Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Matcha vs Kopi, Mana Lebih Baik untuk Teman Beraktivitas?
ilustasi minuman matcha dan kopi (pixabay.com/nilerubinacoffee)
  • Kopi umumnya mengandung 80–100 mg kafein per 240 ml, lebih tinggi daripada matcha 40–80 mg per 2 gram, sehingga cenderung memberi dorongan kewaspadaan lebih kuat.

  • Matcha mengandung kafein dan L-theanine yang berpotensi mendukung perhatian lebih tenang, sementara keduanya sama-sama menyediakan antioksidan; gula, sirup, atau krimer dapat menambah kalori.

  • Pilihan bergantung pada kebutuhan dan toleransi kafein; keduanya dapat mengganggu tidur bila diminum terlalu dekat waktu istirahat, sehingga disarankan menghindari kafein setidaknya enam jam sebelum tidur.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Matcha dan kopi menjadi dua minuman populer yang sering dipilih untuk menemani aktivitas sehari-hari. Mulai dari bekerja, belajar, mengerjakan tugas, hingga sekadar mencari inspirasi, keduanya kerap diandalkan untuk membantu tubuh tetap terjaga dan pikiran lebih fokus.

Kopi dikenal dengan rasa khas dan efek kafeinnya yang dapat membantu meningkatkan kewaspadaan. Sementara itu, matcha atau bubuk teh hijau asal Jepang semakin digemari karena memiliki rasa yang khas serta mengandung antioksidan.

Meski sama-sama mengandung kafein, matcha dan kopi memiliki sejumlah perbedaan, mulai dari kandungan kafein, efek terhadap tubuh, hingga cara menikmatinya. Lantas, mana yang lebih baik untuk menemani aktivitas sehari-hari? Berikut lima hal yang perlu kamu ketahui sebelum memilihnya.

1. Kandungan kafein, kopi umumnya lebih tinggi

Dampak Kafein Terhadap Kualitas Tidur (Dok. unsplash.com/Pariwat Pannium)

Salah satu alasan orang memilih kopi adalah kandungan kafeinnya yang dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa kantuk. Namun, jumlah kafein dalam kopi bisa berbeda-beda, tergantung jenis biji, metode penyeduhan, dan ukuran sajian.

Sebagai gambaran, secangkir kopi seduh berukuran sekitar 240 mililiter umumnya mengandung 80–100 miligram kafein. Sementara itu, matcha dengan takaran sekitar 2 gram bubuk biasanya mengandung sekitar 40–80 miligram kafein.

Artinya, kopi cenderung memberikan asupan kafein lebih tinggi dalam satu sajian, meskipun hasilnya tetap bergantung pada cara penyajian.

Jika kamu membutuhkan dorongan kewaspadaan untuk memulai pekerjaan pada pagi hari, kopi bisa menjadi pilihan. Namun, matcha juga dapat membantu menjaga fokus karena tetap mengandung kafein.

Perlu diingat, minuman dengan kandungan kafein lebih tinggi tidak selalu menjadi pilihan terbaik. Respons tubuh terhadap kafein berbeda-beda, sehingga kamu perlu menyesuaikan konsumsi dengan kebutuhan dan toleransi pribadi.

2. Matcha mengandung L-theanine dapat mendukung fokus

ilustrasi minuman matcha pengganti rokok (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Selain kafein, matcha mengandung L-theanine, yaitu asam amino yang juga ditemukan dalam teh. Senyawa ini banyak diteliti karena berpotensi memengaruhi perhatian dan respons tubuh terhadap kafein.

Kombinasi L-theanine dan kafein dapat membantu mendukung perhatian serta beberapa aspek fungsi kognitif. Karena itu, sebagian orang merasa matcha memberikan sensasi fokus yang lebih tenang ketika digunakan untuk menemani pekerjaan atau belajar.

Sementara itu, kopi cenderung lebih dikenal karena efek stimulasinya yang membantu seseorang merasa lebih terjaga.

Meski begitu, efek kedua minuman ini tidak sama pada setiap orang. Matcha bukan jaminan kamu akan lebih fokus, begitu pula kopi tidak selalu membuat seseorang lebih produktif.

Jika kamu ingin mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu lama, kamu bisa mencoba keduanya pada kesempatan berbeda dan memperhatikan bagaimana tubuh meresponsnya.

3. Matcha kaya antioksidan, kopi juga memilikinya

ilustrasi matcha tinggi antioksidan (unsplash.com/Payoon Gerinto)

Matcha mengandung katekin, termasuk epigallocatechin gallate (EGCG), yang merupakan bagian dari kelompok antioksidan dalam teh hijau. Senyawa ini diteliti karena potensinya membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.

Kopi juga mengandung berbagai senyawa antioksidan, termasuk asam klorogenat. Sejumlah penelitian mengaitkan konsumsi kopi dalam jumlah wajar dengan manfaat kesehatan tertentu, meskipun hasilnya dipengaruhi oleh pola hidup dan kondisi masing-masing individu.

Dengan demikian, tidak tepat jika menganggap matcha selalu lebih sehat daripada kopi hanya karena kandungan antioksidannya.

Manfaat yang diperoleh juga bergantung pada cara penyajian. Matcha atau kopi yang dicampur banyak gula, sirup, krimer, maupun susu kental manis bisa mengandung kalori dan gula tambahan yang cukup tinggi.

Jika ingin menikmati manfaat kedua minuman tersebut tanpa asupan gula berlebihan, pilihlah versi tanpa gula tambahan atau batasi pemanis sesuai kebutuhan.

4. Kopi dan matcha bisa memengaruhi kualitas tidur

ilustrasi tidur (pexels.com/Julian Jagtenberg)

Pernah merasa sulit tidur setelah minum kopi pada sore hari? Hal ini bisa terjadi karena kafein dapat bertahan di dalam tubuh selama beberapa jam setelah dikonsumsi.

Kafein bekerja dengan menghambat efek adenosin, yaitu senyawa yang berperan dalam menimbulkan rasa kantuk. Akibatnya, kamu bisa merasa lebih terjaga meskipun tubuh sebenarnya membutuhkan istirahat.

Matcha juga mengandung kafein sehingga berpotensi mengganggu tidur, terutama jika dikonsumsi menjelang waktu tidur atau dalam jumlah berlebihan.

Jika kamu sensitif terhadap kafein, perhatikan waktu konsumsi dan respons tubuh. Sebagai langkah awal, hindari minuman berkafein setidaknya enam jam sebelum tidur. Sebagian orang mungkin perlu memberi jeda yang lebih panjang.

Jangan sampai keinginan untuk tetap produktif pada malam hari justru membuat kualitas tidur menurun. Tidur yang cukup tetap penting untuk menjaga konsentrasi, suasana hati, dan energi keesokan harinya.

5. Mana yang lebih baik untuk aktivitas sehari-hari?

ilustrasi kopi dan matcha (vecteezy.com/Lalita Somrat)

Jawabannya bergantung pada kebutuhan, toleransi kafein, dan preferensi masing-masing orang.

Jika kamu membutuhkan minuman dengan efek stimulan yang relatif kuat untuk membantu mengurangi kantuk, kopi bisa menjadi pilihan. Kandungan kafeinnya yang umumnya lebih tinggi dapat membantu meningkatkan kewaspadaan.

Di sisi lain, matcha cocok untuk kamu yang menyukai teh hijau dan ingin mendapatkan asupan kafein dengan karakter rasa berbeda. Kandungan L-theanine di dalamnya juga berpotensi mendukung perhatian ketika dikonsumsi bersama kafein.

Namun, kamu tidak harus memilih salah satunya untuk semua situasi. Kamu bisa menikmati kopi pada pagi hari dan memilih matcha pada kesempatan lain, selama total asupan kafein tetap sesuai dengan toleransi tubuh.

Bagi kebanyakan orang dewasa yang sehat, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyebut konsumsi kafein hingga 400 miligram sehari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif. Angka tersebut bukan target konsumsi dan bukan batas yang cocok untuk semua orang. Ibu hamil, orang yang sedang menyusui, serta individu dengan kondisi kesehatan tertentu perlu memperhatikan anjuran yang sesuai.

Selain itu, perhatikan pula bahan tambahan dalam minuman yang kamu pilih. Matcha latte dan kopi susu bisa mengandung banyak gula, bergantung pada resep dan ukuran sajian.

Matcha dan kopi sama-sama bisa menjadi teman beraktivitas, tetapi keduanya memiliki karakter yang berbeda. Kopi umumnya mengandung lebih banyak kafein sehingga cocok bagi orang yang membutuhkan bantuan untuk meningkatkan kewaspadaan. Sementara itu, matcha menawarkan kombinasi kafein dan L-theanine yang berpotensi mendukung perhatian.

Tidak ada satu minuman yang selalu lebih baik untuk semua orang. Pilihan terbaik adalah minuman yang sesuai dengan kebutuhan, tidak mengganggu tidur, dan dikonsumsi dalam jumlah wajar.

Jadi, daripada hanya mengikuti tren, coba perhatikan bagaimana tubuhmu merespons kopi dan matcha. Sebab, produktivitas tidak hanya ditentukan oleh minuman yang kamu konsumsi, tetapi juga oleh kualitas tidur, pola makan, hidrasi, dan kebiasaan beristirahat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article