Comscore Tracker

Gak Nyangka, Hewan Berbahaya Ini Ternyata Jadi Makanan Khas Lampung

Makanan khas Lampung ini sulit dijumpai di pasaran lho

Bandar Lampung, IDN Times - Setiap daerah tentu memiliki makanan khas sudah ada sejak zaman nenek moyang. Di Lampung juga ada beragam makanan khas yang saat ini terbilang sulit ditemukan.

Kalau pun ada biasanya harganya cukup mahal. Atau kalau mau makan gratis kamu harus menunggu momen-momen tertentu. Seperti acara adat, acara pernikahan atau saat hari raya tiba.

Seperti lima makanan khas Lampung ini memiliki sisi keunikannya masing-masing bahkan salah satunya tidak dijual di pasaran. Penasaran apa saja makanan khas Lampung yang unik itu, berikut ulasannya.

1. Senggulan atau bulu babi

Gak Nyangka, Hewan Berbahaya Ini Ternyata Jadi Makanan Khas LampungMakanan khas Lampung pesisir, senggulang atau bulu babi. (IDN Times/Istimewa)

Mendengar kata bulu babi pasti yang terlintas di benak kamu adalah hewan yang memiliki duri tajam dan berbahaya jika sampai terkena kulit manusia. Biasanya bulu babi ini tinggal di bebatuan karang yang dekat dengan pohon bakau. Tapi, bagi masyarakat Lampung khususnya yang tinggal di daerah pesisir, hewan berwarna hitam ini justru dijadikan makanan khas loh.

Sebutan lain untuk makanan khas pesisir ini adalah bebukhuk, munil, atau bulu babui. Cara pengambilannya menggunakan kayu cagak atau orang Lampung menyebutnya waring yaitu kayu yang diberi jaring-jaring untuk mempermudah mengambil bulu babi ini.

Setelah diambil dari pesisir pantai, tidak boleh langsung di makan, melainkan harus dibersihkan duri-durinya terlebih dahulu. Caranya, bulu babi diletakkan di dalam waring atau seseran lalu di cuci dengan air laut supaya duri-durinya keluar.

Setelah bersih, baru di belah dari samping dengan posisi miring. Nah kali ini baru deh, balu babi sudah siap di santap. Kalau mau lebih nikmat lagi bulu babi ini biasanya dipasangkan dengan uyah cabi atau sambel cabai dan garam. Karena itu merupakan pasangan serasi antara sesenggulan dan uyah cabi.

2. Langkut atau kerak nasi

Gak Nyangka, Hewan Berbahaya Ini Ternyata Jadi Makanan Khas LampungMakanan khas Lampung langkut atau kerak nasi. (IDN Times/Istimewa)

Kalau makanan yang satu  ini rasanya sudah sangat jarang sekali ditemukan dan juga tidak di jual di pasaran. Anak rantau biasanya sangat merindukan makanan yang satu ini. Sebab masyarakat saat ini sudah menggunakan perangkat penanak nasi.

Sedangkan langkut ini harus di masak menggunakan khayoh atau periuk. Ada dua macam langkut yang menjadi makanan khas Lampung ini, yaitu langkut basah dan langkut kering.

Langkut basah biasanya di makan dengan sambal rampai atau sambal terasi. Masyarakat Lampung menyebutnya sambal dilan. Sedangkan langkut goreng harus dijemur terlebih dahulu setelah kering baru di goreng. Rasanya menjadi pedas gurih jika dicocol dengan sambal.

Baca Juga: Mengulik Makanan Khas Lampung, Bikin Ngiler Pecinta Kuliner

3. Dedersap

Gak Nyangka, Hewan Berbahaya Ini Ternyata Jadi Makanan Khas LampungMakanan khas Lampung dedersap. (IDN Times/Istimewa)

Salah satu makanan khas Lampung yang biasa di temui di wilayah Kabupaten Tanggamus, Pesawaran dan Lampung Selatan. Makanan yang yang satu ini hanya ada di saat bulan ramadan saja, karena rasanya yang manis masyarakat Lampung menjadikan dedersap menjadi menu pembuka saat berbuka puasa.

Dedersap terbuat dari tepung terigu dan telur, bahannya hampir sama seperti membuat dadar gulung. Hanya saja dedersap menggunakan mentega dan gula atau bisa juga diberi tambahan keju supaya ada rasa gurih dan asinnya. Biasanya masyarakat Lampung memberi warna hijau atau juga warna kuning bergantung selera pembuatnya.

4. Segubal

Gak Nyangka, Hewan Berbahaya Ini Ternyata Jadi Makanan Khas LampungMakanan khas Lampung segubal. (IDN Times/Istimewa)

Kalau yang satu ini sudah cukup populer bahkan sudah ada juga di pasaran meskipun sangat jarang. Segubal merupakan makanan khas masyarakat Lampung Saibatin maupun Pepadun yang banyak digunakan saat acara besar seperti acara adat, lebaran, khitanan dan pernikahan.

Makanan yang memiliki bentuk mirip dengan lepat ini memiliki rasa yang gurih dan legit yang khas dan berbeda dari makanan lainnya. Bahan-bahannya menggunakan ketan yang di kukus menggunakan santan. Setelah itu dibungkus menggunakan daun pisang dan diikat menggunakan tali yang terbuat dari bambu atau bisa juga menggunakan tali plastik. Tapi akan lebih nikmat jika menggunakan bahan-bahan yang alami.

Untuk membuat makanan ini butuh keuletan karena menghabiskan waktu selama 8 sampai 10 jam. Proses pengukusan ini menentukan kualitas pada segubal. Jika tidak lama, maka akan mudah basi. Agar lebih nikmat, segubal biasanya disandingkan dengan opor ayam, rendang dan bisa juga di cocol dengan sambal hati ampela.

5. Lapis legit dan engkak ketan

Gak Nyangka, Hewan Berbahaya Ini Ternyata Jadi Makanan Khas LampungMakanan khas Lampung lapis legit dan engkak katan. (IDN Times/Istimewa)

Kedua makanan ini yang paling dicari dan di gemari oleh masyarakat Lampung. Mengingat masyarakat Lampung memang menyukai makanan yang manis-manis. Selain itu kedua makanan ini hanya ditemukan saat acara-acara besar saja dan pada saat hari raya lebaran sudah pasti ada di setiap rumah. Jadi begitu makan rasanya menjadi bangik nihan kalau kata orang Lampung yang artinya enak sekali.

Lapis legit merupakan kue warisan zaman kolonial dan masih terus dilestarikan hingga saat ini. Ciri khas utama pada kue ini adalah baunya yang sangat harum. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kue ini pun terbilang eksklusif. Sebab itu kalau dijual harganya pun cukup mahal. Biasanya satu loyang di banderol dengan harga Rp250ribu sampai Rp300 ribu.

Sedangkan engkak merupakan makanan yang memiliki rasa yang cukup manis tapi masih lebih manis lapis legit. Karena bahan yang digunakan untuk lapis legit hanya gula, mentega, susu dan kuning telur. Sedangkan engkak ketan menggunakan bahan telur, mentega, tepung ketan putih,santan, dan gula. Sehingga rasa engkak ketan ini lebih ada gurih-gurihnya karena menggunakan santan.

Proses pembuatannya juga melatih kesabaran dan memakan waktu yang cukup lama. Untuk memasak satu loyang, adonan tidak bisa di tuang sekaligus melainkan harus per lapis kemudian di tutup menggunakan kekep (alat panggangan berbentuk seperti jamur digunakan untuk mengeringkan adonan) setelah itu dituang kembali sampai loyang penuh.

Tapi biasanya masyarakat Lampung memasak kue ini secara bersamaan sehingga suasananya sangat ramai dan tidak akan terasa jenuh serta panas karena berhadapan dengan panggangan api.

Baca Juga: Mengulik Makanan Khas Lampung, Bikin Ngiler Pecinta Kuliner

Topic:

  • Silviana
  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya