Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kemiskinan Lampung Turun, tapi Beras Penyumbang Terbesar Garis Kemiskinan

Bandar Lampung
2 min read
Kemiskinan Lampung Turun, tapi Beras Penyumbang Terbesar Garis Kemiskinan
ilustrasi kemiskinan (pexels.com/timurweber)
  • Jumlah penduduk miskin Lampung pada Maret 2026 turun menjadi 831,89 ribu jiwa atau 9,31 persen, berkurang 55,13 ribu jiwa dibanding Maret 2025.

  • Indeks Kedalaman Kemiskinan turun menjadi 1,267 dan Indeks Keparahan Kemiskinan menjadi 0,257 pada Maret 2026, setelah keduanya meningkat pada 2025.

  • Garis kemiskinan naik menjadi Rp657.467 pada Maret 2026; makanan mendominasi sumbangan, dengan beras sebagai komoditas terbesar di perkotaan dan perdesaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Kabar baik datang dari kondisi kemiskinan di Provinsi Lampung. Dalam dua tahun terakhir, jumlah penduduk miskin terus berkurang dan persentasenya ikut menurun.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, perkembangan ini terlihat dari data Maret 2024 hingga Maret 2026. Meski begitu, garis kemiskinan juga mengalami kenaikan dan kebutuhan makanan masih menjadi penyumbang terbesar.

Berikut tiga fakta kondisi kemiskinan Lampung pada Maret 2026.

  1. 1. Penduduk miskin Lampung turun 55,13 ribu jiwa

    Ilustrasi kemiskinan (Foto: IDN Times)
    Ilustrasi kemiskinan (Foto: IDN Times)

    Jumlah penduduk miskin di Lampung pada Maret 2026 tercatat 831,89 ribu jiwa atau 9,31 persen. Angka tersebut berkurang 55,13 ribu jiwa dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 887,02 ribu jiwa atau 10 persen.

    Penurunan juga terlihat jika dibandingkan dengan Maret 2024. Saat itu, penduduk miskin Lampung mencapai 941,23 ribu jiwa dengan persentase 10,69 persen.

    Berdasarkan wilayah tempat tinggal, penduduk miskin di perkotaan pada Maret 2026 sebanyak 228,54 ribu jiwa, turun dari 229,16 ribu jiwa pada 2025. Sementara di perdesaan turun dari 657,85 ribu jiwa menjadi 603,35 ribu jiwa.

  2. 2. Kedalaman dan keparahan kemiskinan ikut menurun

    Ilustrasi kemiskinan (Foto: IDN Times)
    Ilustrasi kemiskinan (Foto: IDN Times)

    Selain melihat jumlah penduduk miskin, kondisi kemiskinan juga dapat dilihat melalui Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2).
    Berdasarkan catatan BPS Lampung, P1 pada Maret 2024 berada di angka 1,532, kemudian naik tipis menjadi 1,539 pada Maret 2025. Pada Maret 2026, indeks tersebut turun menjadi 1,267.

    Sementara itu, P2 tercatat 0,331 pada Maret 2024 dan meningkat menjadi 0,344 pada Maret 2025. Angkanya kemudian turun menjadi 0,257 pada Maret 2026.

  3. 3. Beras masih jadi penyumbang terbesar garis kemiskinan

    Ilustrasi beras premium.
    Ilustrasi beras premium. (IDN Times/Anata Siregar)

    Garis kemiskinan Lampung juga mengalami kenaikan dalam dua tahun terakhir. Pada Maret 2024, garis kemiskinan tercatat Rp586.551, kemudian naik menjadi Rp612.451 pada Maret 2025 dan Rp657.467 pada Maret 2026.

    Komoditas makanan memberikan sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan. Kontribusinya mencapai 74,54 persen di perkotaan dan 75,73 persen di perdesaan.

    Beras menjadi komoditas dengan sumbangan terbesar, yakni 19,83 persen di perkotaan dan 24,33 persen di perdesaan. Rokok kretek filter berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 12,79 persen di perkotaan dan 11,39 persen di perdesaan.

    Dari kelompok bukan makanan, perumahan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 7,75 persen di perkotaan dan 8 persen di pedesaan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More