Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pemilu 2024 di Lampung Kondusif, Ini Tanggapan Akademisi dan Gen Z
hitung cepat Lembang Survei ALSHCI, Rakata, dan Kuadran. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Bandar Lampung, IDN Times - Penghitungan suara Pemilu 2024 terus berlanjut hingga hari ini Kamis, (15/2/2024). Namun hasil perolehan suara saat ini baru beradasarkan hitung cepat (quick count) menggunakan metode ilmiah statistik.

Sedangkan hasil resmi perolehan suara Pemilu akan dilakukan lewat mekanisme rekapitulasi dilakukan secara berjenjang mulai dari PPK sampai KPU RI. Berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 2017 KPU menetapkan hasil perolehan suara Pemilu paling lambat 35 hari setelah hari pemungutan suara.

Akademisi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung, Budi Harjo menyampaikan, secara umum kondisi politik di Lampung masih kondusif. Meski terjadi dinamika perbedaan pendapat setelah adanya hasil quick count, menurutnya pemahaman masyarakat sudah mulai meningkat tentang bagaimana menajaga situasi dan kondisi politik saat ini. 

“Iya, kalau pun terjadi kendala tentu mereka sudah mempersiapkan menggunakan jalur-jalur resmi sesuai peraturan yang ada. Tapi situasi dan kondisinya tetap kondusif yang saya lihat,” kata Dosen Ilmu Pemerintahan tersebut kepada IDN Times, Kamis (15/2/2024).

1. Proses pemilu belum selesai, tunggu hasil PKPU

Penampakan Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Kota Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Terkait hasil quick count saat ini menurut Budi belum saatnya pihak yang unggul langsung menyatakan kemenangan. Itu sama halnya tidak menghargai negara dan KPU sebagai lembaga penyelenggara Pemilu yang memiliki hak menyampaikan hasil resminya.

“Kita juga belum bisa mengatakan terjadinya kecurangan, saya kira dengan metode yang mereka gunakan kita harus menghargai hasilnya. Tapi pihak yang unggul dalam quick count bukan berarti kemudian membusungkan dada, menyatakan sikap yang akan memprovokasi terjadinya konflik. Silakan saja gembira dengan hasilnya, tapi tidak harus bereaksi berlebihan atau menunjukkan keangkuhan,” jelasnya.

Budi menganggap, proses Pemilu 2024 ini belum selesai, masih ada proses-proses lebih lanjut harus dihargai. Menurutnya jika pihak yang kalah membuat strategi menghimpun kecurangan yang ada dan mempersoalkan itu sampai proses hukum, juga harus dihargai  selama itu dilakukan sesuai mekanisme yang baik.

2. Merayakan hasil quick count berlebihan bisa memicu konflik

Budi Harjo, Akademisi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung (IDN Times/Istimewa)

Budi mengkhawatirkan, jika pihak yang unggul dalam quick count sudah menyatakan kemanangan sebelum Keputusan KPU, akan terjadi benturan dan konflik terbuka dengan pihak-pihak dinyatakan kalah pada hasil survei tersebut.

“Supaya tidak terjadi konflik terbuka, maka reaksi kemenangannya jangan berlebihan karena itu akan menimbulkan reaksi yang kuat dari yang dinyatakan kalah, kemudian nanti menjadi benturan fisik. Jadi, jangan sampai itu terjadi. Semua harus menjaga situasi, yang menang harus bijak yang kalah juga bijak. Pokoknya semua kita hargai sampai ada keputusan dari penyelenggara,” terangnya.

3. Pesta demokrasi di Lampung tak sekadar ramai baliho tapi gagasan program caleg

Presiden BEM ITERA, Erza Refenza (instagram/erzarefenza)

Menurut Presiden BEM Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Erza Refenza, hitung suara hasil Pemilu harus dikawal sebaik-sebaiknya dengan langkah menuju pemilu damai untuk kemajuan Republik Indonesia. Menurutnya hasil suara dari quick count saat ini harus dikawal untuk menghindari terjadinya kecurangan atau kegagalan system yang akan merugikan para kandidat.

“Untuk kubu A, B atau C, sebaiknya kita tunggu saja hal tersebut sampai KPU resmi mengumumkan siapa saja yang terpilih dan mendapatkan mandat dari masyarakat untuk memimpin indonesia di 5 tahun nanti,” katanya.

Erza juga mengamati bagaimana para caleg di Lampung memiliki keunikan dan cara masing-masing  dalam memenangkan kursi di senayan, provinsi, kabupaten/kota. Menurutnya, banyak petahana maupun pendatang baru di dunia politik yang ada di Lampung membuat meriah pesta demokrasi bukan sekadar baliho. Melainkan, program dirasakan benar-benar ada oleh caleg yang benar-benar amanah dalam membangun dan memberikan aspirasinya untuk kemajuan Lampung.

”Saya lihat di media tahapan quick count legislatif sangat sengit dan benar-benar dapil neraka.  Saya harap hasil quick count ini benar benar sama dengan hasil KPU yang akan diresmikan sebentar lagi oleh pihak yg berwenang,” ujarnya.

4. Optimis pemilu terselenggara dengan jujur dan adil

Ilustrasi TPS di Provinsi Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Salah satu  mahasiswa Unila Wahyu Hidayah mengatakan, sebagai Gen Z , ia memilih calon memiliki pandangan sejalan dengan nilai dan kepentingan bangsa. Sebelum memilih, ia meluangkan waktu untuk melakukan riset data di berbagai media massa yang akurat dan terpercaya tentang calon peserta pemilu dan partai politik yang berpartisipasi dalam pemilu.

Selain itu, ia juga mempelajari program, visi, misi, serta rekam jejak dan integritas kandidat untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keputusan politik yang diibuat serta meninjau rencana-rencana calon terkait isu-isu seperti pendidikan, lingkungan, ekonomi, dan Kesehatan.

“ Saya percaya dan optimis dengan adanya upaya-upaya perubahan di berbagai bidang dan aspek, Indonesia dapat terlepas dari jeratan kata belum Sejahtera. Serta pemilu jujur, adil, dan pemilih yang baik akan mengantarkan Indonesia menjadi negara berdaulat,” ujarnya.

Editorial Team

Related Article