Macet MBK Belum Terurai, Dishub Balam Uji Rekayasa Lalu Lintas

Kemacetan di kawasan MBK, Jalan Teuku Umar, belum sepenuhnya terurai, terutama saat sore dan akhir pekan, karena pertemuan arus padat dari Tanjung Karang, Way Halim, dan Rajabasa.
Dishub Bandar Lampung masih menguji rekayasa lalu lintas, termasuk pemisahan jalur motor-mobil, penutupan sebagian akses, serta pengaturan petugas, sebelum menetapkan skema paling efektif.
Antrean BBM di sekitar SPBU turut menambah kepadatan saat volume kendaraan tinggi. Dishub juga menutup U-turn sebelum Pasar Raden Intan secara situasional dan belum permanen.
Take a Deeper Reads

Bandar Lampung, IDN Times – Meski sudah melakukan penguraian, kemacetan di kawasan Mall Boemi Kedaton (MBK), Jalan Teuku Umar, Bandar Lampung, belum sepenuhnya terurai.
Kemacetan kerap terjadi terutama pada jam sibuk, seperti sore hari dan akhir pekan yang memang banyak pengunjung dan pengendara yang lewat.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandar Lampung masih menguji sejumlah skema rekayasa lalu lintas untuk mencari pola pengaturan arus yang paling efektif.
Kepala Dishub Kota Bandar Lampung, Socrat Pringgodanu, mengatakan rekayasa lalu lintas di bawah flyover MBK belum memasuki tahap final. Sejumlah skema masih diterapkan secara uji coba dengan melihat kondisi arus kendaraan di lapangan.
"Di bawah flyover MBK kita sedang uji coba. Uji coba beberapa moda-moda rekayasa. Sampai dengan saat ini belum final memang," kata Socrat seusai paripurna di Kantor DPRD Kota Bandar Lampung, Selasa (6/10/2026).
1. Arus kendaraan dari berbagai arah bertemu di MBK

Suasana kemacetan di MBK. (IDN Times/Muhaimin) Socrat menjelaskan, kepadatan di kawasan MBK salah satunya dipicu pertemuan arus kendaraan dari sejumlah arah.
Kendaraan dari Tanjung Karang menuju Way Halim dan kendaraan dari Way Halim menuju Rajabasa sama-sama melintasi kawasan tersebut. Volume kendaraan yang tinggi membuat kepadatan semakin terasa, terutama pada jam sibuk.
"Memang di situlah pertemuan arus yang dari Tanjung Karang ke Way Halim, dari Way Halim mau ke Rajabasa. Kan itu memang arus yang sangat-sangat padat," jelasnya.
Menurut Socrat, kemacetan di kawasan tersebut tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya. Namun, rekayasa lalu lintas dilakukan untuk menekan kepadatan dan menjaga arus kendaraan tetap bergerak.
"Kemacetan memang gak mungkin bisa hilang, tapi paling tidak kita minimalisir. Dengan adanya rekayasa, kita minimalisir," ujarnya.
2. Dishub uji pemisahan arus motor dan mobil

Kadishub Kota Bandar Lampung, Socrat Pringgodanu. (IDN Times/Muhaimin) Untuk mengurangi kepadatan, Dishub telah mencoba sejumlah pola pengaturan. Salah satunya memisahkan pergerakan kendaraan roda dua dan roda empat.
Dishub juga mencoba menutup sebagian akses tertentu serta menempatkan petugas untuk mengatur pergerakan kendaraan.
"Kita coba pisahkan motor mobil, kita coba tutup sebagian, tutup sebagian, kita kasih petugas," kata Socrat.
Namun, skema tersebut belum ditetapkan sebagai pola permanen. Dishub masih mengevaluasi hasil uji coba sebelum menentukan rekayasa lalu lintas yang akan diterapkan.
"Nanti langkah yang lebih efektif, lebih efisien, itu pasti akan kita ambil," ujarnya.
3. Antrean BBM ikut memperparah kepadatan

Ilustrasi antrean BBM. (Pexels.com/Lucas Sammarco) Selain volume kendaraan, kondisi di sekitar SPBU kawasan MBK juga menjadi perhatian Dishub. Antrean kendaraan untuk mengisi BBM dinilai ikut memberikan tambahan beban terhadap arus lalu lintas.
"Antrean BBM itu ada pengaruhnya ya. Tetapi memang kan kemacetan ini ada di waktu-waktu tertentu, waktu-waktu sibuk," kata Socrat.
Menurutnya, antrean tersebut bukan menjadi satu-satunya penyebab kemacetan. Namun, ketika terjadi bersamaan dengan tingginya volume kendaraan, kondisi itu membuat arus lalu lintas semakin padat.
"Ditambah lagi ada antrean, juga memang menyumbang tambah padatnya lalu lintas di daerah MBK," sambungnya.
4. U-turn ditutup untuk membantu mengurai arus

U-Turn di Jl. Teuku Umar Bandar Lampung. (IDN Times/Muhaimin) Sebagai bagian dari rekayasa, Dishub juga telah menutup salah satu titik putar balik atau U-turn dari arah MBK. Lokasinya berada sebelum kawasan Koga, tepatnya sebelum titik Pasar Raden Intan.
"Sudah. Kan kita sudah kemarin sudah tutup yang di atas. Yang dekat, sebelum Koga ya, kalau dari MBK sebelum titik Raden Intan itu, Pasar Raden Intan," jelas Socrat.
Namun, penutupan U-turn tersebut belum bersifat permanen. Dishub masih melihat kondisi lalu lintas setelah rekayasa diterapkan.
Socrat menegaskan, seluruh rekayasa lalu lintas dapat berubah mengikuti situasi di lapangan.
"Ditutup atau tidaknya permanen, yang jelas rekayasa lalu lintas itu tidak akan permanen. Namanya rekayasa lalu lintas itu pasti akan situasional melihat kondisi yang ada," tuturnya.





















