Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

OMC Dihentikan, 30 Hektare Area Way Kambas Masih Terindikasi Terbakar

Bandar Lampung
3 min read
OMC Dihentikan, 30 Hektare Area Way Kambas Masih Terindikasi Terbakar
Konferensi pers penanganan kebakaran dan perkembangan Gunung Anak Krakatau oleh Pemprov Lampung. (Dok. Pemprov Lampung).
  • Penanganan karhutla di Taman Nasional Way Kambas memasuki hari ke-24, dengan sekitar 30 hektare area masih terindikasi terbakar atau berasap.

  • Operasi modifikasi cuaca dihentikan 18 Oktober karena tidak ada awan potensial; selama operasi khusus TNWK, 3.000 kilogram NaCl disemai dalam tiga sorti.

  • Sejak 25 September, water bombing dilakukan 923 kali mencakup 124 hektare, sementara pemadaman darat mencapai 192 hektare; BPBD dan BNPB menyiapkan tambahan peralatan serta 350 personel.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Timur, IDN Times - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur masih terus berlangsung. Seluas 30 hektare area masih terindikasi terbakar atau mengeluarkan asap.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi mengatakan, penanganan karhutla di Way Kambas kini memasuki hari ke-24 sejak 25 September 2026 serta dilakukan melalui operasi udara dan darat secara bersamaan, termasuk kegiatan operasi modifikasi cuaca (OMC).

"Operasi modifikasi cuaca dihentikan per hari tanggal 18 Oktober, karena tidak ditemukan awan potensial untuk disemai," ujarnya dalam laporan penanganan karhutla, Senin (19/10/2026).

  1. 1. OMC 3 hari fokus semai awan di TNWK

    Operasi modifikasi cuaca (OMC) digelar di wilayah Provinsi Lampung
    Operasi modifikasi cuaca (OMC) digelar di wilayah Provinsi Lampung. (Dok. Pemprov Lampung).

    Aswarodi menjelaskan, OMC khusus untuk wilayah TNWK dilaksanakan selama tiga hari, yakni 11-13 Oktober 2026. Operasi tersebut melibatkan BPBD Lampung bersama BNPB dan BMKG dengan prioritas wilayah terdeteksi memiliki titik panas, terutama kawasan TNWK.

    Dukungan pesawat OMC berasal dari BNPB menggunakan pesawat Cessna 208BEX dan helikopter FH 8HL yang berpangkalan di Bandara Internasional Raden Inten II, Lampung Selatan.

    "Total penerbangan tiga sorti, dengan waktu terbang 6 jam 16 menit dan bahan semai yang disebarkan sebanyak 3.000 kilogram NaCl," katanya.

    Penyemaian pada 11 Oktober difokuskan di kawasan TNWK. Sehari berikutnya diperluas ke TNWK dan Lampung Timur, sedangkan pada 13 Oktober mencakup Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Tulang Bawang. "BMKG turut mendukung melalui analisis cuaca, radar, satelit, serta pemantauan titik panas," lanjut dia.

  2. 2. Water bombing sudah 923 kali, siram 124 hektare

    Helikopter digunakan water boombing di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur
    Helikopter digunakan water boombing di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. (Dok. Pemprov Lampung).

    Setelah operasi khusus TNWK pada 11-13 Oktober, Aswarodi menyebutkan, OMC dilanjutkan pada 14-18 Oktober dengan dua sasaran, yakni Lampung dan Palembang. Namun, bibit awan memenuhi syarat untuk penyemaian tidak ditemukan di wilayah Lampung.

    "Fokus OMC dilaksanakan penyemaian untuk daerah Sumatra Selatan atau Palembang. Untuk Palembang bahan semainya dry ice, sedangkan untuk Lampung menggunakan NaCl," kata Aswarodi.

    Selain OMC, BNPB juga memberikan dukungan melalui operasi helikopter water bombing. Pada 18 Oktober, helikopter melakukan 35 kali penyiraman dalam satu sorti dengan estimasi area terkena siraman mencapai sekitar 3 hektare.

    Secara akumulatif sejak 25 September hingga 18 Oktober, water bombing telah dilakukan sedikitnya 923 kali dengan estimasi area terkena siraman mencapai sekitar 124 hektare.

    "Pemadaman darat difokuskan di titik B dan D, sedangkan water bombing difokuskan di area yang tidak dapat dijangkau oleh tim satgas darat," jelasnya.

  3. 3. Pemadaman darat sudah capai 192 hektare

    Konferensi pers penanganan kebakaran dan perkembangan Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung, Senin (19/10/2026).
    Konferensi pers penanganan kebakaran dan perkembangan Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung, Senin (19/10/2026). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

    Penanganan juga dilakukan melalui satgas darat pada 18 Oktober mengerahkan empat tim. Mereka melakukan pemantauan menggunakan drone, pemadaman di rawa Gelam, membuka jalur sekitar 6 kilometer menuju titik D, serta memadamkan api di titik B.

    Di titik B, petugas menggunakan tiga pompa portable dirangkai secara seri dan dilengkapi jet shooter. "Hasil hari ini sekitar 2 hektare dipadamkan di titik B dan sekitar 0,3 hektare di rawa Gelam," ucap Aswarodi.

    Dengan tambahan tersebut, total luasan pemadaman melalui operasi darat sejak 25 September hingga 18 Oktober mencapai sekitar 192 hektare. "Peralatan yang digunakan di lapangan di antaranya dua drone dan 26 jet shooter," sambung dia.

  4. 4. Masih ada 30 hektare terindikasi terbakar

    Konferensi pers penanganan kebakaran dan perkembangan Gunung Anak Krakatau oleh Pemprov Lampung
    Konferensi pers penanganan kebakaran dan perkembangan Gunung Anak Krakatau oleh Pemprov Lampung. (Dok. Pemprov Lampung).

    Meski pemadaman terus dilakukan, Aswarodi menyebutkan, hasil pemantauan drone menunjukkan masih terdapat sekitar 30 hektare area yang terindikasi terbakar atau berasap. Rinciannya, sekitar 3 hektare berada di titik B, 13 hektare di titik C, serta titik D sekitar 8 dan 6 hektare.

    Menurutnya, kondisi vegetasi rapat menjadi salah satu kendala utama petugas dalam melakukan pemadaman. Selain itu, sumber air dari Sungai Way Pegadungan berjarak sekitar 1,5 kilometer dari titik api.

    "Untuk mempercepat penanganan, BPBD Lampung bersama BNPB menyiapkan tambahan dukungan peralatan bagi satgas darat. Kita berharap bantuan peralatan dan penambahan personel berjumlah 350 ini mampu mengoptimalkan pemadaman melalui operasi satgas darat," imbuh Aswarodi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More