Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kisah Mahasiswa Itera Raih Juara 1 Kompetisi HAGI sambil Garap Skripsi
Mahasiswa Itera, Sultan Fakhri Raih Juara pertama HAGI Student Competition (Dok.humas/itera)
  • Sultan Fakhri, mahasiswa Teknik Geofisika Itera angkatan 2022, meraih juara pertama dan Best Presenter HAGI Student Competition di Bandung, 12–15 Oktober 2026.

  • Sambil mengerjakan skripsi, Sultan menyiapkan lomba interpretasi seismik melalui konsultasi dosen, evaluasi kompetisi sebelumnya, serta presentasi poster ilmiah karakterisasi reservoir.

  • Keterbatasan komputer dan perangkat lunak diatasi dengan laboratorium kampus serta lisensi panitia; Sultan mengapresiasi dukungan orang tua dan dosen dalam proses belajarnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Meraih prestasi di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi tentu bukan perkara mudah. Namun, hal itu berhasil dilakukan Sultan Fakhri, mahasiswa Program Studi Teknik Geofisika Institut Teknologi Sumatera (Itera) angkatan 2022.

Ia meraih juara pertama sekaligus penghargaan Best Presenter dalam HAGI Student Competition di Bandung pada 12–15 Oktober 2026. Prestasi tersebut diraih dalam rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-51 Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI).

Tak hanya mengikuti kompetisi, Sultan juga mempresentasikan poster ilmiah tentang workflow atau alur kerja karakterisasi reservoir dalam sesi Technical Program Paper Poster. Di balik pencapaiannya, ada persiapan panjang, keterbatasan fasilitas, dan kemauan untuk terus belajar dari pengalaman.

1. Siapkan kompetisi di tengah kesibukan mengerjakan skripsi

Ilustrasi menggerjakan tugas (Pexel/olia danilevich)

Sultan sudah memasang target sejak awal mengikuti HAGI Student Competition. Ia ingin masuk tiga besar sekaligus membawa pulang penghargaan Best Presenter. Target itu kemudian menjadi motivasi untuk mempersiapkan diri, meski ia juga harus membagi waktu dengan pengerjaan skripsi.

Ketertarikannya mengikuti lomba interpretasi seismik berawal dari tantangan yang ditawarkan bidang tersebut. Menurut Sultan, seismik refleksi merupakan salah satu metode yang sulit dalam geofisika sehingga tidak banyak mahasiswa mendalaminya.

Ia juga melihat kompetisi sebagai kesempatan untuk mengasah kemampuan profesional. Terlebih, kesempatan magang yang terbatas membuatnya perlu mencari cara lain untuk mendapatkan pengalaman dan mengembangkan keterampilan di bidang yang dipelajarinya.

“Lomba-lomba seperti ini jadi pilihan yang pas. Selama persiapan, saya berkonsultasi dengan dosen bidang seismik sekaligus alumni Itera, Bapak Asido Saputra Sigalingging. Pengalaman mengikuti kompetisi sebelumnya juga menjadi bahan evaluasi saya untuk memperbaiki," terangnya.

Setelah berhasil meraih kemenangan, Sultan berusaha meminta kritik dari juri. Sementara ketika belum berhasil, ia mempelajari pendekatan para juara untuk mengetahui hal-hal yang masih perlu ditingkatkan.

“Dengan begitu, saya berupaya meningkatkan kapasitas diri,” ujarnya.

2. Hadapi keterbatasan fasilitas dengan memanfaatkan sarana kampus

Ilustrasi mengerjakan tugas (Pexel/Tim Gouw)

Perjalanan Sultan menuju kompetisi tidak sepenuhnya berjalan mulus. Salah satu tantangan dihadapinya adalah keterbatasan fasilitas, terutama komputer dan perangkat lunak berlisensi resmi untuk mendukung persiapan.

Selama lebih dari satu bulan persiapan hingga pelaksanaan lomba, ia memanfaatkan komputer laboratorium kampus. Untuk kebutuhan perangkat lunak, Sultan menggunakan lisensi yang disediakan panitia.

Di tengah keterbatasan tersebut, ia tetap berusaha memaksimalkan waktu persiapan. Menurutnya, keberhasilan dalam kompetisi tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga usaha, diskusi dengan orang yang berpengalaman, serta penguasaan materi yang dibangun sejak dini.

“Pemahaman geofisika dan geologi itu perlu diasah dari jauh-jauh hari supaya bisa menghasilkan hal seperti ini,” kata Sultan.

3. Ajak mahasiswa Itera berani mencoba dan jangan minder

Ilustrasi Penelitian (Pexel/Canva Studio)

Di balik pencapaiannya, Sultan mengapresiasi dukungan orang tua dan para dosen yang turut membantu proses belajarnya. Ia secara khusus menyebut dosen pembimbingnya, Handoyo, yang membantunya mendalami keilmuan geofisika hingga mengasah keterampilan presentasi.

“Semua pihak yang terlibat menurut saya jadi pondasi utama sehingga saya bisa berdiri sekarang,” tuturnya.

Sultan berharap, pencapaiannya bisa menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain, khususnya mereka yang masih ragu mengikuti kompetisi. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak minder meski Itera merupakan perguruan tinggi yang relatif muda.

“Kalau diibaratkan manusia, kita masih seumuran anak SMP. Tanamkan di mindset, kalau kita tidak bisa terkenal karena kampus, kita buat kampus kita terkenal karena kita,” katanya.

Ia juga mengingatkan kegagalan merupakan bagian dari proses belajar. Mencoba sesuatu yang baru memang tidak selalu berakhir dengan kemenangan, tetapi pengalaman tersebut bisa menjadi bekal untuk memperbaiki diri.

Bagi Sultan, lebih baik berani mencoba dan menghadapi kegagalan daripada terus menyimpan keraguan hingga akhirnya menyesal karena tidak pernah memulai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article