Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
8 Aki Dicuri, 11 Panel Surya Rusak: Pemantauan Anak Krakatau Terkendala
Pos pemantauan GAK di Lampung Selatan. (Dok. Pos Pantau GAK)
  • Delapan aki berkapasitas 75 ampere dicuri dari delapan titik pemantauan Gunung Anak Krakatau, membatasi pasokan listrik untuk perangkat pemantauan.

  • Tim memasang dua aki yang tersedia untuk mengaktifkan sensor seismik, CCTV, dan radio telemetri, sementara perangkat lain belum dapat dioperasikan.

  • Sebelas panel surya rusak diduga akibat lontaran material erupsi, menyisakan tiga unit berfungsi; pemulihan dilakukan bertahap sambil menunggu arahan PVMBG soal pelaporan polisi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Selatan, IDN Times — Delapan aki yang menjadi sumber daya sejumlah perangkat pemantauan diketahui hilang. Sementara belasan panel surya juga mengalami kerusakan akibat material erupsi.

Hal itu membuat pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Lampung Selatan masih menghadapi kendala.

Kondisi tersebut juga membuat pemulihan peralatan pemantauan GAK belum bisa dilakukan secara menyeluruh.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan, kehilangan delapan aki diketahui setelah tim mengecek angsung ke kawasan GAK.

"Kemarin setelah tim mendatangi GAK, ada delapan unit accu (aki) yang hilang dicuri," kata Suwarno, Selasa (29/9/2026).

Menurutnya, aki tersebut dibutuhkan untuk memasok energi bagi sejumlah perangkat pemantauan aktivitas gunung api. Karena jumlah aki yang tersedia terbatas, tim harus menentukan peralatan yang diprioritaskan untuk kembali dioperasikan.

1. Sensor seismik hingga cctv jadi prioritas

Ilustrasi CCTV. (Pexels/ Jakub Zerdzicki)

Suwarno menjelaskan, untuk memulihkan sebagian sistem pemantauan, tim memasang dua aki yang tersedia di kawasan GAK.

Dua aki tersebut digunakan untuk mengaktifkan perangkat yang dianggap penting, mulai dari sensor seismik, CCTV, hingga radio telemetri.

"Jadi kemarin kita pasang dua accu, itu untuk menyalakan sensor seismik, CCTV, dan radio telemetri yang kemarin sempat rusak pada aktivitas erupsi," jelasnya.

Namun, langkah tersebut belum cukup untuk menghidupkan seluruh perangkat pemantauan. "Untuk sebagian sensor atau peralatan lain terpaksa tidak dipasang dulu karena sistem catu daya yang tidak cukup," ujarnya.

3. Aki hilang di delapan titik pemantauan

Alat pemantau GAK yang hilang. (Dok. Menara pengawas GAK)

Suwarno menyampaikan, delapan aki yang hilang masing-masing memiliki kapasitas 75 ampere. Perangkat tersebut ditemukan tidak berada di sejumlah titik pemantauan saat tim melakukan pengecekan sekaligus memperbaiki peralatan yang sebelumnya mengalami gangguan.

Suwarno menduga kehilangan terjadi setelah aktivitas erupsi mereda. Namun, pihaknya belum mengetahui secara pasti kapan aki tersebut hilang maupun siapa yang mengambilnya.

"Informasi kehilangan telah disampaikan kepada PVMBG di Bandung, Jawa Barat. Pos Pantau GAK masih menunggu arahan terkait langkah pelaporan resmi kepada kepolisian," tuturnya.

Sementara itu, pemulihan perangkat terus dilakukan dengan memprioritaskan peralatan yang dapat kembali mendukung pemantauan aktivitas GAK.

3. 11 panel surya juga rusak

ilustrasi panel surya (pexels.com/K)

Suwarno mengungkapkan, keterbatasan sumber daya tidak hanya disebabkan hilangnya aki. Tim juga menemukan kerusakan pada perangkat pembangkit listrik di kawasan GAK yakni sebelas panel surya

Suwarno menduga kerusakan tersebut terjadi akibat terkena lontaran material saat erupsi. "Kemungkinan besar kerusakan disebabkan terkena lontaran material dari erupsi. Kini yang masih berfungsi tersisa tiga unit," ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, pemulihan sistem pemantauan GAK masih dilakukan secara bertahap. Perbaikan dan pemasangan perangkat disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya listrik.

Curated For You

Editorial Team

Related Article