Inflasi Lampung April 2025 Capai 1,19 Persen, BI Beber Pemicu

- Inflasi Lampung mencapai 1,19 persen (mtm) pada April 2025, melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
- Kenaikan inflasi disebabkan oleh naiknya harga komoditas utama seperti tarif listrik, bawang merah, tomat, dan emas perhiasan.
- Namun, beberapa komoditas mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi lebih lanjut.
Bandar Lampung, IDN Times – Provinsi Lampung mencatat inflasi sebesar 1,19 persen (mtm) pada April 2025. Angka ini melambat dibandingkan bulan Maret yang mencapai 1,96 persen. Meski demikian, realisasi inflasi bulanan ini masih lebih tinggi dari capaian nasional yang berada di angka 1,17 persen.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Lampung, Junanto Herdiawan mengatakan secara tahunan, inflasi Lampung juga menunjukkan tren kenaikan dengan 2,80 persen (yoy). "Angka ini melampaui inflasi nasional yang sebesar 1,95 persen dan lebih tinggi dibanding capaian bulan Maret yang sebesar 1,58 persen," katanya, Sabtu (3/5/2025).
1. Tarif listrik dan bawang merah jadi pemicu utama

Junanto menyampaikan, inflasi bulan April didorong kenaikan sejumlah komoditas utama, antara lain:
- Tarif listrik (andil 0,87 persen)
- Bawang merah (0,18 persen)
- Tomat dan emas perhiasan (masing-masing 0,11 persen)
- Bawang putih (0,06 pereen)
"Kenaikan tarif listrik disebabkan oleh berakhirnya diskon 50 persen dari PLN untuk pelanggan rumah tangga berdaya 450 VA hingga 2.200 VA," ujarnya.
Sementara, lonjakan harga bawang merah terjadi karena berakhirnya musim panen di Jawa Barat, dan harga bawang putih naik akibat penundaan realisasi impor.
2. Komoditas pangan dan energi tahan laju inflasi

Meski terjadi inflasi, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi lebih lanjut. Komoditas tersebut antara lain:
- Cabai rawit
- Telur dan daging ayam ras
- Bayam
- Pulsa ponsel
- Bensin
"Penurunan harga ini dipengaruhi oleh panen raya cabai, normalisasi permintaan usai Ramadan dan Idulfitri, serta turunnya harga Pertamax Green oleh Pertamina," jelasnya.
3. BI dan TPID siap jaga stabilitas harga

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung menegaskan komitmennya menjaga inflasi tetap dalam target 2,5±1 persen (yoy) sepanjang 2025. Namun, sejumlah risiko tetap harus diwaspadai, seperti:
- Kenaikan upah minimum provinsi (UMP) sebesar 6,5 persen
- Lonjakan harga emas global
- Kenaikan harga beras pasca panen raya
- Dampak musim kemarau terhadap produksi hortikultura
- Potensi kenaikan tarif angkutan udara menjelang Iduladha
Sebagai antisipasi, BI dan TPID memperkuat strategi 4K meliputi ,Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.
"Strategi ini meliputi operasi pasar, perluasan kerja sama antar daerah, optimalisasi distribusi lewat Mobil TOP, serta koordinasi dan komunikasi rutin lintas daerah," jelas Junanto.