Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

5 Etika Meminjam Barang Sering Dilupakan, Jangan Bikin Malu!

ilustrasi berbelanja (pexels.com/Gustavo Fring)
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Gustavo Fring)
Intinya sih...
  • Menghargai barang orang lain adalah tanda kedewasaan dan meningkatkan kepercayaan dalam hubungan sosial.
  • Meminta izin sebelum meminjam, menentukan batas waktu peminjaman, dan mengembalikan barang dalam kondisi baik adalah etika dasar yang sering terlupakan.
  • Tanggung jawab sepenuhnya ada di tangan peminjam, jadi jangan meminjamkan barang orang lain tanpa izin pemilik aslinya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak sih, kamu meminjam barang dari teman atau keluarga, lalu tanpa sadar lupa mengembalikannya sampai mereka sendiri yang harus menagih? Atau justru pernah kesal karena barang yang kamu pinjamkan balik dalam kondisi rusak tanpa ada permintaan maaf?

Hal-hal seperti ini kelihatannya sepele, tapi bisa bikin hubungan renggang kalau gak ada etika yang jelas. Di era digital yang serba instan, etika meminjam barang mungkin terdengar sepele dan sering dilupakan.

Padahal, justru di zaman ini, menghargai barang milik orang lain adalah tanda kedewasaan dan bisa meningkatkan kepercayaan dalam hubungan sosial. Sayangnya, masih banyak yang menyepelekan etika dasar ini. Nah, supaya kamu gak masuk daftar "peminjam menyebalkan", yuk, simak lima etika meminjam barang yang sering terlupakan berikut ini!

1. Minta izin dengan jelas, bukan asal ambil

ilustrasi teman (pexels.com/Ketut Subiyanto)
ilustrasi teman (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap memberi tahu sama dengan meminta izin. Contohnya, kamu bilang, "Aku pinjam charger kamu, ya!" sambil langsung mengambilnya.

Padahal, meminta izin itu harus ada persetujuan dari pemiliknya, bukan sekadar pengumuman sepihak. Cara yang benar adalah dengan bertanya dan menunggu jawaban, misalnya, "Boleh aku pinjam charger kamu? Aku akan kembalikan nanti malam."

Jika pemiliknya terlihat ragu atau gak nyaman, jangan memaksa. Ingat, mereka punya hak penuh atas barangnya, dan menolak meminjamkan sesuatu bukan berarti mereka pelit. Justru, menghargai keputusan orang lain adalah tanda kamu punya etika yang baik.

2. Jelaskan durasi peminjaman supaya gak bikin bingung

ilustrasi teman (pexels.com/William Fortunato)
ilustrasi teman (pexels.com/William Fortunato)

Sering banget terjadi, seseorang meminjam barang tanpa menyebutkan kapan akan mengembalikannya. Akibatnya, pemilik barang jadi bingung mau menagih atau menunggu saja.

Sementara si peminjam merasa santai karena mengira belum diminta untuk mengembalikan. Solusinya, selalu tentukan batas waktu dengan jelas. Misalnya, "Aku pinjam bukumu sampai akhir pekan ya, Senin aku kembalikan."

Dengan begini, pemilik barang punya ekspektasi yang jelas, dan kamu juga punya tanggung jawab untuk memenuhi janji. Kalau ternyata butuh lebih lama, segera beri tahu dan minta izin lagi, bukan diam-diam memperpanjang peminjaman tanpa persetujuan.

3. Kembalikan dalam kondisi yang sama atau lebih baik

ilustrasi bekerja (pexels.com/Ivan Samkov)
ilustrasi bekerja (pexels.com/Ivan Samkov)

Ini etika yang paling mendasar, tapi masih sering diabaikan. Jangan sampai barang yang kamu pinjam kembali dalam keadaan kotor, rusak, atau malah hilang bagian-bagiannya.

Lebih parahnya lagi, ada yang mengembalikan begitu saja tanpa permintaan maaf atau menawarkan ganti rugi. Sebagai peminjam yang bertanggung jawab, pastikan barang yang kamu kembalikan dalam kondisi yang sama seperti saat dipinjam.

Bahkan, kalau bisa, lebih baik. Contohnya, kalau kamu meminjam motor teman dan bensinnya tinggal sedikit, isi kembali sebelum mengembalikannya. Atau kalau meminjam buku, pastikan gak ada lipatan, coretan, atau noda. Kalau sampai terjadi kerusakan, jangan pura-pura gak tahu—akui, minta maaf, dan tawarkan solusi yang adil.

4. Jangan meminjamkan lagi ke orang lain tanpa izin

ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Pernah mengalami ini? Kamu meminjamkan barang ke seseorang, tapi kemudian tahu barang itu malah dipinjamkan lagi ke orang lain tanpa sepengetahuanmu. Rasanya pasti gak enak, kan?

Saat kamu meminjam barang, tanggung jawab sepenuhnya ada di tanganmu. Pemilik barang mempercayakan peminjaman padamu, bukan orang lain. Jadi, kalau ada orang lain yang ingin meminjam barang yang sedang kamu pinjam, jangan asal kasih.

Lebih baik suruh mereka minta izin langsung ke pemilik aslinya. Kalau memang mendesak, tanyakan dulu ke pemiliknya sebelum mengiyakan.

5. Ucapkan terima kasih saat meminjam dan mengembalikan

ilustrasi bekerja (pexels.com/Yan Krukau)
ilustrasi bekerja (pexels.com/Yan Krukau)

Kelihatannya sederhana, tapi mengucapkan terima kasih dengan tulus bisa bikin pemilik barang merasa dihargai. Sayangnya, banyak yang lupa melakukan ini, baik saat meminjam maupun saat mengembalikan.

Gak perlu kata-kata yang berlebihan, cukup ucapkan dengan jelas seperti, "Terima kasih ya, sudah mau meminjamkan kameranya, ini sangat membantu." Lalu, saat mengembalikan, tambahkan sedikit apresiasi, misalnya, "Terima kasih banyak, kameranya bagus banget dan hasil fotonya keren!" Hal kecil seperti ini bisa mempererat hubungan dan membuat orang lain lebih nyaman untuk meminjamkan barangnya di lain waktu.

Etika meminjam barang bukan cuma soal sopan santun, tapi juga menunjukkan bagaimana kamu menghargai orang lain dan kepercayaan yang mereka berikan. Mulai sekarang, yuk, biasakan meminjam dengan cara yang benar supaya gak bikin malu diri sendiri dan tetap dipercaya oleh orang-orang di sekitarmu!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us