.59 WIB. Kolom abu teramati sekitar 100 meter di atas puncak dengan warna kelabu hingga hitam dan bergerak ke arah timur laut.

Pada pukul 17.22 WIB, Anak Krakatau kembali erupsi. Kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak, berwarna kelabu hingga hitam, dengan intensitas tebal dan mengarah ke barat laut. Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 43 milimeter dengan durasi 24 detik.

2. Puluhan gempa hybrid terekam

Ilustrasi gempa. (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain erupsi, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau juga masih cukup aktif. Dalam periode pengamatan pukul 12.00-18.00 WIB, tercatat 40 gempa Hybrid atau Fase Banyak, 17 gempa Vulkanik Dangkal, enam gempa Low Frequency, dua gempa Vulkanik Dalam, satu gempa Hembusan, dan satu tremor menerus.

Laporan tersebut juga mencatat empat gempa letusan atau erupsi. Gempa Hybrid menjadi jenis kegempaan yang paling banyak terekam pada periode tersebut. Namun, jumlah maupun jenis gempa tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menyimpulkan adanya peningkatan aktivitas atau memprediksi kapan erupsi berikutnya terjadi.

“Ya, kegempaan Gunung Anak Krakatau juga masih terekam dengan beragam jenis gempa, termasuk gempa Hybrid, Vulkanik Dangkal, dan Low Frequency. Seluruh data tersebut menjadi bagian dari pemantauan untuk mengevaluasi perkembangan aktivitas gunung,” kata Suwarno.

3. Masyarakat dilarang mendekat radius 5 kilometer

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036). (Dok. BPBD Lampung).

Suwarno mengingatkan, Gunung Anak Krakatau saat ini berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki diminta mematuhi rekomendasi keselamatan yang berlaku.

Mereka dilarang memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau. Selain itu, terdapat larangan beraktivitas dalam radius 1 kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Anak Krakatau.

"Jangan memaksakan diri mendekati kawasan Anak Krakatau. Patuhi rekomendasi yang berlaku dan jangan memaksakan aktivitas di kawasan berbahaya demi keselamatan,” imbuhnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article