Comscore Tracker

[OPINI] Enam Bulan yang Mengubah Wajah Cagar Budaya di Metro

Tak hanya sebagai sarana belajar sejarah perjalanan

Anton Chekov seorang penulis ternama asal Rusia pernah berkata bahwasanya pengetahuan tidak ada nilainya kecuali Anda mempraktikkannya. Hampir senada seorang filsuf Cina Laozi juga mengatakan pengetahuan adalah harta, tetapi praktik adalah kunci untuk itu. Pengetahuan panjang yang dimiliki seringkali tak berguna tanpa praktik yang nyata sebaliknya sedikit pengetahuan yang dimiliki namun dipraktikan membuatnya menjadi bermakna.

Akhir tahun 2020 Rumah Dokter atau dokterswoning mulai dikenalkan kepada publik sebagai lewat berbagai kegiatan. Saat itu belum adanya Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Metro yang tersertifikasi sebagaimana dipersyarakatkan UU Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya menjadi kendala mengapa cagar budaya yang ada di Kota Metro belum dapat ditetapkan. Baru pada awal tahun 2021, tak lama setelah mendapatkan sertifikasi kompetensi, TACB Metro segera bekerja merekomendasikan penetapan dua cagar budaya yakni Rumah Dokter dan Klinik Santa Maria.

Kala itu juga belum terpikir bagaimana proses pemanfaatannya kelak usai ditetapkan. Semua berfokus bagaimana kajian dan rekomendasi penetapan dapat segera diselesaikan menjelang HUT Kota Metro Juni 2021. Sebulan setelah penetapan pada Juli tepatnya saat penerapan PPKM di Kota Metro muncul sebuah ide sederhana bagaimana mengubah bangunan tua yang telah ditetapkan menjadi cagar budaya menjadi bangunan yang lebih bermanfaat.

Pertanyaan besar yang mengemuka saat itu adalah bagaimana hal tersebut diwujudkan tanpa dukungan dana pemerintah. Sebagian mungkin pesimis sementara sebagian lainnya tetap optimis. Pada gilirannya setiap pengalaman membuat kita terus tumbuh, berangkat dari kegabutan akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) melahirkan kesediaan untuk praktik kerja gotong-royong lintas profesi, lintas disiplin ilmu dan penggalangan dana publik ini tentu mengagetkan banyak kalangan.

Francis Bacon mengatakan bahwasanya pengetahuan adalah kekuatan. Berbekal kolaborasi pengetahuan, pengalaman, jam terbang dan jejaring sekelompok anak muda di Metro berketetapan hati jika mengerjakan sesuatu yang sudah dianggarkan maka itu sesungguhnya hanyalah pekerjaan biasa dan sebaliknya bila bekerja tanpa dukungan anggaran itu baru luar biasa. Walhasil, meski tanpa dukungan anggaran pemerintah namun berkat dukungan dari berbagai kalangan RIS Metro dapat terselesaikan di bulan September.

Partisipasi publik dalam berbagai bentuknya menjadi kunci keberhasilan. Sebagian tim yang mengawali pengerjaan RIS kini mulai kembali ke rutinitas sebelumnya. Yang tersisa adalah memori bagaimana mereka pernah terlibat dalam mengubah mimpi menjadi kenyataan. Sementara sebagian lainnya terus bertahan melanjutkan mimpi besar. Apa gunanya penetapan sebuah cagar budaya bila sekadar menjadi pekerjaan rutinitas tanpa ruh untuk menggugurkan kewajiban semata. Tantangan yang harus dijawab adalah manfaat apa yang didapat rakyat terkait dengan penetapan sebuah cagar budaya itu sendiri.

Cagar Budaya dan Kesejahteraan Rakyat
UU Cagar Budaya mengamanatkan pelestarian dan pemanfaatan cagar budaya ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Paradigma baru ini dimaksudkan agar kecintaan terhadap cagar budaya tidak hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu melainkan oleh lebih banyak kalangan.

Pemanfaatan dokterswoning kini tak hanya sebagai sarana belajar sejarah perjalanan sebuah kota bernama Metro tapi juga sebagai pengembangan aktifitas UMKM dan berbagai kegiatan kreatif lainnya. Produk-produk lokal bernuansa sejarah dan cagar budaya mulai dari kopi, t-shirt, buku-buku serta berbagai marchandise perlahan mulai tumbuh.Tak hanya itu sekelompok anak muda juga memulai pengembangan wisata jalan kaki bertema sejarah dan cagar budaya yang kini telah bertambah menjadi empat cagar budaya.

Perlahan semakin banyak kalangan baik dari dalam maupun luar Metro yang mulai mengenal dan mengunjungi cagar-cagar budaya yang ada di Kota Metro. Bila dikembangkan secara serius maka keberadaan cagar budaya tentunnya akan memberikan dampak pada promosi kota, UMKM dan peningkatan kunjungan wisatawan.Terlebih diskursus publik terkait pemanfaatan cagar budaya mulai tumbuh di berbagai kalangan.

Kota Metro yang tak memiliki destinasi wisata alam yang mumpuni tentunya harus berpikir keras untuk mengoptimalkan apa yang dipunyai guna menarik lebih banyak orang datang ke Metro. Dukungan pemerintah mulai nampak nyata dengan pelibatan para ASN dalam promosi cagar budaya serta kerja bersama beberapa OPD dalam mendukung pemanfaatan cagar budaya yang ada di Kota Metro.

Ruang Publik
Minimnya ruang publik mengakibatkan semakin menurunnya kualitas hidup masyarakat perkotaan karena tergerus oleh tekanan hidup di perkotaan. Pilihan sekelompok warga untuk bergotong royong, bekerja sama, menggunakan dan memanfaatkan cagar budaya sebagai ruang publik bagi sarana interaksi tentunya menjadi salah satu strategi pelestarian cagar budaya agar lebih fokus, efektif, efisien.

Kita dapat belajar dari pengalaman kota-kota lain yang mengubah bangunan-bangunan cagar budaya menjadi ruang-ruang publik yang kreatif. Ruang publik sendiri adalah salah satu komponen dari perkotaan yang mempunyai peran sangat penting bagi warganya. Ruang publik juga mempunyai fungsi dan makna kultural serta sosial yang tinggi. Kehadiran ruang publik menjadi wadah bagi masyarakatnya untuk melakukan kegiatan bersama baik berinteraksi sosial, ekonomi maupun apresiasi budaya.

Kehadiran kedai kopi di kawasan cagar budaya dokterswoning menjadi harapan baru bagi tumbuh kembangnya ruang publik alternatif yang dapat berfungsi mewadahi kegiatan-kegiatan kreatif warga serta berperan sebagai media interaksi dan komunikasi masyarakat baik secara formal maupun informal. Kultur kedai kopi yang tak mengenal sekat pemisah bagi setiap warga adalah perwujudan ruang publik yang demokratis dan egaliter.

Merujuk Habermas ruang publik juga memiliki peran yang cukup penting sebagai ruang demokratis atau wahana diskursus masyarakat untuk menyatakan opini-opini, kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan mereka secara diskursif. Dengan demikian ruang publik dapat digunakan untuk berkumpul, berdiskusi, dan berekspresi secara bebas dalam melayani kepentingan publik.

Perlahan RIS terus berupaya bertransformasi menjadi ruang publik yang berusaha ramah untuk semua usia. Keterlibatan pemerintah kota lewat taman dan pojok baca membuat RIS kini menjadi semakin menarik dikunjungi. Terlebih kehadiran beberapa sarana permainan anak membuat RIS perlahan diorientasikan untuk menjadi ruang publik yang ramah bagi segala usia. Hal ini tentunya dapat menjadi aset yang dapat dikembangkan untuk kepentingan pariwisata dan peningkatan perekonomian masyarakat.

Sebagaimana dikemukakan Darmawan (2006) berdasarkan sifatnya terdapat tiga kualitas utama sebuah ruang publik, yaitu: Tanggap atau responsif yang berarti bahwa ruang tersebut dirancang dan dikelola dengan mempertimbangkan kepentingan para penggunanya, Demokratis yang berarti bahwa hak para pengguna ruang publik tersebut terlindungi, pengguna ruang publik bebas berekspresi dalam ruang tersebut, namun tetap memiliki batasan tertentu karena dalam penggunaan ruang bersama perlu ada toleransi diantara para pengguna ruang dan Bermakna yang berarti mencakup adanya ikatan emosional antara ruang tersebut dengan kehidupan para penggunanya.

Sementara Mehta (2007) mempergunakan beberapa variabel untuk mengukur dan menyusun Good Public Space Index, antara lain: Intensitas penggunaan, yang diukur dari jumlah orang yang terlibat dalam aktivitas statis dan dinamis pada ruang luar, Intensitas aktivitas sosial, yang diukur berdasarkan jumlah orang dalam setiap kelompok yang terlibat dalam aktivitas statis dan dinamis pada ruang luar, Durasi aktivitas, yang diukur berdasarkan berapa lama waktu yang dipergunakan orang untuk beraktivitas pada ruang luar.

Variasi penggunaan, yang diukur berdasarkan keberagaman atau jumlah tipologi aktivitas yang dilaksanakan pada ruang luar serta keberagaman penggunaan, yang diukur berdasarkan variasi pengguna berdasarkan usia, jenis kelamin dan lain sebagainya.
Sifat dan indikator ruang publik yang dikemukakan oleh para ahli tersebut tentunya dapat dijadikan salah satu indikator bagaimana RIS dan berbagai komunitas didalamnya tumbuh dan berkembang menjadi satu ekosistem dalam ruang publik yang ramah bagi segala usia.

Tentu ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan tapi juga bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. Di penghujung tahun 2021, langkah-langkah kecil yang telah dimulai setiap harinya diharapkan akan mengantarkan pada hasil yang besar di masa mendatang.

Oki Hajiansyah Wahab

Penulis adalah traveler dan berdomisili di Kota Metro Provinsi Lampung

Baca Juga: [OPINI] Historical Tour Jalan Kaki Cara Nikmati Cagar Budaya Metro

Topic:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya