8 Film Klasik Hollywood Menghancurkan Karier Sutradaranya

- Film-film bagus bisa merusak reputasi sutradara karena kesalahan pemilihan aktor, kritik tajam, atau intervensi produser.
- Beberapa film yang awalnya dikecam kemudian dianggap karya seni, tapi tetap meninggalkan bekas buruk pada sutradaranya.
- Kegagalan film bisa membuat sutradara kehilangan dukungan industri dan peluang besar untuk berkarya lagi.
Film-film besar tak selalu membawa kesuksesan bagi sutradara di baliknya. Ada beberapa karya meskipun berkualitas tinggi, justru menjadi malapetaka bagi karier sutradaranya.
Kritik tajam, penolakan publik, dan kesalahan produksi sering kali membuat sebuah film diabaikan atau dikecam hingga mengancam reputasi para sutradara tersebut. Terkadang film-film ini akhirnya mendapatkan penghargaan dan menjadi karya klasik setelah bertahun-tahun.
Namun, luka yang ditimbulkannya tetap membekas pada sang sutradara. Ada yang merasa kecewa dan memilih untuk berhenti menyutradarai, ada juga yang kehilangan dukungan industri hingga tak lagi diberi kesempatan besar. Kira-kira apa yang terjadi, ya?
1. Confidential Report (1955) – Orson Welles

Orson Welle merilis Confidential Report dipenuhi misteri dan estetika noir khasnya. Namun, keputusan Welles untuk memilih Robert Arden sebagai aktor utama ternyata menjadi bumerang.
Meski memiliki nuansa visual yang apik, akting Arden yang kaku membuat film ini tidak sukses di box office. Alhasil, Welles pun kehilangan kepercayaan produser untuk mengarahkan proyek besar selanjutnya.
Dengan kegagalan film ini, Welles semakin dicap sebagai sutradara yang sulit diajak bekerja sama dan tidak mampu menghadirkan film komersial. Padahal, kemampuan visualnya tak perlu diragukan lagi.
2. Peeping Tom (1960) – Michael Powell

Michael Powell dikritik habis-habisan karena membuat film tentang pembunuh berantai yang merekam korban-korbannya. Cerita yang gelap dan tema voyeurisme dalam film ini membuat para kritikus menyebutnya "menjijikkan" dan "tidak manusiawi" hingga menyebabkan Powell tidak lagi dianggap layak bekerja di industri.
Ironisnya, bertahun-tahun kemudian, Peeping Tom dianggap sebagai karya seni dan mulai dihargai karena visinya yang berani. Meski begitu, karier Powell tak pernah pulih dan ia hanya dikenang karena pengaruhnya pada generasi sutradara berikutnya, seperti Martin Scorsese yang melihatnya sebagai mentor pribadi.
3. Once Upon a Time in America (1984) – Sergio Leone

Sergio Leone berharap Once Upon a Time in America akan menjadi masterpiece-nya. Namun, produser mengedit film ini tanpa persetujuannya dan memangkas lebih dari 90 menit.
Akibatnya, versi yang dirilis di Amerika berantakan dan mendapat kritik pedas. Film ini pun gagal di box office dan menghancurkan semangat Leone.
Di Eropa, film ini dirilis dengan durasi asli dan mendapatkan pujian. Namun, efek buruk dari pengkhianatan ini membuat Leone merasa kecewa dengan industri hingga ia tak pernah membuat film lagi sampai akhir hidupnya. Padahal sebelumnya Leone punya banyak ide cerita yang dapat ia kembangkan.
4. The Night of The Hunter (1955) – Charles Laughton

Dalam satu-satunya film yang ia sutradarai, Charles Laughton berhasil menciptakan kisah horor yang mendalam dalam The Night of the Hunter. Meski kini dianggap sebagai mahakarya, film ini disambut dingin oleh para kritikus pada masanya dan bahkan gagal secara komersial.
Kritik yang keras membuat Laughton patah hati dan memutuskan untuk tidak lagi menyutradarai. Sungguh sayang, karena film ini menunjukkan bakat luar biasa Laughton yang tak pernah kita lihat lagi di layar lebar.
5. Freaks (1932) – Tod Browning

Tod Browning dikenal sebagai sutradara Dracula yang melegenda. Namun film horor kontroversial buatannya yang berjudul Freaks membuat kariernya langsung tenggelam. Karya ini dianggap terlalu vulgar dan menjijikkan bagi penonton pada zamannya.
Setelah Freaks, Browning hanya menyutradarai beberapa film lagi sebelum benar-benar tersingkir dari Hollywood. Sayang sekali, karena kini Freaks dianggap sebagai film yang berani dan penuh makna dan melampaui horor biasa.
6. A Trip to the Moon (1902) – Georges Melies

Salah satu film paling ikonik sepanjang masa, A Trip to the Moon seharusnya menjadi awal yang gemilang bagi Méliès. Namun, karena aturan distribusi yang longgar membuat banyak keuntungan dari film ini dicuri, terutama di Amerika oleh Edison.
Méliès yang sudah jatuh miskin tidak bisa mengulang kesuksesannyanya dan kondisi keuangannya semakin memburuk setelah Perang Dunia I. Meski begitu, karyanya diakui kembali setelah bertahun-tahun dan A Trip to the Moon menjadi simbol penting dalam sejarah perfilman.
7. The Great Dictator (1940) – Charlie Chaplin

Film satire politik menyinggung Hitler ini awalnya disukai, tetapi kemudian membuat Chaplin dicap komunis oleh FBI. Tuduhan ini membuat popularitasnya menurun drastis, apalagi setelah Chaplin menghadapi masalah hukum.
Pada 1952, Chaplin bahkan dilarang masuk kembali ke Amerika. Meski akhirnya dia menerima penghargaan Oscar pada 1972, kariernya sudah terlanjur meredup akibat kontroversi politik ini.
8. It's a Wonderful Life (1946) – Frank Capra

Kini It’s a Wonderful Life dianggap sebagai film klasik Natal menyentuh hati. Namun saat dirilis, film ini gagal di box office dan membuat karier Capra merosot. Banyak yang menganggap gaya sentimental Capra sudah ketinggalan zaman pasca-Perang Dunia II.
Karena kegagalan ini, Capra tak pernah lagi membuat film besar dan lebih dikenal dengan film-film kecil yang disukai berkat rental video. Meski akhir kariernya tidak secerah masa awal, It’s a Wonderful Life akhirnya mendapat pengakuan sebagai film klasik yang abadi.
Walau karier para sutradara tersebut mungkin tak secerah sebelumnya, film-film di atas tetap hidup dan menginspirasi generasi pembuat film baru. Ini menunjukkan kegagalan pun bisa melahirkan kenangan abadi di dunia sinema. Kalau kamu sendiri sudah nonton yang mana aja, nih?