Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

5 Kebiasaan Liminal Thinking Bisa Membuka Mindsetmu

ilustrasi berpikir (pexels.com/Alan Retratos)
ilustrasi berpikir (pexels.com/Alan Retratos)
Intinya sih...
  • Pemikir liminal selalu mempertanyakan status quo dan gak menerima begitu saja apa yang dianggap "normal" atau "sudah seharusnya begitu".
  • Para pemikir liminal paham betul bahwa keyakinan kita hanyalah representasi dari realitas, bukan realitas itu sendiri.
  • Pemikir liminal memiliki kemampuan yang kuat untuk berempati dan melihat dunia melalui mata orang lain.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu merasa terjebak dalam pola pikir yang sama, seolah-olah ada tembok tak terlihat yang membatasi cara pandangmu terhadap dunia? Liminal thinking atau berpikir di ambang batas adalah kemampuan untuk melihat melampaui batasan keyakinan yang dimiliki dan membuka pintu menuju perspektif baru.

Seperti berdiri di ambang pintu, kita bisa memilih untuk tetap di zona nyaman atau melangkah ke teritorial baru yang penuh kemungkinan. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, kita sering terjebak dalam autopilot mental, menggunakan filter dan asumsi lama untuk menginterpretasi realitas baru.

Padahal, mempraktikkan liminal thinking, kita bisa membongkar tembok-tembok mental itu dan menemukan solusi kreatif yang gak pernah terpikirkan sebelumnya. Yuk, kenali lima kebiasaan liminal thinking bisa membantumu membuka mindset dan melihat dunia dengan cara yang sama sekali berbeda!

1. Tanyakan "bagaimana kalau?" alih-alih terjebak dengan "begitulah adanya"

ilustrasi alam (unsplash.com/IB Wira Dyatmika)
ilustrasi alam (unsplash.com/IB Wira Dyatmika)

Pemikir liminal selalu mempertanyakan status quo dan gak menerima begitu saja apa yang dianggap "normal" atau "sudah seharusnya begitu". Mereka aktif menantang asumsi dengan bertanya "bagaimana kalau?"

Misalnya, alih-alih berpikir "Saya gak bisa dapat promosi karena latar belakang pendidikan saya", coba ubah jadi "Bagaimana kalau latar belakang unik saya justru bisa memberi perspektif berbeda yang dibutuhkan perusahaan?"

Dengan mengajukan pertanyaan "bagaimana kalau", kamu membuka ruang untuk kemungkinan baru yang sebelumnya gak terlihat. Kebiasaan ini melatih otak untuk gak terlalu cepat mengambil kesimpulan dan tetap terbuka pada berbagai alternatif. Lambat laun, kamu akan terbiasa melihat peluang di tempat orang lain hanya melihat hambatan.

2. Sadari semua keyakinan hanyalah "peta", bukan "teritorial" sesungguhnya

ilustrasi alam (unsplash.com/Ben White)
ilustrasi alam (unsplash.com/Ben White)

Para pemikir liminal paham betul keyakinan kita hanyalah representasi dari realitas, bukan realitas itu sendiri, seperti peta yang menggambarkan teritorial, tapi bukanlah teritorial yang sesungguhnya.

Mereka menyadari apa yang kita yakini sebagai "kebenaran" sering kali hanyalah konstruksi mental yang terbentuk dari pengalaman, pendidikan, dan pengaruh sosial. Menyadari keyakinanmu hanyalah "peta" membuatmu lebih rendah hati dan terbuka untuk memperbarui "peta" tersebut ketika menemukan informasi baru.

Seperti navigator yang bijak, kamu gak akan keras kepala mengikuti peta lama jika realitas di depanmu sudah berubah. Kebiasaan ini membantu kita menghindari dogmatisme dan membuat kita lebih adaptif menghadapi perubahan.

3. Latih kemampuan untuk melihat melalui sudut pandang orang lain

ilustrasi alam (unsplash.com/Aaron Birch)
ilustrasi alam (unsplash.com/Aaron Birch)

Pemikir liminal memiliki kemampuan yang kuat untuk berempati dan melihat dunia melalui mata orang lain. Mereka gak hanya berusaha memahami apa yang dikatakan orang lain, tapi juga konteks yang membentuk sudut pandang tersebut.

Misalnya, alih-alih cepat menghakimi pendapat yang berbeda, mereka bertanya: "Pengalaman hidup seperti apa yang membuat dia berpikir seperti itu?" Kemampuan melihat melalui sudut pandang berbeda memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang suatu masalah.

Dalam konflik, kebiasaan ini sangat berharga karena membantu menemukan solusi win-win menghargai perspektif semua pihak. Cobalah sesekali mendebat dari sisi yang berlawanan dengan keyakinanmu sendiri, ini adalah latihan yang bagus untuk memperkuat pemikiran liminal.

4. Berikan ruang untuk "gak tahu" dan nyaman dengan ketidakpastian

ilustrasi alam (unsplash.com/Luke Braswell)
ilustrasi alam (unsplash.com/Luke Braswell)

Saat ini, banyak dari kita terjebak dalam ilusi harus selalu tahu jawaban untuk segala hal. Pemikir liminal justru merangkul ketidaktahuan dan melihatnya sebagai ruang kreatif.

Mereka gak takut untuk mengakui "Saya gak tahu" dan melihat ketidakpastian bukan sebagai ancaman, tapi sebagai awal dari petualangan intelektual yang menarik. Dengan memberi ruang untuk gak tahu, kamu membuka dirimu untuk eksplorasi dan pembelajaran tanpa dibatasi oleh kebutuhan untuk selalu benar.

Ini mirip seperti peneliti yang memasuki wilayah baru, mereka gak membawa jawaban, tapi pertanyaan dan rasa penasaran. Kebiasaan ini membebaskanmu dari tekanan harus selalu tampak pintar dan memberimu kebebasan untuk benar-benar belajar.

5. Pertahankan sikap bermain dan eksperimen dalam setiap situasi

ilustrasi alam (unsplash.com/John Mark Arnold)
ilustrasi alam (unsplash.com/John Mark Arnold)

Anak kecil mempelajari dunia melalui bermain, dan pemikir liminal mempertahankan sikap ini hingga dewasa. Mereka melihat kehidupan sebagai laboratorium tempat mereka bisa bereksperimen dengan ide dan perilaku berbeda.

Alih-alih terpaku pada solusi "benar" atau "salah", mereka mencoba berbagai pendekatan dengan sikap ringan dan penuh keingintahuan. Sikap bermain ini mencegah kita terlalu serius dan kaku dalam menghadapi tantangan.

Ketika kamu melihat masalah sebagai puzzle yang menarik alih-alih beban, kreativitasmu akan mengalir lebih bebas. Cobalah pendekatan baru dalam situasi familiar misalnya, jika biasanya kamu menyelesaikan konflik dengan berargumen, coba sekali-kali dengan humor atau pendekatan artistik.

Jadi, apakah kamu siap melangkah ke ambang batas? Mulailah dengan menantang satu keyakinan yang kamu pegang hari ini. Siapa tahu, dibalik dinding keyakinan itu, ada dunia penuh kemungkinan yang menunggumu untuk dieksplorasi. Berpikir secara liminal bukan cuma mengubah cara pandangmu terhadap dunia, tapi juga mengubah bagaimana dunia meresponsmu!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us