ilustrasi bencana alam (pexels.com/Faruk Tokluoğlu)
Fuad Bawazier, Board of Trustees Prasasti, menekankan, peristiwa bencana di sejumlah wilayah Indonesia beberapa waktu terakhir seharusnya menjadi pijakan bersama dalam merumuskan kebijakan lintas sektor. "Ketahanan ekonomi di era perubahan iklim menuntut pendekatan tata kelola yang lebih adaptif dan berkelanjutan, termasuk dalam sektor energi dan pangan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (19/2/2026).
Fuad menegaskan, dalam kerangka ketahanan nasional tersebut, industri kelapa sawit memiliki posisi sangat strategis. Indonesia saat ini merupakan produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia dengan pangsa sekitar 58 persen produksi global.
Sektor ini menopang sekitar 2,6 juta petani sawit dan menyediakan hingga 16,5 juta lapangan kerja langsung maupun tidak langsung yang tersebar di lebih dari 300 kabupaten dan 25 provinsi. Dari sisi ekonomi, industri sawit menciptakan nilai output lebih dari Rp1.100 triliun per tahun dengan nilai tambah sekitar Rp510 triliun per tahun, sekaligus berperan penting dalam menjaga surplus neraca perdagangan nasional melalui ekspor dan biodiesel.
“Angka-angka ini menunjukkan bahwa sawit bukan sekadar komoditas, tetapi aset strategis nasional yang menopang ekonomi daerah, penghidupan jutaan keluarga, serta ketahanan pangan dan energi Indonesia,” ujar Fuad.