Comscore Tracker

[OPINI] 'Kelahiran Kembali' Klinik Santa Maria, Literasi Sejarah Metro

Klinik itu salah satu saksi sejarah perjalanan Kota Metro

Metro, IDN Times - Artikel ini ditulis untuk menyambut 'kelahiran kembali' Klinik Bersalin Santa Maria Kota Metro yang merupakan rumah sakit tertua berdiri sejak 1938. Klinik ini saat awal berdirinya bernama Rumah Sakit St. Elisabeth. Klinik itu salah satu saksi sejarah perjalanan Kota Metro.

Di rumah sakit yang kini telah berganti nama menjadi klinik, ribuan bayi telah dilahirkan dan sebagian kecil telah menjadi orang-orang besar. Bahkan menjadi para pemimpin kota Metro. Bangunan klinik ini telah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya pada pertengahan 2021 lalu.

Mengawali tahun 2022, inisatif pengerjaan Galeri Sejarah Santa Maria dimulai dari sebuah diskusi WhatsApp. Sejak awal, para inisiator memiliki keyakinan berdasarkan pengalaman pengerjaan Rumah Informasi Sejarah Kota Metro beberapa waktu lalu. Salah satu kuncinya adalah gotong-royong dan partisipasi publik. Sebuah ruangan disiapkan pihak klinik untuk menjadi galeri sejarah yang dapat diakses publik.

Pengerjaan galeri sejarah yang diniatkan sejak awal menjadi mini museum atau museum bertumbuh ini berjalan lebih cepat dari perencanaan. Dalam waktu dua minggu pengerjaan ,galeri sejarah ini telah mencapai 95 persen. Lebih cepat dari estimasi awal yakni selama satu bulan. Besarnya apresiasi publik nampak dari cepatnya pengumpulan dana, pengerjaan hingga berbagai dukungan lain yang muncul.

Antusiasme juga nampak dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Metro menilai wisata sejarah dan wisata kesehatan di Kota Metro dapat berjalan berdampingan. Terlebih, tiga dari empat bangunan yang telah ditetapkan menjadi cagar budaya yakni Rumah Dokter, Klinik Santa Maria dan Health Centre sangat erat kaitannya dengan masalah kesehatan.

Begitu juga dengan Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Hak Asasi manusia (PKKPHAM) Fakultas Hukum Universitas Lampung yang ikut membidani pengerjaan Draft Peraturan Daerah tentang Perlindungan dan Pelestarian Cagar Budaya di Kota Metro. Perlahan kesadaran akan pentingnya kehadiran dan pemanfaatan cagar budaya di sebuah kota mulai menyebar ke berbagai kalangan.

Tenaga lokal, reuni dan toleransi.
Sejak awal pengerjaan galeri sejarah ini dilakukan dengan model pemberdayaan tenaga lokal. Hampir 90 persen tenaga yang digunakan adalah tenaga lokal. Mulai dari pengerjaan desain interior, pembuatan backdrop dan rak, pemasangan listrik, riset, hingga pemasangan stiker semuanya dikerjakan oleh tenaga lokal. Mereka mungkin tidak memahami makna pentahelix, hexahelix atau istilah-istilah kalangan cerdik pandai tapi mereka sangat memahami dan mengerti makna gotong-royong dan rasa memiliki.

Hal yang juga mengejutkan adalah pengerjaan galeri ini tanpa sengaja mempertemukan para pekerja yang hampir semuanya lahir di klinik Santa Maria. Tercatat, mulai dari pekerja display dan rak, pemasang listrik hingga pemasang stiker ternyata adalah orang-orang yang dilahirkan di klinik yang legendaris ini. Kehadiran mereka juga seakan membuat klinik bersejarah ini “terlahir kembali.” Seorang tenaga pemasang stiker display malah terkejut ketika membaca nama mbahnya tercatat dalam galeri sejarah yang dikerjakannya.

Ada semangat yang berbeda dari para pekerja yang notabene lahir di klinik ini. Mereka kembali bernostalgia dengan masa kecilnya dan mengingat kembali pengalamannya bersentuhan dengan klinik ini sendiri. Praktis tidak ada kesulitan berarti berkat model kerja gotong-royong dan kesiapan pihak Santa Maria mendukung kelahiran galeri sejarah ini. Toleransi juga nampak dari pihak Santa Maria yang dengan sengaja menyiapkan ruang salat hingga menyediakan makanan dan minuman bagi para pekerja yang mayoritas beragama muslim.

Bila tak ada aral melintang galeri sejarah ini akan mulai dibuka  pertengahan Februari 2022. Pembukaan galeri ini dipersiapkan dengan berbagai kegiatan mulai dari pameran sketsa, diskusi buku hingga bila terkejar adalah aplikasi wisata cagar budaya yang merupakan sumbangan dari sebuah perusahaan pengembang aplikasi lokal yang ada di Lampung.

Masa depan wisata sejarah
Kehadiran cagar budaya di Kota Metro merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata. Keberadaannya dalam satu kawasan yang berdekatan memudahkan untuk diakses. Selain itu beberapa fasilitas penunjang wisata seperti hotel, tempat kuliner, rumah sakit hingga mesin ATM juga berada di satu kawasan yang sama. Metro yang tak memiliki kekayaan alam yang layak dijual dapat memikirkan kembali kehadiran sejarah dan bangunan cagar budaya sebagai daya tarik.

Kehadiran program Metro Walking Tour tentu membantu mempopulerkan kehadiran cagar budaya dan destinasi wisata kota lewat program walking tournya. Terlebih di awal tahun 2022 Santa Maria telah memiliki Galeri Sejarah yang dapat dikunjungi publik. Dengan demikian semakin bertambah lagi destinasi wisata yang erat kaitannya dengan literasi sejarah dan cagar budaya yang ada di Kota Metro. Terlebih beberapa waktu lalu wali kota Metro juga telah mengeluarkan surat edaran wajib kunjung siswa ke cagar budaya minimal satu kali dalam satu tahun.

Bila para pengambil kebijakan melihat peluang ini maka bukan tidak mungkin Metro akan segera memiliki museum dan tidak sekadar memiliki Perda tentang Permuseuman. Di sisi lain meningkatnya kunjungan wisatawan akan berdampak pada pengembangan perekonomian warga. Destinasi wisata identik dengan kuliner, marchandise, hunian hotel, hingga berbagai aktifitas ekonomi lainnya. Hal ini tentu akan membantu percepatan pemulihan ekonomi daerah paska pandemi.

Kehadiran Galeri Sejarah awal tahun 2022 sekaligus menandai kelahiran kembali Santa Maria sebagai rumah sakit tertua yang pernah hadir melayani warga sekaligus saksi sejarah perkembangan kota. Dari Santa Maria kita bisa belajar bagaimana mereka terus mempertahankan arsip kelahiran secara manual yang terus dipertahankan hingga saat ini. Santa Maria kini terlahir kembali tidak hanya sebagai sebuah fasilitas kesehatan tapi juga sebagai sebuah cagar budaya yang menjadi media literasi sejarah bagi warga.

Oki Hajiansyah Wahab

Penulis adalah traveler dan pegiat literasi domisili di Kota Metro

Topic:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya