5 Tips Menerapkan Worry Time untuk Kurangi Overthinking, Jangan Asal!

- Gunakan worry time selama 15-30 menit saat masih punya energi, hindari dekat waktu tidur.
- Persiapkan notes atau aplikasi untuk mencatat kekhawatiran di luar worry time, dan atur struktur pertanyaan untuk mengelolanya.
- Atur timer sesuai batas waktu yang ditentukan, lalu alihkan fokus ke aktivitas lain setelah selesai.
Pernah gak sih, pikiranmu terus-terusan muter kayak film tanpa henti? Skenario "bagaimana jika" muncul berkali-kali sampai bikin capek sendiri. Overthinking memang bisa bikin stres dan nyuri banyak energi, apalagi kalau dibiarkan tanpa kendali.
Salah satu cara efektif buat mengatasinya adalah dengan worry time atau waktu khusus buat khawatir. Dengan metode ini, kecemasan gak lagi menguasai harimu, karena ada batasan waktu kapan kamu boleh memikirkannya. Nah, biar worry time bisa bekerja maksimal, coba deh lima cara ini!
1. Tentukan waktu paling pas buat worry time

Jangan asal milih waktu, ya! Idealnya, worry time ini sekitar 15-30 menit dan dilakukan saat kamu masih punya cukup energi buat menghadapi pikiran yang bikin resah. Tapi jangan terlalu dekat dengan waktu tidur, biar gak terbawa sampai ke mimpi.
Anggap worry time ini sebagai janji dengan diri sendiri. Sama seperti meeting penting yang gak bisa ditinggal, worry time juga perlu diperlakukan dengan komitmen yang sama. Dengan begitu, kamu jadi lebih disiplin dalam mengelola kecemasan.
2. Catat setiap pikiran cemas di luar worry time

Kalau pikiran cemas tiba-tiba muncul di luar worry time, jangan langsung terjebak di dalamnya! Siapkan notes atau aplikasi di HP buat mencatat setiap kekhawatiran yang datang.
Bayangkan ini seperti "menyimpan file" ke folder yang akan dibuka nanti. Jadi, setiap kali overthinking muncul, cukup tulis sebentar lalu ingatkan diri sendiri, "Aku punya waktu khusus buat mikirin ini nanti." Dengan cara ini, otakmu bisa lebih rileks karena tahu bahwa kecemasan itu akan diproses pada waktunya.
3. Buat struktur jelas saat sesi worry time

Biar worry time gak berubah jadi sesi overthinking yang gak berujung, kamu perlu struktur yang jelas. Mulai dengan membaca ulang catatan kekhawatiranmu, lalu tanyakan:
- Apakah ini masih relevan?
- Apa yang bisa kulakukan untuk mengatasinya?
- Atau ini di luar kendaliku?
Setelah itu, bagi kekhawatiranmu jadi dua kategori: yang bisa kamu atasi dan yang di luar kendali. Untuk yang bisa ditindaklanjuti, buat langkah konkret. Sedangkan untuk yang di luar kendali, coba latih dirimu untuk menerima dan melepaskan.
4. Gunakan timer dan patuhi waktunya

Biar worry time tetap efektif, atur timer sesuai batas waktu yang sudah ditentukan. Begitu alarm berbunyi, saatnya berhenti, gak peduli seberapa besar keinginan buat lanjut mikirin masalahnya.
Kalau 30 menit terasa terlalu lama, mulai aja dari 10-15 menit dulu. Terpenting adalah konsistensi, bukan durasi. Dengan disiplin mengikuti batas waktu, kamu bisa mencegah worry time berubah jadi sesi overthinking tanpa ujung.
5. Lakukan aktivitas menyenangkan setelah worry time

Begitu worry time selesai, langsung alihkan fokus ke aktivitas lain. Bisa dengan dengerin lagu favorit, olahraga ringan, atau sekadar minum teh sambil baca buku.
Aktivitas ini berfungsi sebagai "palate cleanser", biar otakmu bisa beralih dari mode cemas ke mode lebih rileks. Anggap aja kayak menutup buku setelah selesai dibaca, lalu menaruhnya kembali di rak, kekhawatiranmu gak harus terus-terusan ada di kepala.
Menerapkan worry time memang butuh latihan, tapi kalau konsisten, efeknya bisa terasa banget buat mengurangi overthinking. Ingat, tujuan dari worry time bukan buat menghilangkan kecemasan sepenuhnya, tapi buat mengelolanya dengan lebih sehat. Jadi, yuk mulai terapkan worry time dan lihat perubahan positifnya!