Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Unik! Pesantren Bank Sampah Metro Ada Program Ngaji Bayar Pakai Sampah
ilustrasi daur ulang sampah (pexels.com/pixabay)
  • Pesantren Bank Sampah Banjarsari menggabungkan pengelolaan sampah, pemberdayaan ekonomi, dan pendidikan agama dengan sistem unik seperti belajar mengaji yang bisa dibayar menggunakan sampah.
  • Pemerintah Kota Metro melalui DLH memberikan bantuan satu unit bentor untuk mendukung operasional pengangkutan sampah, yang kemudian diolah menjadi kerajinan dan pupuk kompos.
  • Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso mengapresiasi pesantren ini karena berhasil mengubah pola pikir warga tentang pengelolaan sampah dan berencana memperluas konsepnya ke seluruh kecamatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Bagi sebagian orang, pesantren identik dengan kitab, sarung, dan lantunan ayat suci. Namun suasana berbeda justru terlihat di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara.

Di sana, ada pesantren yang menjadikan sampah sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari, bahkan bisa dipakai untuk “membayar” kegiatan mengaji. Adalah Pesantren Bank Sampah Banjarsari.

Tempat ini bukan hanya menjadi pusat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, tapi juga ruang pemberdayaan yang menggabungkan lingkungan, ekonomi, dan pendidikan agama dalam satu gerakan.

1. Menjalankan berbagai program pemberdayaan

Ilustrasi konsep daur ulang sampah (freepik.com/freepik)

Ketua Yayasan Pesantren Bank Sampah Slamet Riadi menjelaskan, pesantren ini tak hanya mengelola sampah menjadi barang bernilai. Mereka juga menjalankan berbagai program pemberdayaan, seperti tabungan sampah, senam sampah, hingga program belajar mengaji dengan sistem bayar sampah.

"Anak-anak yang belajar iqro cukup membawa sampah sebagai pengganti uang. Bahkan bukan hanya anak-anak, sejumlah bapak-bapak dan ibu-ibu juga mengikuti kegiatan mengaji dengan mekanisme yang sama," kata Slamet Riadi, Minggu (10/5/2026).

Slamet juga berpesan agar masyarakat mulai memilah sampah dari rumah dan tidak membuang sembarangan. Menurutnya, sampah bukan hanya persoalan lingkungan, tapi juga memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan benar.

2. Pesantren Bank Sampah dapat bantuan bentor

Ilustrasi membersihkan sampah (freepik.com/freepik)

Pesantren Bank Sampah mendapat respon positif dari Pemerintah Kota Metro. Slamet mengatakan, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Pemkot Metro menyerahkan bantuan satu unit kendaraan roda tiga atau bentor untuk menunjang operasional pengangkutan sampah di pesantren tersebut.

Menurutnya, bentor bantuan tersebut akan digunakan untuk mengangkut sampah dari warga. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah sesuai jenisnya.

Sampah kering akan diolah menjadi kerajinan seperti kursi dan produk kreatif lainnya, sedangkan sampah organik diolah menjadi pupuk kompos.

"Jika sampah yang disetor warga dalam jumlah besar, tim Pesantren Bank Sampah akan menjemput menggunakan bentor. Namun jika jumlahnya sedikit, masyarakat biasanya mengantar sendiri ke bank sampah," ujarnya.

Ia berharap, Pemkot Metro terus mendukung gerakan bank sampah agar program pengelolaan sampah berbasis masyarakat semakin berkembang, termasuk hingga wilayah Metro Selatan.

3. Wali Kota Metro apresiasi Pesantren Bank Sampah

Ilustrasi memisahkan sampah daur ulang (freepik.com/freepik)

Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso mengapresiasi Pesantren Bank Sampah yang baru genap berusia satu tahun, namun dinilai sudah memberi dampak nyata bagi masyarakat. Ia bahkan berencana memberikan tambahan bentor agar pengelolaan sampah berbasis masyarakat bisa berjalan di setiap kecamatan.

Menurutnya, gerakan yang dijalankan pesantren ini berhasil mendorong perubahan pola pikir warga tentang pengelolaan sampah. Sebab, persoalan sampah di Kota Metro tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah tempat pembuangan akhir.

Solusinya harus dimulai dari kebiasaan masyarakat, terutama budaya malu membuang sampah sembarangan. Ia juga berharap konsep bank sampah di Banjarsari bisa diperluas ke wilayah lain.

Editorial Team