ilustrasi penyebaran konten bullying (pexels.com/Keira Burton)
Menurut Faris, situasi mulai terasa mencekam saat memasuki hari kedua pelaksanaan Diksar. Pagi hari setelah sarapan, para senior Mahepel mulai menunjukkan sikap yang jauh lebih tegas dibanding hari sebelumnya. Tak hanya itu, stok makanan para peserta pun diketahui banyak yang hilang. Artinya, mereka harus menghemat sisa logistik untuk bertahan hingga acara selesai.
Masa-masa tersulit, selain dapat kekerasan fisik, menurut Faris adalah menahan haus dan lapar karena harus benar-benar hemat makanan. Selain itu, waktu memasak yang hanya sedikit membuat mereka harus makan nasi setengah beras karena belum sampai matang.
"Walaupun pengen muntah kami makan saja karena kalau sampai muntah malah kena hukuman lagi," keluhnya.
Bahkan, karena kehausan yang tak tertahankan, Faris mengaku rela minum air dari kubangan sawah. Kondisi semakin memprihatinkan ketika salah satu temannya, Pratama, tanpa sadar meminum cairan yang ternyata adalah spiritus.
“Teman saya itu, si Pratama, malah gak sadar kalau yang dia minum itu spiritus. Soalnya stok minum kami awalnya ada 24 botol, tapi hilang sisa dua botol. Makanya kami benar-benar harus hemat air minum,” ucapnya.
Faris mengakui, selama Diksar mereka memang mendapatkan materi seputar alam dan cara bertahan hidup di hutan. Mulai dari mengenali sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan, hingga membuat tenda darurat dari bahan yang tersedia di sekitar mereka.
“Jadi waktu di sana itu, kami gak pakai tenda yang kami bawa tapi bikin pakai kayu dari hutan. Alas tidurnya bisa pakai batu atau tanah yang ada di sana. Terus waktu bahan makanan habis kami makan daun-daun yang ada di hutan. Sampai saya juga makan buah beracun,” ujarnya.
Lebih lanjut, Faris menceritakan, semakin sore situasinya semakin mencekam. Sejak pukul 15.00-22.00, kegiatan Diksar diwarnai berbagai perlakuan kasar. Para peserta, kata Faris, ditendang, ditampar berulang kali, dipaksa merangkak di area sawah sampai ada kuku kaki yang lepas, sambil diteriaki para senior.
“Woy dek, kalian ini lemah banget! Mana semangatnya?!” kata Faris menirukan suara para senior.
Faris mengatakan perutnya sempat dipukul. Temannya, Pratama, bahkan mendapat perlakuan lebih parah karena dianggap paling lemah. Bahkan menurut Faris, ada yang nampar di bagian kepalanya sampai telinga kirinya berdengung dan sempat tak bisa mendengar. Kondisi itu membuatnya harus menjalani perawatan medis setelah pulang diksar, karena selama enam minggu gendang telinganya mengalami masalah.
“Waktu perut kami dipukul itu, dok, dok gitu. Si Pratama sempat mengelak, tapi malah ditendang sampai jatuh. Kami langsung bantu dia berdiri,” tuturnya.
Di tengah situasi yang mencekam itu, Faris mencoba menyemangati teman-temannya. Namun menurutnya percuma, karena yang di pikiran teman-temannya hanya ingin pulang.
"Kami sempat kepikiran mau kabur tapi kami gak tau jalan pulang, jadi kami takut tersesat. Kan saya pernah suruh teriak kencang sama seniornya, dan ternyata gak ada yang dengar. Makanya terpaksa kami ikuti kegiatan sampai akhir," terangnya.