Asa dan Harapan Calon Siswa Sekolah Rakyat di Bandar Lampung

- Khusnul Mubarok Arafah tinggal dalam keterbatasan ekonomi dan kehilangan orang tua sejak kecil.
- Khusnul merasa bersalah menjadi beban bagi keluarga bibinya, namun menerima tawaran untuk bergabung dengan program Sekolah Rakyat.
- Program Sekolah Rakyat juga diikuti oleh Riski Mubarok, yang memiliki cita-cita menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk membahagiakan orang tuanya.
Bandar Lampung, IDN Times - Di satu rumah semi permanen sempit berukuran sekitar 6 x 3,5 meter di Kelurahan Gunung Sulah, Kota Bandar Lampung tampak kehidupan salah satu keluarga sederhana penuh keterbatasan.
Dinding bangunan rumah hanya asbes dan triplek, lantainya bahkan beralaskan semen dingin. Di sanalah seorang anak remaja Khusnul Mubarok Arafah (15) tinggal bersama bibi, paman, kakak, dan dua sepupunya. Lima jiwa ini bertumpu pada penghasilan tak menentu.
Paman Khusnul bekerja serabutan dan sang bibi membuat kemplang demi menyambung hidup. Sejak kecil, Khusnul sudah mengenal kehilangan.
Ibunya meninggal saat ia masih di taman kanak-kanak. Sedangkan ayahnya pergi entah kemana meninggalkan tanggung jawab atas dirinya dan sang kakak.
“Dari kecil memang saya yang urus. Ibunya sudah gak ada, bapaknya gak pernah tahu kabarnya. Saya anggap dia anak saya sendiri," ujar Meliana, bibi Khusnul dimintai keterangan, Jumat (23/5/2025).
1. Tak ingin jadi beban keluarga

Di tengah kemiskinan dan keterbatasan, Khusnul tumbuh dengan perasaan bersalah. Di tahun ini, ia akan menamatkan pendidikan sekolah menengah di SMPN 44 Bandar Lampung. Keinginan kuat melanjutkan pendidikan sekolah menengah sempat tergoyahkan lantaran tidak ingin menjadi beban bagi keluarga bibinya.
“Saya gak tega. Bibi udah capek ngurus saya dan kakak, masih harus mikirin anaknya juga. Saya mikir lebih baik berhenti sekolah,” ucapnya lirih.
Namun harapan datang dari arah tak disangka-sangka. Suatu hari, ketua RT datang menawarkan program Sekolah Rakyat. Itu merupakan jenjang pendidikan gratis gagasan Presiden Prabowo Subianto yang sementara bakal memanfaatkan bangunan BPSDM Provinsi Lampung.
2. Bertekad membalas kasih dan sayang sang bibi

Bak doa dan keinginan melanjutkan jenjang pendidikan sekolah menengah, Khusnul kala itu tak pikir panjang langsung menerima tawaran tersebut. Itu dianggapnya sebagai sebuah keputusan penuh harapan dan keberanian.
Kini, ia bakal menjadi salah satu calon siswa Sekolah Rakyat di Provinsi Lampung untuk tahun ajaran 2025/2026. Tak ada lagi beban biaya, tak ada lagi rasa bersalah menghantui, yang tersisa hanya tekad untuk belajar, untuk bertahan, sampai suatu hari nanti dapat membalas kasih dan sayang sang bibi.
“Kalau saya bisa sekolah, saya janji akan sungguh-sungguh. Saya mau sukses. Saya mau bahagiakan bibi,” katanya.
3. Berharap kejar cita-cita lewat sekolah rakyat

Harapan menimba ilmu di Sekolah Rakyat juga datang dari calon siswa lainnya, Riski Mubarok (15). Kehadiran progam ini dianggap tak ubahnya sebagai anugerah di tengah-tengah benaknya mengubur mimpi melanjutkan bisa pendidikan sekolah menengah.
Lebih dari sekedar melanjutkan pendidikan, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi jalannya menggapai cita-cita mengabdikan diri sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) kelak dikemudian hari.
"Cita-cita saya menjadi tentara. Saya harap lewat sekolah rakyat ini saya pribadi menjadi lebih baik untuk menggapai cita-cita saya nanti," ucapnya dengan nada suara lantang.
4. Ingin membahagiakan dan mengangkat derajat orang tua

Di tengah himpitan ekonomi keluarga, Riski berharap besar program Sekolah Rakyat ini bisa benar-benar berjalan sesuai harapannya, sehingga membantunya mengejar impian membahagiakan dan mengangkat derajat orang tuanya.
"Pesan saya untuk teman-teman tetap semangat belajar, jangan menyerah terus berjuang," kata Rizki penuh semangat.