Bandar Lampung, IDN Times - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada saat Peresmian Operasionalisasi 1061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Kabupaten Nganjuk, (16/5/2026 ) yang menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah tidak perlu dikhawatirkan oleh masyarakat pedesaan karena “rakyat di desa tidak menggunakan dolar” memicu perdebatan epistemologis yang fundamental.
Secara tekstual, argumen tersebut tampak seperti pembelaan populis yang berpihak pada rakyat kecil. Namun, jika dibedah secara akademis melalui irisan ilmu Komunikasi Pemerintah (Government Communication) dan Ekonomi Makro, retorika ini merefleksikan sebuah anomali kebijakan.
Penulis mencoba membedah fenomena tersebut menggunakan pisau analisis Tan Malaka dalam magnum opusnya, MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika), khususunya terkait kritik terhadap "Logika Mistika".
