Karhutla Way Kambas, Kendala Pemadaman hingga Pemetaan Dampak Satwa

Pemadaman karhutla di Taman Nasional Way Kambas terkendala lahan gambut, vegetasi kering, angin pesisir, akses sulit, dan jarak sumber air yang jauh dari titik api.
Tim gabungan mengandalkan Sungai Way Pegadungan untuk pemadaman, sambil mengevaluasi peralatan, personel, akses, ketersediaan air, serta melakukan penyisiran dan pembasahan berulang.
Dampak terhadap gajah, harimau, dan satwa lain masih dipetakan; Kementerian Kehutanan menyiapkan pencegahan, sementara luas area terbakar menunggu pengukuran dan verifikasi.
Lampung Timur, IDN Times - Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur diakui menghadapi sejumlah kendala. Kondisi lahan bergambut, sulitnya akses menuju titik api, hingga jauhnya sumber air menjadi tantangan bagi tim gabungan di lapangan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri (Karo Humas dan KLN) Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi mengatakan, karakteristik kawasan menjadi salah satu faktor utama yang membuat proses pemadaman tidak mudah.
"Pada lokasi bergambut, api juga dapat merambat di bawah permukaan dan menyisakan bara yang berpotensi kembali menyala meskipun api di permukaan telah padam," ujarnya dimintai keterangan.
1. Api bisa menjalar di bawah permukaan gambut

Potret udara karhutla di TN Way Kambas, Lampung Timur, Kamis (1/10/2026). (Dok. Balai TNWK) Ristianto melanjutkan, kondisi vegetasi kering dan rendahnya kelembapan bahan bakar turut memperbesar tantangan pemadaman. Angin di wilayah pesisir juga disebut dapat memengaruhi penyebaran api.
Oleh karena itu, pemadaman tidak cukup hanya dengan mengendalikan api yang terlihat di permukaan. Petugas disebut harus melakukan penyisiran, pemeriksaan, dan pembasahan secara berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.
"Berbagai kendala tersebut menjadi bagian dari evaluasi untuk menentukan kebutuhan dukungan dan langkah operasional di lapangan," katanya.
2. Sumber air masih mengandalkan Sungai Way Pegadungan

Satuan Elit TNI "Tim Alfa" diterjunkan ke titik api di Karhutla TN Way Kambas, Lampung Timur. (IDN Times/Istimewa). Ristianto menyebutkan, kendala lain adalah akses menuju lokasi kebakaran tidak mudah. Menurutnya, jarak sumber air dari titik api juga menjadi persoalan karena saat ini kebutuhan air pemadaman masih mengandalkan Sungai Way Pegadungan.
Alhasil, kondisi tersebut diakui membuat distribusi air ke lokasi kebakaran membutuhkan dukungan operasional yang tidak sedikit.
"Tim gabungan terus mengevaluasi metode pemadaman, efektivitas peralatan, penempatan personel, ketersediaan air, akses menuju titik api hingga proses pendinginan setelah api utama berhasil dikendalikan," ucap dia.
3. Dampak kebakaran terhadap satwa masih dipetakan

Lokasi penangkara konservasi Taman Nasional Way Kambas (TNWK). (IDN Times/Istimewa). Selain mengendalikan api, Kementerian Kehutanan juga memperhatikan dampak kebakaran terhadap satwa liar berada di kawasan TNWK. Pasalnya, kebakaran berpotensi mengurangi tutupan vegetasi, tempat berlindung, ketersediaan pakan hingga mengganggu jalur pergerakan satwa.
Namun, luas area terbakar tidak serta-merta dapat disamakan dengan luas habitat yang terdampak. "Penilaian dampak terhadap gajah sumatra, harimau sumatra, dan satwa lainnya memerlukan pemetaan lokasi kebakaran yang ditumpangsusunkan dengan peta habitat, wilayah jelajah, serta data pemantauan satwa," jelas Ristianto.
Berdasarkan pengamatan petugas di lapangan, keberadaan gajah masih ditemukan di sekitar lokasi kebakaran. Petugas juga menemukan jejak baru gajah dan masih mendapati vegetasi yang tidak terbakar di sekitar lokasi.
Meski demikian, kondisi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan besarnya dampak kebakaran terhadap satwa maupun daya dukung habitat. "Survei lapangan yang lebih menyeluruh akan dilakukan setelah kebakaran terkendali dan kondisi memungkinkan petugas bekerja dengan aman," sambungnya.
4. Sebut siapkan langkah pencegahan

Petugas memadamkan api di kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Minggu (20/9/2026). (IDN Times/Istimewa). Ristianto menambahkan, penanganan karhutla TNWK dilakukan bersama unsur gabungan, mulai dari BPBD, TNI, Polri, BMKG, tim pemadam udara, hingga pihak terkait lainnya. Dalam jangka pendek, fokus diarahkan pada identifikasi seluruh titik api aktif, penyisiran lokasi yang masih berasap, serta pembasahan untuk mencegah munculnya kembali api dari bara yang tersisa.
Kementerian Kehutanan juga menyiapkan langkah pencegahan untuk mengantisipasi kebakaran berikutnya. Di antaranya pemetaan daerah rawan, penguatan sistem peringatan dini, patroli dan pengawasan, pelibatan masyarakat, serta pengaktifan posko siaga dan pos pantau.
"Pengembangan sumber air melalui sumur bor dan embung juga menjadi bagian dari rencana penguatan kesiapsiagaan, terutama di lokasi rawan yang sulit dijangkau," kata dia.
5. Luas karhutla masih menunggu verifikasi

Potret udara kebakaran hutan dan lahan di TN Way Kambas, Lampung Timur. (IDN Times/Istimewa). Terkait luasan area yang terbakar maupun kawasan telah berhasil dipadamkan, Ristianto mengatakan, pihaknya masih memusatkan perhatian pada pengendalian kebakaran. Angka luasan akan disampaikan setelah dilakukan pengukuran dan verifikasi memadai.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar data disampaikan kepada masyarakat akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Kemenhut berkomitmen untuk terus menyampaikan perkembangan penanganan, sekaligus memastikan evaluasi dan pemulihan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perlindungan Taman Nasional Way Kambas," imbuhnya.




















