TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

NU-Muhammadiyah Lampung Sepakati Pemilu 2024 Wajib Kondusif

Ibaratkan Pemilu sebagai stasiun pemberhentian

Ilustrasi bilik suara pemilu. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Intinya Sih...

  • PWNU Lampung dan PW Muhammadiyah Lampung siap menindaklanjuti kesepakatan bersama pimpinan pusat untuk Pemilu 2024 yang jujur, adil, dan transparan.
  • Ketua PWNU Lampung mengajak warga NU untuk percaya pada penyelenggara pemilu dan berpartisipasi aktif tanpa golput.
  • PW Muhammadiyah Lampung memberikan arahan kepada masyarakat agar tidak golput, menjaga kondusifitas jelang Pemilu 2024, dan tidak terprovokasi dengan hoaks.

Bandar Lampung, IDN Times - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung dan Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Lampung bersiap menindaklanjuti kesepakatan bersama pimpinan pusat mengusung pelaksanaan Pemilu 2024 berlangsung jujur, adil dan transparan. 

Dua organisasi kemasyarakatan Islam besar Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah diketahui telah menjalin kesepakatan dan berharap Pemilu, khususnya pemilihan presiden tetap kondusif hingga seluruh prosesnya selesai.

NU dan Muhammadiyah mendorong agar proses pemilihan nanti dapat berlangsung dengan jujur, adil, dan transparan sesuai asas Pemilu telah disepakati bersama.

Baca Juga: Pergeseran Pasukan ke TPS, Kapolda Lampung Titip Pesan Ini ke Personel

1. Ajak masyarakat serahkan proses Pemilu kepada Bawaslu sebagai wasit

Ketua PWNU Lampung, KH Puji Raharjo. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Terkait kesepakatan tersebut, Ketua PWNU Lampung Puji Raharjo mengatakan, pihaknya mengajak masyarakat, khususnya warga NU untuk percaya dan menyerahkan proses pemilu pada para pihak penyelenggara pemilu, khususnya Bawaslu.

“Hasil final ada di Bawaslu dan yang bisa memberikan kartu kuning, merah, dan juga memberhentikan," ujarnya saat dimintai keterangan, Senin (12/2/2024).

Selain itu, penggunaan hak pilih masyarakat dalam Pemilu 2024 merupakan kewajiban, oleh karenanya berpartisipasi dan tidak golput amat sangat penting. "Pemilu damai harus berlangsung dengan hal-hal positif, tanpa adanya kebencian, dan isu SARA (suku, agama, ras dan antar golongan)," tambah dia.

2. Ibaratkan pemilu sebagai stasiun pemberhentian sesaat

ilustrasi surat suara pemilu (ommons.wikimedia.org/Komisi Pemilihan Umum)

Lebih lanjut secara spesifik dalam kesepakatan tersebut, Puji mengibaratkan, pemilu tak ubahnya seperti stasiun pemberhentian dan kereta api melintas kini tengah ditumpangi masyarakat se-Tanah Air untuk disinggahi.

Kendati demikian, ia mengingatkan, stasiun-stasiun pemberhentian itu bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat singgah sementara. Oleh karenanya, ia mengingatkan, masyarakat agar tidak melupakan sampai tujuan utama.

"Waktu berhenti di stasiun-stasiun tersebut, penumpang boleh beristirahat, makan, ataupun jajan atau belanja. Tapi ingat, agar jajan dilakukan dengan sekadarnya dan sewajarnya saja,” digambarkannya.

Berita Terkini Lainnya