Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
 Edukasi Satgas PPKPT Itera dalam pra-karantina duta GenRe 2025 (Dok/Humas Itera)
Edukasi Satgas PPKPT Itera dalam pra-karantina duta GenRe 2025 (Dok/Humas Itera)

Intinya sih...

  • Satgas PPKPT Itera memberikan edukasi kepada peserta, menekankan tanggung jawab mahasiswa sebagai agen perubahan dan kunci memutus mata rantai kekerasan di kampus.

  • Sesi edukasi berlangsung interaktif, menunjukkan antusiasme peserta. Isu kekerasan seksual, dinamika kaderisasi, dan dukungan kebijakan kampus dibicarakan.

  • Peserta didorong untuk berperan aktif dalam menyebarluaskan nilai-nilai pencegahan kekerasan di kampus setelah sele

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Lingkungan kampus seharusnya menjadi tempat aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh sivitas akademika. Namun, realitasnya masih banyak tantangan harus dihadapi, salah satunya adalah kekerasan yang kerap terjadi secara diam-diam, mulai dari kekerasan seksual, perundungan, hingga praktik kaderisasi tidak sehat. Menyikapi hal tersebut, Institut Teknologi Sumatera (Itera) menciptakan ruang aman di lingkungan kampus.

Melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) Itera mendorong seluruh mahasiswa menjadi pelopor dalam membentuk kampus aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Kegiatan edukatif itu melibatkan para finalis dan non-finalis Duta Generasi Berencana (GenRe) Itera 2025.

1. Edukasi Satgas PPKPT Itera dalam pra-karantina duta GenRe 2025

Edukasi Satgas PPKPT Itera dalam pra-karantina duta GenRe 2025 (Dok/Humas Itera)

Dalam rangkaian kegiatan Pra-Karantina Duta Generasi Berencana (GenRe) Itera 2025,PPKPT Itera mengambil peran penting dengan memberikan edukasi kepada peserta. Winati Nurhayu sebagai pemateri menekankan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab besar sebagai agen perubahan. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa adalah kelompok paling dekat dengan berbagai dinamika kehidupan kampus dan karenanya dapat menjadi kunci dalam memutus mata rantai kekerasan.

“Mahasiswa adalah pihak yang paling dekat dengan berbagai aktivitas di kampus. Oleh karena itu, mahasiswa memiliki peran besar dalam memutus lingkaran setan kekerasan yang dampaknya sangat kita khawatirkan. Luka fisik mungkin dapat disembuhkan, tetapi luka batin membutuhkan waktu panjang dan pendampingan yang serius,” jelasnya.

2. Diskusi interaktif dan kepedulian mahasiswa terhadap isu kekerasan

Illustrasi Bullying (Pexels/Yan Krukau)

Sesi edukasi ini berlangsung secara interaktif, memperlihatkan antusiasme tinggi dari seluruh peserta. Dalam diskusi terbuka, para peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan mencerminkan kepedulian mereka terhadap kondisi kampus saat ini. Isu yang diangkat cukup beragam, mulai dari kekerasan seksual, dinamika dalam proses kaderisasi, hingga bagaimana kebijakan kampus dapat mendukung upaya pencegahan dan penanganan kekerasan.

Winati tidak hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan lugas, tetapi juga menegaskan komitmen Satgas PPKPT Itera dalam menjalankan tugas mereka secara konsisten. Ia mengakui bahwa terkadang kerja Satgas mungkin tidak terlihat, namun keberadaannya sangat penting untuk menciptakan lingkungan kampus lebih aman.

“Kami mungkin bekerja dalam diam, tetapi Satgas PPKPT Itera selalu ada untuk memastikan upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terus berjalan optimal di lingkungan kampus,” tegas Winati.

3. Duta GenRe sebagai pelopor kampus aman dan bebas kekerasan

Illustrasi Bullying (Pexels/Yan Krukau)

Tak hanya menerima edukasi, para peserta Pra-Karantina Duta GenRe Itera 2025 juga didorong untuk berperan aktif dalam menyebarluaskan nilai-nilai pencegahan kekerasan di kampus.

"Mereka diharapkan mampu mengintegrasikan upaya pencegahan kekerasan ke dalam program kerja masing-masing setelah seleksi selesai," katanya.

Menurut Winati, sejak tahap awal, para peserta sudah ditanamkan pemahaman bahwa menjadi Duta GenRe bukan hanya soal representasi, tetapi juga menjadi teladan dan pelopor perubahan positif di kampus.

"Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh peserta, baik finalis, non-finalis, maupun panitia, bisa menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak untuk belajar di lingkungan aman dan bebas dari kekerasan. Tak hanya sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari di kampus Itera," kata dia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team