Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
UTI Kembangkan StegoIoT, Teknologi IoT untuk Kandang Sapi Modern
ilustrasi kandang sapi (freepik.com/wirestock)
  • UTI mengembangkan StegoIoT, ekosistem IoT, AI, perangkat, aplikasi, dan keamanan data untuk pengelolaan kandang sapi berbasis data; sistem ini telah diterapkan di PT Sanjaya Farm.

  • Delapan produk StegoIoT mencakup identifikasi dan penimbangan sapi, distribusi pakan otonom, pemantauan kesehatan real-time, pengolahan limbah, perhitungan biaya produksi, serta penjualan digital.

  • Pengujian menunjukkan performa perangkat tinggi, termasuk akurasi pakan Agrobot Feed 99,45 persen; tim akan melanjutkan uji multi-unit, penyempurnaan perangkat, dan pelatihan operator kandang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) kembangkan StegoIoT, ekosistem teknologi yang dirancang untuk membantu pengelolaan kandang sapi secara lebih terukur dan berbasis data. Teknologi ini memadukan Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan, perangkat keras, aplikasi, hingga sistem keamanan data.

StegoIoT telah diimplementasikan di kandang mitra industri PT Sanjaya Farm. Penelitian berjudul “StegoIoT: Aplikasi Pengelolaan Kandang Sapi Modern Berbasis IoT dan Steganografi Teks” tersebut merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset Prioritas skema SINERGI Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun 2026.

1. StegoIoT dirancang untuk kelola peternakan secara menyeluruh

ilustrasi kandang sapi (freepik.com/aleksandarlittlewolf)

Ketua peneliti StegoIoT, Dedi Darwis mengatakan, transformasi digital di sektor peternakan perlu menyentuh proses pengelolaan secara menyeluruh. Menurutnya, data yang sebelumnya disimpan melalui catatan manual maupun perangkat pribadi dapat dikelola secara lebih terstruktur dalam sebuah ekosistem digital.

“StegoIoT dikembangkan untuk menjawab sejumlah persoalan dalam pengelolaan peternakan sapi, mulai dari pencatatan data ternak, pemberian pakan, pemantauan kesehatan, pengolahan limbah, perhitungan biaya produksi, hingga pengamanan data usaha," kata Dedi, Senin (5/10/2026).

Dedi menjelaskan, ekosistem ini terdiri dari delapan produk saling terhubung, yakni RFID dan timbangan digital, Agrobot Feed, Digital Smart Collar, Digital Smart Komposter, mesin pencacah pupuk berbasis IoT, aplikasi Harga Pokok Penjualan (HPP) Sapi, aplikasi penjualan sapi, dan aplikasi steganografi teks.

2. Ada teknologi untuk pantau sapi hingga distribusi pakan

Ilustrasi ternak sapi di kandang kelompok.(IDN Times/Daruwaskita)

Disampaikan Dedi, RFID dan timbangan digital digunakan untuk mengidentifikasi sekaligus mencatat bobot sapi. Perangkat ini dilengkapi tongkat pembaca RFID portabel RISTA yang dapat menampilkan identitas, riwayat bobot, dan kondisi sapi secara langsung di area kandang.

Sementara itu, Agrobot Feed berupa gerobak pengangkut pakan otonom yang dapat menimbang pakan, bergerak mengikuti rute kandang, dan berhenti otomatis ketika mendeteksi halangan.

"Ada juga Digital Smart Collar yang digunakan untuk memantau kondisi sapi secara real-time. Kalung elektronik ini menggabungkan sejumlah parameter, seperti suhu tubuh, detak jantung, dan aktivitas ternak, sehingga dapat membantu mendeteksi lebih dini kondisi sapi yang berpotensi mengalami gangguan kesehatan," jelas Dedi.

3. Pengolahan limbah sapi ikut dibuat lebih terukur

ilustrasi pengangkutan kotoran sapi (pixabay.com/Antranias)

Menurut Dedi, StegoIoT juga menyasar pengelolaan limbah peternakan. Digital Smart Komposter dirancang untuk mengolah kotoran sapi menjadi kompos dengan memantau suhu, kelembapan, pH, dan kadar amonia.

Sistem tersebut juga menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu memprediksi tingkat kematangan kompos. Selain komposter, lanjutnya, terdapat mesin pencacah pupuk berbasis IoT yang digunakan untuk menghaluskan kotoran sapi sebelum diproses lebih lanjut menjadi pupuk.

Kondisi dan pengoperasian mesin dapat dipantau melalui dashboard.
Dari sisi usaha, tim juga mengembangkan aplikasi HPP Sapi untuk membantu peternak menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual setiap ekor sapi.

"Aplikasi penjualan sapi kemudian berfungsi sebagai etalase digital bagi calon pembeli untuk melihat informasi sapi, melakukan pemesanan, dan berkonsultasi sebelum transaksi," terangnya.

4. Keamanan data jadi bagian dari StegoIoT

Ilustrasi tentang keamanan data (pixabay.com/madartzgraphics)

Selain otomatisasi, Dedi mengatakan StegoIoT memiliki sistem keamanan untuk melindungi data usaha peternakan. Setiap perangkat dirancang memiliki kunci keamanan yang unik dan mengirimkan data dalam bentuk terenkripsi.

Pada sisi server, data sensitif mendapatkan lapisan perlindungan tambahan melalui teknologi steganografi teks. Data disembunyikan ke dalam teks biasa dengan memanfaatkan karakter tak terlihat atau Zero Width Space.

Dedi menjelaskan, perlindungan tersebut penting karena data peternakan yang dikelola sistem tidak hanya berkaitan dengan kondisi sapi, tetapi juga informasi usaha seperti harga beli, biaya pemeliharaan, margin keuntungan, dan data pelanggan.

“Data yang bersifat sensitif memerlukan perlindungan dari akses maupun kebocoran yang tidak diinginkan,” ujarnya.

5. Sudah diuji sebelum diterapkan di kandang mitra

Ilustrasi Petugas memeriksa kondisi ternak Sapi di kandang. IDN Times/ Bramanta Pamungkas

Lebih lanjut Dedi mengatakan, penelitian StegoIoT telah dilaksanakan sejak 5 Mei 2026 dengan tahapan mulai dari survei kondisi kandang mitra, perancangan sistem, perakitan perangkat, pengembangan aplikasi, pengujian laboratorium, hingga pengujian lapangan.

Hasil pengujian menunjukkan Agrobot Feed memiliki akurasi penimbangan pakan 99,45 persen, tingkat keberhasilan navigasi 93,33 persen, dan kemampuan deteksi halangan mencapai 100 persen.

Digital Smart Collar memiliki tingkat kesalahan 1,27 persen untuk pengukuran suhu tubuh dan 2,47 persen untuk pengukuran detak jantung jika dibandingkan dengan alat yang digunakan dokter hewan. Sementara sensor Digital Smart Composter memiliki tingkat akurasi antara 97,9 persen hingga 99,8 persen.

Mesin pencacah juga mampu mengolah lebih dari 100 kilogram kotoran sapi per jam. Pada sistem steganografi, sebanyak 3.000 dari 3.000 pesan uji berhasil dikembalikan tanpa kehilangan data.

"Setelah implementasi awal di PT Sanjaya Farm, tim peneliti akan melanjutkan pengembangan melalui uji lapangan multi-unit dan penyempurnaan perangkat berdasarkan hasil penggunaan di lapangan. Tim juga akan memberikan pelatihan kepada operator kandang serta memperkuat perlindungan kekayaan intelektual dari berbagai inovasi yang dihasilkan," kata Dedi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article