Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tenaga Kerja Lampung Mulai Bergeser, Sektor Pertanian Tergerus
ilustrasi pertanian (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)
  • Penduduk usia kerja Lampung naik menjadi 7,19 juta pada 2025, sementara komposisi pekerjaan bergeser: pertanian menurun, sedangkan jasa dan industri cenderung meningkat.

  • Lulusan SMA Umum menyumbang 35,56 persen total pengangguran pada 2025, tetapi TPT tertinggi dialami lulusan SMA Kejuruan sebesar 7,16 persen.

  • Bandar Lampung mencatat TPT tertinggi 7,53 persen dan TPAK terendah 67,10 persen, sedangkan Lampung Barat memiliki TPAK tertinggi 80,06 persen serta TPT 2,11 persen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Jumlah penduduk usia kerja di Provinsi Lampung terus bertambah dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, pada 2025, jumlahnya mencapai 7.192,54 ribu jiwa, meningkat dari 7.096,22 ribu jiwa pada 2024 dan 7.003,29 ribu jiwa pada 2023.

Pertambahan penduduk usia kerja ini berjalan seiring dengan pertumbuhan penduduk dan bertambahnya kelompok usia produktif. Di tengah kondisi tersebut, struktur tenaga kerja Lampung juga mulai berubah.

Sektor pertanian yang selama ini menjadi salah satu lapangan pekerjaan utama mengalami penurunan proporsi pekerja, sementara sektor industri dan jasa cenderung meningkat.

1. Sektor pertanian mulai berkurang dalam penyerapan tenaga kerja

ilustrasi pekerjaan di sektor pertanian (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

BPS mencatat pada 2023, sektor pertanian masih menjadi sektor yang mendominasi penduduk bekerja di Provinsi Lampung. Namun, dalam tiga tahun terakhir, proporsi penduduk yang bekerja di sektor tersebut terus menurun.

Pada 2023 porsinya mencapai 42,32 persen, turun menjadi 40,57 persen pada 2024, lalu sedikit naik menjadi 41,17 persen pada 2025. Sementara itu, proporsi pekerja di sektor industri dan jasa justru cenderung meningkat.

Sektor jasa tercatat sebesar 42,13 persen pada 2023, naik menjadi 44,06 persen pada 2024, kemudian berada di angka 43,41 persen pada 2025. Sementara sektor industri masing-masing sebesar 15,55 persen, 15,37 persen, dan 15,42 persen.

Ketergantungan terhadap sektor pertanian berkurang, sedangkan sektor jasa mulai menjadi penopang utama penyerapan tenaga kerja, khususnya pada 2024 dan 2025. Jumlah angkatan kerja Lampung sendiri meningkat dari 4.904,90 ribu jiwa pada 2023 menjadi 4.996,75 ribu jiwa pada 2024 dan 5.066,55 ribu jiwa pada 2025.

Perubahan tersebut menjadi salah satu gambaran dari perkembangan pasar kerja Lampung. Jika dilihat dari kombinasi TPAK dan TPT selama tiga tahun terakhir, partisipasi penduduk dalam angkatan kerja tetap tinggi dan tingkat pengangguran mengalami penurunan.

2. Lulusan SMA Umum paling banyak menyumbang pengangguran

ilustrasi siswa SMA (pexels.com/Chu Chup Hinh)

Kalau dilihat dari latar belakang pendidikannya, pengangguran di Lampung paling banyak berasal dari lulusan SMA Umum. Pada 2025, kelompok ini menyumbang 35,56 persen dari total pengangguran.

Sementara lulusan Diploma I/II/III menjadi kelompok dengan persentase paling rendah, yakni 1,04 persen. Namun, angka tersebut belum menunjukkan kelompok pendidikan mana yang memiliki tingkat pengangguran paling tinggi.

Jika dilihat berdasarkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), hasilnya justru berbeda. TPT mengukur persentase penganggur terhadap jumlah angkatan kerja pada masing-masing kelompok pendidikan.

Dari indikator ini, TPT tertinggi tercatat pada lulusan SMA Kejuruan sebesar 7,16 persen. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja lulusan SMA Kejuruan, sekitar 7 orang di antaranya masih menganggur. Sebaliknya, TPT terendah terdapat pada kelompok lulusan SD ke bawah, yakni 2,16 persen.

3. Bandar Lampung punya TPT tertinggi, Lampung Barat terendah

Ilustrasi pengangguran. Dok. Istimewa/IDN Times

Kondisi pasar kerja juga berbeda antarwilayah di Lampung. Kabupaten Lampung Barat mencatat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tertinggi sebesar 80,06 persen.

Artinya, sekitar 80 dari 100 penduduk usia kerja di wilayah tersebut aktif dalam pasar tenaga kerja.
Sementara itu, TPAK terendah berada di Kota Bandar Lampung sebesar 67,10 persen.

Untuk TPT, posisi keduanya kembali menunjukkan perbedaan. Bandar Lampung memiliki TPT tertinggi sebesar 7,53 persen, yang menunjukkan tekanan pasar kerja di wilayah perkotaan cukup tinggi.

Sebaliknya, TPT Lampung Barat tercatat 2,11 persen. Wilayah ini mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian dan sebagai pekerja informal.

Perbedaan tersebut memperlihatkan karakter pasar kerja di setiap wilayah Lampung tidak sama. Wilayah dengan basis pertanian dan pekerjaan informal memiliki kondisi berbeda dengan kawasan perkotaan seperti Bandar Lampung.

Curated For You

Editorial Team

Related Article