Comscore Tracker

Gak Nyangka, Warga Bandar Lampung Masih Ada BAB di Sungai 

Mencuci baju, cuci makanan, mandi pun dilakukan di sungai

Bandar Lampung, IDN Times- Masalah sanitasi masih menjadi perkara yang pelik di sejumlah daerah di Indonesia. Salah satunya adalah Lampung. Menjelang peringatan hari toilet sedunia diperingati hari ini, Kamis (19/11/2020), IDN Times bersama Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS), bertandang ke salah satu sungai di Kota Bandar Lampung untuk melihat akses sanitasi warga yang tinggal di bantaran sungai tersebut.

Seperti apakah potret sanitasi yang ada di bantaran sungai di ujung Kota Bandar Lampung? Simak selengkapnya di bawah ini.

1. Ekonomi menjadi salah satu faktor masyarakat masih BAB di sungai

Gak Nyangka, Warga Bandar Lampung Masih Ada BAB di Sungai Warga di kali belau Bandar Lampung sedang mencuci kedelai untuk pembuatan tempe di sepanjang bantaran sungai (IDN Times/Silviana)

Sekira pukul 09.00 WIB, aktivitas di bantaran Sungai Kali Belau yang terletak di Gedong Pakuan, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung terlihat ramai. Mulai dari mencuci pakaian, mencuci ikan, anak-anak bermain, mandi hingga buang air besar (BAB). Semua aktivitas tersebut dilakukan dalam waktu yang bersamaan dan di bantaran sungai yang sama.   

Menurut Aisyah warga Gedong Pakuan yang sehari-hari melakukan aktivitas di Kali Belau, tak ada masalah harus mandi sekaligus BAB di lokasi yang sama. Sudah puluhan tahun ibu dari delapan anak itu hidup dalam akses sanitasi yang tidak layak. Hal tersebut dia lakoni lantaran keadaan ekonomi yang sulit.

"Setiap hari mandi di sini, karena tidak punya sumur. Namanya orang susah, di rumah gak ada toilet, kalau mau BAB harus ke kali," jelasnya.

2. Gorong-gorong dijadikan wc umum

Gak Nyangka, Warga Bandar Lampung Masih Ada BAB di Sungai Gorong-gorong di kali belau Bandar Lampung yang digunakan sebagai wc umum oleh warga setempat (IDN Times/Istimewa)

Sebuah gorong-gorong yang terletak tepat di depan DIPL Tanjung Karang Unit Teluk Betung, Jalan WR Supratman, Bandar Lampung ukuran sekitar 70 cm x 2 meter dengan tinggi tak sampai satu meter dijadikan sebagai wc umum bagi masyarakat yang ingin BAB.

Menurut Aisyah tak hanya dirinya saja yang tidak memiliki akses jamban yang layak, sekitar 20 KK yang ada di lingkungan sekitar rumahnya tak ada yang memiliki akses jamban layak, sehinga  masih BAB di sungai. “Ya bebas di mana aja, kalau udah ke belet ya di atas itu kalau enggak ya di sini (tempat dia sedang mandi). Palingan ada hajat lewat ya saya kibas aja pake tangan,” jelasnya.

3. Akses sanitasi layak di Lampung masih 0,03 persen.

Gak Nyangka, Warga Bandar Lampung Masih Ada BAB di Sungai hukum online.com

Pemerintah pusat mendorong akses sanitasi yang lebih baik dengan cara menargetkan setiap daerah untuk bisa mencapai angka yang telah ditentukan. Lampung mendapat target 90 persen untuk akses sanitasi layak dan 10 persen untuk akses sanitasi aman.

Namun, jika merujuk pada data Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Provinsi Lampung, akses sanitasi aman di Lampung masih mencapai angka 67,03 persen. Artinya masih ada 32,97% dari total 8.117.268 warga yang belum mempunyai akses sanitasi aman  di Provinsi Lampung. Sedangkan untuk akses sanitasi layak di Lampung merujuk pada data yang sama pada tahun 2019 masih berada di angka 0,03 persen.

Dari data provinsi tersebut diturunkan lagi pada akses sanitasi tingkat daerah. Kota Bandar Lampung ditargetkan mencapai angka 95 persen  untuk sanitasi layak dan 12 persen untuk sanitasi aman. Saat ini akses sanitasi layak di Kota Bandar Lampung berada di angka  80,61 persen dan sanitasi aman berada pada angka 0,13 persen.

Menurut YKWS setiap tahun akses sanitasi naik 3 persen. Sehingga,  jika persoalan sanitasi ditangani dengan serius maka pada tahun 2024 sesuai dengan target nasional, Kota Bandar Lampung bisa mencapai target sanitasi layak.

Baca Juga: Miris! Masyarakat di Lampung Masih Buang Tinja ke Sungai

4. Lumpur di IPLT Bandar Lampung belum pernah diangkat

Gak Nyangka, Warga Bandar Lampung Masih Ada BAB di Sungai Kondisi IPLT Bakung, Bandar Lampung saat ini. Sudah memenuhi kapasitas IPLT. (IDN Times/Silviana)

Lumpur tinja yang diangkut ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)  di Bakung, Bandar Lampung hanya ditumpuk hingga luber tanpa adanya pengolahan yang baik dan aman. Imbasnya lumpur tersebut meresap ke dalam tanah dan berimbas pada kondisi air di sumur warga.

Menurut Asrul salah satu penjaga IPLT,  belum ada lagi pengangkatan lumpur tinja. Sedangkan dalam satu hari ada sekitar 5 sampai 7 tangki  mengantar lumpur tinja ke IPLT.

“1 mobil itu isinya 3 meter kubik. Tapi ada juga yang kadang nggak dimasukin ke dalam lubang IPLT tapi disiram langsung di tumpukan sampah itu,”ujar Asrul.

5. Lumpur tinja bisa dimanfaatkan

Gak Nyangka, Warga Bandar Lampung Masih Ada BAB di Sungai Pengeluaran lumpur tinja dari dalam tengki ke dalam IPLT Bakung Bandar Lampung (IDN Times/Silviana)

Urban Sanitation Specialist SNV Indonesia, I Nyoman Suartana, menyampaikan, IPLT di desain untuk mengolah lumpur tinja. Lumpur tinja terbagi menjadi dua yaitu air dan lumpur. Air tersebut harus memenuhi baku mutu lingkungan ketika diolah.

Dalam hal ini harus sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 68 tahun 2016. Sedangkan lumpurnya bisa diolah juga dengan cara dikeringkan.

Menurut Nyoman, lumpur tinja yang dikelola dengan baik bisa menghasilkan beragam produk yang bermanfaat. Setelah disaring, kemudian dikeringkan maka bisa dijadikan pupuk nonpangan.

"Tetapi bisa juga dijadikan produk lain misalnya kaya di Afrika bisa dijadikan briket sebagai pemanas pengganti kayu bakar. Bisa dijadikan bahan campuran papping atau dijadikan batako untuk pemanfaatan kembalinya,” jelasnya.

6. Pengolahan IPLT harus dilakukan secara berkala

Gak Nyangka, Warga Bandar Lampung Masih Ada BAB di Sungai Tribunmaluku.com

Pantauan IDN Times, kondisi IPLT Bakung saat ini sudah melebihi kapasitas, sehingga kamampuan untuk mengolahnya tidak sesuai dengan jumlah atau volume lumpur tinja yang masuk ke IPLT. Menurut Nyoman lumpur tinja tersebut harus diangkat dan di keringkan di lokasi khusus.

“Kondisi sekarang kan nggak ada lokasi khusus untuk mengeringkan. Sebetulnya sambil menunggu  IPLT baru yang akan di bangun PUPR, IPLT yang ada sekarang itu bisa berfungsi. Karena lumpur tinja yang masuk nggak bisa nunggu, tiap hari pasti ada aja yang masuk, itu harus diolah terus. Itu jadi tanggung jawab operator lumpur tinja yang ada di Bandar Lampung,”jelasnya.

7. Pemerintah berencana membangun IPLT baru

Gak Nyangka, Warga Bandar Lampung Masih Ada BAB di Sungai Proses pengolahan lumpur tinja menjadi pupuk. (AcehNews.Net)

Tahun ini pemerintah berencana membangun IPLT Bakung dengan sistem mekanik. Setelah sebelumnya pembangunan yang direncanakan sejak tahun 2019 itu mandek akibat terkendala COVID-19. Namun menurut Nyoman, Pemerintah Kota Bandar Lampung harus memastikan IPLT berfungsi dengan baik dan ada anggaran yang bisa digunakan untuk merawat IPLT.

“Kemudian operator dalam hal ini penanggung jawab kebersihan di Kota Bandar Lampung  harus memiliki kapasitas yang cukup untuk mampu mengelola IPLT. Dan yang harus diperhatikan ada mekanisme layanan sehingga warga itu tau dan mau serta mudah untuk melakukan penyedotan. Sehingga ketika di bawa ke IPLT bisa diolah,” tegasnya.

Baca Juga: Cerita Millennial Lampung Ajak Warga Pesisir Tak BABS di Laut

Topic:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya