Gagas Teknologi Pengolah Limbah Detergen Tim Mahasiswa ITERA Raih Emas

Bandar Lampung, IDN Times - Menjadi mahasiswa memang tak hanya dituntut untuk belajar di dalam kelas saja. Tapi harus mampu mengasah kreativitas dan mengembangkannya supaya bermanfaat bagi masyarakat luas.
Seperti yang dilakukan tim mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA) ini. Mereka menggagas teknologi pengolah limbah detergen atau detergent reactor sebagai pencegahan pencemaran lingkungan.
Gagasan yang dirancang oleh Radisya Ikhsan (Teknik Lingkungan), Sephia Amanda Muhtar (Teknik Lingkungan), Natasya Salsabiila (Teknik Elektro), Elma Dyanatasha (Teknik Informatika), dan Muhammad Faturrachman S. (Teknik Informatika) ini berhasil membawa mereka meraih medali emas dalam festival penemuan dan inovasi internasional lho. Yuk simak cerita selengkapnya di bawah ini.
1. Olah limbah detergen jadi ramah lingkungan

Kompetisi tingkat internasional itu diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) melalui Khayyam International Invention & Innovation Festival (KIIIF) 2022. Kompetisi ini diikuti peserta mahasiswa dan peneliti umum dari berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, Turki, Tiongkok, Filipina, Polandia, Kazakstan, Amerika Serikat, Kanada, Turki, Qatar, Kroatia, dan Vietnam.
Dibimbing oleh dosen Teknik Lingkungan, Andika Munandar, tim mahasiswa menuangkan gagasan tersebut dalam karya bertajuk Detergent Reactor Integrated with Artificial Intelligence (AI) as Detergent Waste Treatment to Create Eco Laundry.
Ketua tim Radisya Ikhsan menyebut, penemuan dan inovasi digagas timnya muncul dari keresahan terhadap limbah detergen yang dihasilkan oleh industri laundry.
"Belum ada pengolahan signifikan terkait limbah detergen, jadi saya dan tim inisiatif menciptakan teknologi yang mampu melakukan pengolahan limbah detergen agar bersifat ramah lingkungan," terangnya.
2. Keunggulan detergent reactor

Menurutny,a detergent reactor telah didesain itu memiliki beberapa keunggulan, di antaranya, bersifat ekonomis karena menggunakan metode fotokatalitik TiO2-Bentonit, serta bersifat efisien karena terintegrasi dengan sistem kecerdasan buatan (AI).
"Teknologi detergent reactor berbentuk kubus dengan dimensi 1 m x 0,8 m x 1,15 m, serta bekerja dengan cara mereaksikan limbah detergen yang dialirkan dari mesin cuci dengan bahan kimia TiO2-Bentonit," paparnya.
Kemudian, lanjutnya, keluaran dari detergent reactor adalah senyawa karbon dioksida dan air dengan pH 9, dan nilai total dissolved solid (TDS), biochemixal oxygen demand (BOD), dan chemical oxygen demand (COD) yang relatif kecil, serta kandungan surfaktan yang relatif kecil, sehingga aman bagi lingkungan.
3. Berharap pelaku industri laundry gunakan detergent reactor

Lebih lanjut Radisya menjelaskan, sistem kecerdasan buatan (AI) berperan dalam pembukaan katup pipa masukan dan keluaran, pembukaan katup penampungan TiO2-Bentonit, serta proses pengolahan. Lalu detergent reactor dilengkapi dengan layar status untuk melakukan fungsi pengawasan komponen internal.
“Saya berharap detergent reactor ini digunakan oleh para pelaku industri laundry agar limbah detergen dapat diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Hal ini juga merupakan salah satu upaya kita untuk menjaga kelestarian lingkungan," harapnya.
4. Apresiasi dari dosen pembimbing

Sementara itu, dosen pembimbing mahasiswa, Andika Munandar mengapresiasi gagasan yang dibuat para mahasiswa ITERA. Andika menilai melalui kompetisi tersebut, mahasiswa dapat berlomba membuat inovasi serta berkarya untuk kemajuan teknologi Indonesia dan dunia.
“Semoga alat rancangan kami menjadi satu referensi terbaru bagi Indonesia dan dunia terkait upaya pengolahan limbah detergen,”ujar Andika.
Pihaknya berharap, prestasi dicapai tim mahasiswa ITERA dapat jadi penyemangat dan motivasi rekan-rekan mahasiswa lain untuk dapat menghasilkan karya bermanfaat.



















