Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sudah Berhasil Meraih Sesuatu tapi Tetap Merasa Kurang? Ini Penyebabnya
ilustrasi pencapaian (pexels.com/Karola G)
  • Rasa kurang setelah meraih impian dapat dipicu kebiasaan membandingkan diri di media sosial, sehingga pencapaian pribadi terasa kalah besar dibanding keberhasilan orang lain.

  • Target yang terus bertambah, kebahagiaan yang digantungkan pada pencapaian, serta standar diri terlalu tinggi membuat keberhasilan sulit dinikmati dan berpotensi memicu kelelahan emosional.

  • Ketidakpuasan juga bisa muncul saat tujuan dikejar demi pengakuan atau harapan orang lain, bukan kebutuhan pribadi; evaluasi nilai diri membantu menentukan tujuan yang lebih bermakna.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak sih, kamu sudah berhasil meraih sesuatu yang selama ini diimpikan, tetapi setelah berhasil mendapatkannya, justru muncul perasaan kurang puas? Bukannya bahagia, kamu malah mulai memikirkan pencapaian lain yang belum terwujud.

Misalnya, kamu akhirnya mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, berhasil membeli barang impian, atau mencapai target yang sudah lama diperjuangkan. Namun, kebahagiaan itu terasa sebentar. Setelahnya, kamu kembali membandingkan diri dengan orang lain dan merasa masih tertinggal.

Perasaan seperti ini bukan berarti kamu tidak tahu bersyukur. Ada beberapa faktor psikologis yang bisa membuat seseorang sulit menikmati pencapaiannya sendiri. Yuk, kenali lima penyebabnya berikut ini.

1. Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain

ilustrasi pencapaian (pexels.com/Mikhail Nilov)

Media sosial sering kali membuat kita melihat pencapaian orang lain setiap hari. Ada teman yang baru mendapatkan promosi jabatan, membeli rumah, menikah, atau berhasil membangun bisnis di usia muda.

Tanpa disadari, pencapaian orang lain bisa menjadi standar untuk mengukur keberhasilan diri sendiri. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.

Akibatnya, sesuatu yang seharusnya patut dirayakan justru terasa biasa saja karena kita merasa orang lain sudah mencapai hal yang lebih besar. Cobalah mengalihkan fokus dari pencapaian orang lain menuju perkembangan diri sendiri. Ingat kembali posisi kamu sebelum memulai perjalanan dan sejauh apa kamu sudah melangkah.

2. Terbiasa menetapkan target terus bertambah

ilustrasi pencapaian (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Memiliki ambisi dan keinginan untuk berkembang memang bukan hal yang buruk. Namun, masalah bisa muncul ketika setiap pencapaian hanya dianggap sebagai batu loncatan menuju target berikutnya.

Ketika berhasil mencapai satu tujuan, kamu langsung menetapkan tujuan baru tanpa memberikan waktu untuk menikmati hasil kerja kerasmu. Misalnya, setelah mendapatkan pekerjaan, kamu ingin segera naik jabatan.

Setelah naik jabatan, kamu ingin mendapatkan gaji lebih besar. Begitu target tersebut tercapai, muncul lagi keinginan lain yang harus dipenuhi.

Pola ini bisa membuat kamu merasa selalu tertinggal, meskipun sebenarnya sudah mengalami banyak kemajuan. Kamu boleh memiliki target baru tanpa harus menganggap pencapaian sebelumnya tidak berarti.

Beri diri sendiri kesempatan untuk beristirahat, menikmati hasil perjuangan, dan mengakui bahwa kamu sudah melakukan sesuatu yang membanggakan.

3. Menggantungkan kebahagiaan pada pencapaian

ilustrasi pencapaian kerja (pexels.com/Yan Krukau)

Pernah berpikir kamu baru akan bahagia setelah mendapatkan pekerjaan impian, memiliki penghasilan tertentu, atau mencapai kesuksesan yang diinginkan? Jika iya, kamu mungkin terbiasa menggantungkan kebahagiaan pada kondisi tertentu di masa depan.

Pola pikir ini membuat kebahagiaan terasa seperti sesuatu yang harus diperjuangkan terus-menerus. Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul persyaratan baru sebelum kamu merasa cukup bahagia.

Padahal, pencapaian memang bisa memberikan kepuasan, tetapi tidak selalu menjamin perasaan bahagia bertahan lama. Cobalah belajar menikmati hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Kamu bisa meluangkan waktu bersama orang terdekat, menikmati hobi, atau beristirahat tanpa merasa bersalah. Kebahagiaan tidak harus selalu menunggu pencapaian besar. Kamu tetap berhak menikmati hidup meskipun masih memiliki banyak hal yang ingin diwujudkan.

4. Memiliki standar diri terlalu tinggi

ilustrasi pencapaian tergapai (freepik.com/asierromero)

Menuntut diri sendiri untuk memberikan hasil terbaik bisa membantu seseorang berkembang. Namun, standar yang terlalu tinggi justru berpotensi membuat setiap pencapaian terasa tidak pernah cukup.

Kamu mungkin merasa hasil kerja kerasmu masih kurang maksimal, pencapaianmu belum sebanding dengan usaha yang dikeluarkan, atau keberhasilanmu belum layak dibanggakan. Akibatnya, kamu kesulitan mengakui keberhasilan sendiri karena perhatian lebih banyak tertuju pada kekurangan.

Jika terus dibiarkan, pola pikir ini bisa membuat kamu mudah mengalami kelelahan emosional dan kehilangan kepuasan terhadap hal-hal yang sebenarnya sudah berhasil diraih. Belajarlah membedakan antara keinginan untuk berkembang dan tuntutan untuk selalu sempurna. Tidak semua hal harus berjalan sesuai rencana agar tetap layak diapresiasi.

Sesekali, tanyakan kepada diri sendiri, "Kalau orang lain berada di posisi saya dan berhasil melakukan hal yang sama, apakah saya akan menganggapnya sebagai pencapaian?"

Pertanyaan sederhana ini bisa membantu kamu melihat keberhasilan dengan lebih adil.

5. Tidak mengenali apa yang sebenarnya dibutuhkan

ilustrasi pencapaian (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

Terkadang, perasaan kurang puas muncul bukan karena pencapaian yang diraih terlalu kecil, melainkan karena pencapaian tersebut tidak benar-benar sesuai dengan kebutuhan diri sendiri. Misalnya, kamu mengejar jabatan tinggi karena ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Kamu berusaha memiliki barang mahal agar dianggap berhasil, atau mengikuti pilihan karier tertentu karena merasa harus memenuhi harapan keluarga. Ketika tujuan itu akhirnya tercapai, kamu mungkin tetap merasa kosong karena kebutuhan emosional yang sebenarnya belum terpenuhi.

Kondisi ini menjadi pengingat keberhasilan tidak selalu bisa diukur melalui status, materi, atau pengakuan orang lain. Cobalah mengevaluasi kembali tujuan yang sedang kamu kejar. Apakah hal tersebut benar-benar kamu inginkan atau justru sesuatu yang kamu anggap harus dimiliki agar tidak merasa tertinggal?

Mengenali nilai dan kebutuhan pribadi bisa membantu kamu menentukan tujuan yang lebih bermakna. Dengan begitu, kamu tidak hanya sibuk mengejar keberhasilan, tetapi juga memahami alasan di balik setiap perjuangan.

Merasa kurang meskipun sudah berhasil meraih sesuatu bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, target yang terus bertambah, hingga standar pribadi yang terlalu tinggi.

Perasaan tersebut tidak otomatis berarti kamu kurang bersyukur. Namun, jika terus terjadi, ada baiknya kamu mengevaluasi cara memandang keberhasilan dan kebahagiaan.

Ingat, hidup bukan perlombaan untuk membuktikan bahwa kamu lebih sukses daripada orang lain. Kamu tetap boleh memiliki ambisi, menetapkan target baru, dan berusaha menjadi lebih baik tanpa harus meremehkan pencapaian yang sudah diraih.

Curated For You

Editorial Team

Related Article