Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
COO Bhayangkara Presisi Lampung FC, Sumardji. (IDN Times/Muhaimin)
COO Bhayangkara Presisi Lampung FC, Sumardji. (IDN Times/Muhaimin)

Intinya sih...

  • Insiden pemukulan terjadi pada menit ke-47 antara pemain Farmers Angonsaka FC dan TS Saiburai Lampung FC.

  • Fandi Ega Pratama dilarang bermain selama 3 tahun dan didenda Rp2,5 juta karena pelanggaran berat serta tidak dapat diajukan banding.

  • PSSI Provinsi Lampung akan memberikan sanksi kepada manajemen, official, dan pemain TS Saiburai yang menyerbu dan memukuli wasit usai pertandingan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times – Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Provinsi Lampung menjatuhkan sanksi tegas kepada pemain Farmers Angonsaka FC, Fandi Ega Pratama, usai insiden pemukulan pada laga final Liga 4 Piala Gubernur Lampung.

Keputusan itu diambil melalui Panitia Disiplin (Pandis) Liga 4 setelah meninjau laporan pertandingan final antara Farmers Angonsaka FC kontra TS Saiburai Lampung FC di Stadion Pahoman, Bandar Lampung, Jumat (13/2/2026). Dalam laga tersebut, Farmers Angonsaka menang tipis 1-0.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PSSI Provinsi Lampung, Sumardji, mengatakan pihaknya telah menerima laporan resmi dan melakukan review menyeluruh, termasuk rekaman video pertandingan.

“Wasit I Komang Agus Sapayana dan perangkat pertandingan lainnya telah menjalankan tugas sesuai Laws of the Game atau peraturan permainan,” katanya, Senin (16/2/2026).

1. Kronologi insiden

Pertandingan final Liga 4 Lampung. (IDN Times/Muhaimin)

Sumardji membeberkan Insiden terjadi pada menit ke-47. Fandi Ega Pratama (nomor punggung 39) kedapatan memukul atau menampar pemain TS Saiburai, Afrizal (nomor punggung 22). Atas tindakan tersebut, wasit langsung mengeluarkan kartu merah kepada Fandi.

Sementara itu, Afrizal lebih dulu diganjar kartu kuning karena dinilai melakukan provokasi dengan menginjak kaki Fandi.

"Karena telah mengantongi kartu kuning sebelumnya, Afrizal juga menerima kartu kuning kedua yang berujung kartu merah," bebernya.

2. Dilarang bermain 3 tahun

Ilustrasi bermain sepak bola. (Pexels.com/Misha Zimin)

Berdasarkan sejumlah pasal dalam Kode Disiplin PSSI Tahun 2025, termasuk Pasal 47 tentang pelanggaran berat serta Law 12 Laws of the Game, Pandis menjatuhkan sanksi berat kepada Fandi.

“Setelah melihat review video pertandingan secara utuh dan mempertimbangkan fakta serta dasar hukum, kami menjatuhkan sanksi larangan mengikuti agenda kompetisi PSSI selama tiga tahun,” ujar Sumardji.

Selain larangan bermain, Fandi juga dikenai denda sebesar Rp2,5 juta. Menurut Sumardji, hukuman tiga tahun dijatuhkan dengan pertimbangan usia pemain yang masih 22 tahun agar menjadi pembelajaran dalam perjalanan kariernya.

Ia menegaskan, keputusan Pandis bersifat final dan tidak dapat diajukan banding. “Artinya kami secara tegas menghukum pemain tersebut. Saya berharap pemain, klub, dan seluruh insan sepak bola di Lampung bisa belajar dari kejadian ini,” tegasnya.

Sumardji pun mengajak seluruh stakeholder sepak bola di Lampung untuk bersama-sama menjunjung tinggi sportivitas, integritas, dan saling menghormati demi kemajuan sepak bola daerah.

3. Bakal ada sanksi berikutnya

Plt Ketua PSSI Lampung, Sumardji. (IDN Times/Muhaimin)

Diketahui laga final Liga 4 Lampung yang mempertemukan Angonsaka FC menghadapi TS Saiburai berakhir ricuh usai peluit panjang ditiup.

Manajemen, official dan pemain TS Saiburai yang tidak puas dengan kepemimpinan wasit langsung menyerbu dan memukuli wasit usai peluit panjang ditiup.

Terkait dengan insiden tersebut, Sumardji menjelaskan akan segera mengeluarkan sanksi.

"Untuk sanksi yang lain akan menyusul, kemungkinan satu atau dua minggu lagi akan kita putuskan," jelas Sumardji.

4. Manajemen Angonsaka minta maaf

Pernyataan resmi dari manajemen Angonsaka FC. (instagram: angonsaka_official)

Manajemen Angonsaka FC melalui akun Instagram resminya turut menyampaikan penyesalan atas insiden tersebut. Mereka menegaskan tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun dan tidak mencerminkan nilai sportivitas maupun profesionalisme klub.

Klub juga menyampaikan permohonan maaf kepada tim lawan, perangkat pertandingan, panitia, suporter, serta masyarakat pecinta sepak bola Lampung atas dampak yang ditimbulkan.

Manajemen memastikan menghormati dan menerima sepenuhnya keputusan PSSI sebagai bagian dari penegakan disiplin dalam sepak bola nasional. Ke depan, evaluasi internal dan pembinaan menyeluruh akan dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.

"Sehubungan dengan insiden yang terjadi dalam partai Final Liga 4 Lampung, manajemen ANGONSAKA FC menyampaikan penyesalan yang mendalam!!," tulis manajemen dalam caption instagram angonsaka_official.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team