Petugas kesehatan menyuntikan vaksin kepada relawan saat simulasi uji klinis vaksin COVID-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020). (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Tenaga kesehatan (nakes) di sejumlah kota di Tanah Air menyatakan pendapatnya terkait mereka prioritas pertama divaksin. Mereka ada yang setuju, masih ragu, dan dan menolak. Berikut rangkumannya.
DK, seorang tenaga kesehatan yang bekerja di RSUP Sanglah Denpasar mengatakan siap untuk menerima vaksin. Menurutnya, vaksin COVID-19 yang disediakan telah melalui beberapa proses.
“Ya kami pasti maulah kalau vaksinnya diyakini dan sudah ada izin dari BPOM, ada keluar vaksin halalnya kami pasti mau vaksin. Kenapa enggak (tidak). Karena kami tahu vaksin itu kita yakini melalui beberapa proses ya. Apalagi terakhir memang dapat izin BPOM. Saya yakin, yakin. Tidak ragu lagi. Karena itu sudah melalui proses yang benar,” ungkap DK.
Sementara PDP, perawat di Rumah Sakit Klungkung justru masih memiliki sedikit keraguan. “Untuk vaksin corona. Kami sebagai nakes yang kontak langsung dengan pasien positif, sangat senang dengan adanya vaksin gratis bagi nakes. Tetapi banyak isu yang beredar bahwa setelah suntik vaksin banyak yang meninggal. Ini belum ada penjelasan yang pasti dari kementerian kesehatan apakah vaksin tersebut aman atau tidak. Jadi masih ada keraguan 50 persen terhadap vaksin corona tersebut,” ungkap PDP.
Hal senada disampaikan sejumlah tenaga kesehatan di Provinsi Banten mengaku khawatir menjadi yang pertama mengikuti program vaksinasi COVID-19. Mereka takut jika vaksin tersebut bisa berimbas buruk terhadap kesehatannya.
"Ragu-ragu Mas, takut ini mah jadi kelinci percobaan, harusnya jangan nakes dulu," kata Hani (nama samaran), salah satu perawat di rumah sakit pusat rujukan COVID-19 Banten kepada IDN Times, Rabu (6/1/2021).
Meski nakes menjadi yang pertama divaksin, Hani mengaku dia dan rekan-rekannya belum pernah mendapatkan sosialisasi atau informasi terkait vaksin Sinovac yang akan disuntikan kedalam tubuhnya. Informasi jaminan keamanan terkait efek samping vaksin asal Tiongkok tersebut. "Tapi apa bener bisa jadi kuat (imun), terus udah diuji apa belum kira-kira," katanya.
Ia berharap, sebelum pelaksanaan vaksinasi perdana pada 14 Januari 2021 mendatang, para tenaga kesehatan diberikan sosialisasi terlebih dahulu agar tidak ragu saat disuntik vaksin. "Kalau kita karena tim (perawat) COVID otomatis didaftarin dan sudah dapat pemberitahuan di aplikasi," katanya.
Di Bandung, sejumlah nakes bersedia untuk disuntik vaksin Sinovac tahap satu yang akan dilakukan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada pertengahan Januari 2021. Salah seorang nakes yang bersedia disuntik vaksin Sinovac, dr Gemi Hafitiani tenaga kesehatan di UPT Puskesmas Babakan Sari, mengatakan, terdaftar sebagai penerima vaksin dan telah mendapat pesan singkat dari pemerintah pusat langsung.
Ia menjelaskan, proses pendaftaran suntik vaksin dilakukan secara online dengan menyertakan nomor induk kependudukan (NIK) di laman kementerian kesehatan. Setelah itu, bagi yang lolos verifikasi mendapatkan pesan singkat dari Menkominfo.
"Sebelum ke vaksinasi, ada screening dahulu, misalkan ada penyakit penyerta atau tidak dan sebagainya. Kalau ada, mungkin ditunda atau bagaimana," ungkapnya.
Selain itu, Ia mengaku merasa senang sudah dinyatakan lolos verifikasi dan akan mendapatkan vaksin dari program vaksinasi pemerintah. Menurutnya, nakes saat ini sudah menjadi garda terdepan dalam menangani pandemik COVID-19.
"Ada sedikit harapan setelah divaksin dapat antibodi yang mengurangi risiko terpapar. Tapi bukan berarti melupakan protokol kesehatan, meski sudah divaksin harus ikuti protokol kesehatan," katanya.
Disinggung kekhawatiran akan ada efek samping setelah disuntik vaksin Sinovac, Gemi menganggapi hal itu tidak menjadi persoalan. Adapun sebelumnya sejumlah pejabat daerah termasuk Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang menjadi relawan vaksin Sinovac memang tidak mengalami keluhan medis serius.
"Insya Allah baik-baik saja. Sudah keluar izin juga. Vaksin ini bisa jadi sebagai jawaban atas semua kekhawatiran selama pandemi," kata dia.
Nakes lainnya dari Kota Bandung, dr. Ichsan J Juanda, mendukung vaksinasi tahap satu yang diberikan kepada nakes oleh pemerintah pusat dan Pemprov Jabar. Bahkan Ia bersedia dan sudah terdaftar sebagai orang yang akan mendapatkan vaksin COVID-19.
"Memang vaksin ini bukan solusi akhir untuk menghentikan pandemik. Vaksin ini adalah salah satu upaya untuk meminimalisir angka kemungkinan orang terinfeksi," ujar Ichsan saat dihubungi, Selasa (5/1/2021).
Hal serupa disampaikan dr. Makhyan Jibril Al Farabi. Ia memilih untuk menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada pemerintah. Menurut Jibril, vaksin COVID-19 merupakan perlindungan tambahan yang bisa memberikan rasa aman lebih kepada tenaga kesehatan dalam melayani pasien.
"Jadi, saya bersedia untuk divaksinasi bulan ini. Hal ini juga untuk memberikan contoh bagi para tenaga kesehatan yang juga berada di garda terdepan untuk segera divaksinasi dan mendapatkan perlindungan. Sehingga, bisa fokus untuk melayani dan menolong pasien COVID-19," jelas pria yang kini menjadi dokter residen kardiologi di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, tersebut.
Bahkan, Jibril sudah memeriksa identitasnya di Peduli Lindungi untuk memastikan ia mendapatkan vaksin COVID-19. Ia pun terdaftar menjadi penerima vaksin tahap pertama sebagai tenaga kesehatan.
Perawat di RSUP Dr Kariadi Semarang Jawa Tengah, Ahmad Nuruddin, menambahkan, selain vaksin, ia mengajak para nakes maupun siapa saja yang sudah pernah terpapar COVID-19 untuk donor plasma jenis konvalesen. Donor ini merupakan salah satu terapi untuk membantu pasien COVID-19.
Kriteria donor plasma konvalesen di antaranya, pernah sakit COVID-19, terinfeksi virus corona sampai dirawat di rumah sakit atau di rumah isolasi mandiri dengan gejala ringan sedang. Lalu, sudah swab evaluasi hasil dua kali negatif, tidak memiliki komorbit, pria usia 17-60 tahun, dan wanita belum pernah hamil.
‘’Donor plasma ini bisa dilakukan dua hingga tiga kali. Tidak boleh terus-menerus dan dengan jarak kurang lebih dua minggu. Selain itu, kita harus tetep di skrining dulu. Apakah titer antibodinya cukup atau tidak untuk donor,’’ jelas Nurdin.