Mahasiswa Korban Diksar Unila Diancam Dibunuh Senior dan Alumni

- Mahasiswa Unila meninggal akibat penganiayaan dan ancaman pembunuhan saat mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan.
- Anak korban Pratama mengancam tidak melaporkan peristiwa tersebut karena khawatir akan keselamatan dirinya dan keluarga.
- Korban Pratama mengalami aksi penganiayaan berupa tendangan, tonjokan, injakan hingga kuku kakinya copot, diduga dilakukan oleh senior atau alumni kegiatan diksar tersebut.
Bandar Lampung, IDN Times - Korban mahasiswa Universitas Lampung (Unila), Pratama Wijaya Kusuma meninggal dunia akibat aksi penganiayaan dan kekerasan saat mengikuti pendidikan dasar Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel) sempat mendapatkan ancaman pembunuhan.
Ibu korban Pratama, Wirnawani (40) mengatakan, ancaman pembunuhan tersebut diutarakan sang putra saat memohon kepada dirinya agar tidak melaporkan peristiwa dialaminya saat mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan (Ormawa) tersebut.
"Dia sempat nolak saya bawa ke rumah sakit, katanya 'nanti ketahuan karena saya diancam mama, nanti diancam kita pulang aja, diem mama jangan ngomong-ngomong kalau mama sayang Udo (panggilan kakak bagi suku Lampung)," ujarnya dimintai keterangan usai melaporkan peristiwa ke Mapolda Lampung, Selasa (3/6/2025).
1. Ancaman pembunuhan

Bukan sekedar intimidasi biasa, Wirna melanjutkan, ancaman dimaksud korban Pratama cukup serius bahkan bisa menyasar terhadap keselamatan dirinya bersama sanak keluarga.
"Mama jangan cerita-cerita nyawaku ini diancam, rumah kita jauh nanti, aku diincer mama mau dibunuh katanya gitu," ucapnya menirukan setiap kalimat yang dilontarkan korban.
2. Para pelaku diduga senior hingga alumni Ormawa

Mendengar ucapan putranya tersebut, Wirna langsung berusaha memenangkan diri korban Pratama, agar mengikuti kemauannya untuk menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit.
Meski tak mengetahui pasti asal muasal ancaman dimaksud, ia menduga upaya intimidasi terhadap korban itu datang dari para senior maupun alumni yang hadir mengikuti kegiatan diksar tersebut.
"Gak tahu saya, karena dia gak cerita siapa yang mengancam cuma dia ngomong gitu aja saat mau saya bawa periksa ke dokter," imbuh dia.
3. Tendangan hingga injakan di bagian perut sampai kepala

Ihwal tindakan kekerasan dialami korban Pratama, Wirna menyampaikan, putra sulungnya ini sempat berujar mengalami sederet aksi penganiayaan mulai dari tendangan, tonjokan, injakan pada bagian kepala, perut, hingga kaki.
Lebih dari itu, serangkaian peristiwa kekerasan dialaminya Pratama bahkan sampai mengakibatkan kuku bagian kaki korban copot. "Ini sangat keji sekali, saya minta usut secara tuntas, hukum (para pelaku penganiayaan dan kekerasan) seberat-beratnya," tegas ibu kandung korban.