Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Retorika: Logika Mistika di Balik Ucapan “Desa Tidak Pakai Dolar”
Arie Purnama, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bandar Lampung. (Dok. UBL).
  • Pernyataan Presiden Prabowo tentang 'desa tidak pakai dolar' dinilai sebagai strategi komunikasi pemerintah untuk meredam kecemasan publik di tengah pelemahan rupiah.
  • Artikel menyoroti bahwa retorika tersebut mencerminkan 'Logika Mistika', yaitu cara berpikir yang mengabaikan hubungan sebab-akibat material demi kenyamanan emosional masyarakat.
  • Penulis menegaskan pentingnya komunikasi berbasis fakta dan logika ilmiah, karena desa tetap terdampak fluktuasi dolar melalui ketergantungan pada bahan impor dan inflasi harga pokok.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada saat Peresmian Operasionalisasi 1061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Kabupaten Nganjuk, (16/5/2026 ) yang menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah tidak perlu dikhawatirkan oleh masyarakat pedesaan karena “rakyat di desa tidak menggunakan dolar” memicu perdebatan epistemologis yang fundamental.

Secara tekstual, argumen tersebut tampak seperti pembelaan populis yang berpihak pada rakyat kecil. Namun, jika dibedah secara akademis melalui irisan ilmu Komunikasi Pemerintah (Government Communication) dan Ekonomi Makro, retorika ini merefleksikan sebuah anomali kebijakan.

Penulis mencoba membedah fenomena tersebut menggunakan pisau analisis Tan Malaka dalam magnum opusnya, MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika), khususunya terkait kritik terhadap "Logika Mistika".

"Desa tidak pakai dolar" dapat dikategorikan sebagai sebuah manajemen kecemasan

ilustrasi cemas dan takut (pexels.com/mart-production)

Dalam lanskap politik modern, pernyataan "desa tidak pakai dolar" dapat dikategorikan sebagai sebuah manajemen kecemasan (anxiety management) dalam komunikasi pemerintah. Mengingat fakta moneter di mana rupiah sempat terdepresiasi tajam terhadap dolar AS, pemerintah menghadapi risiko penurunan kepercayaan publik (public trust decay).

Di sinilah komunikasi pemerintah bekerja bukan untuk mentransmisikan data teknokratis, melainkan untuk mengonstruksi realitas psikologis yang menenangkan. Konfirmasi dari otoritas moneter bahwa narasi tersebut bertujuan "untuk menghibur rakyat" mempertegas bahwa substansi ekonomi telah dieliminasi demi stabilitas opini publik.

Dalam Madilog, Tan Malaka melancarkan kritik keras terhadap "Logika Mistika", sebuah cara berpikir yang memutus hubungan sebab-akibat material yang empiris, lalu menggantinya dengan narasi kenyamanan transendental atau dogmatis. Dalam konteks komunikasi pemerintah modern, Logika Mistika bermutasi menjadi populisme retoris yang mengaburkan fakta objektif demi sentimen emosional.

Komunikasi yang sehat seharusnya berbasis pada kebijakan berbasis bukti

ilustrasi data literacy (freepik.com/our-team)

Komunikasi yang sehat seharusnya berbasis pada kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy). Ketika negara menggunakan narasi "isolasi desa" sebagai tameng retoris, pemerintah sedang mengoperasikan logika mistis: menciptakan ilusi bahwa ada ruang domestik yang suci, kebal, dan terpisah dari dinamika kapitalisme global.

Komunikasi jenis ini berbahaya karena menidurkan kesadaran kritis publik dan mengaburkan akuntabilitas pemerintah dalam memitigasi risiko ekonomi. Ucapan Presiden Prabowo terkait "desa tidak pakai dolar" mengalami cacat logika struktural (structural fallacy).

Ekonomi makro modern memandang desa bukan sebagai entitas autarki yang hidup dalam sistem feodal-barter kuno, melainkan sebagai bagian integral dari rantai pasok global (global supply chain). Melalui kacamata Materialisme dan Dialektika Madilog, segala gejala ekonomi terikat dalam hukum kausalitas material yang nyata.

Sektor agrikultur dan peternakan di pedesaan hari ini sangat bergantung pada komponen impor

ilustrasi pertanian (pexels.com/Tran Nam Trung)

Sektor agrikultur dan peternakan di pedesaan hari ini sangat bergantung pada komponen impor (imported inputs). Mulai dari bahan baku pupuk kimia non-subsidi, komponen pakan ternak (seperti bungkil kedelai), hingga suku cadang mesin traktor.

Semua komoditas ini ditransaksikan menggunakan denominasi dolar AS. Ketika rupiah melemah, biaya modal petani otomatis melonjak. Petani memang menerima rupiah saat menjual gabah, tetapi nominal rupiah yang mereka pegang telah tergerus nilainya oleh inflasi barang-barang konsumsi yang berbahan baku impor.

Mengatakan orang desa tidak terdampak dolar adalah pengingkaran terhadap fakta material ekonomi bahwa desa justru merupakan ujung tombak yang paling rentan menerima hantaman inflasi global. Dalam ekonomi politik, retorika pemerintah tersebut mencerminkan romantisasi pedesaan yang bersifat ahistoris.

Pemerintah seolah memotret desa sebagai benteng swasembada yang romantis demi melegitimasi narasi ketahanan ekonomi nasional. Padahal, data empiris menunjukkan kantong kemiskinan struktural terbesar justru berada di pedesaan, yang kesehariannya sangat sensitif terhadap fluktuasi harga barang pokok.

Sudah saatnya pemerintah kembali pada nalar Madilog dalam berkomunikasi dengan rakyat

ilustrasi komunikasi persuasif (freepik.com/freepik)

Bagi Tan Malaka, jalan keluar dari keterbelakangan dan pembodohan struktural adalah dengan mengadopsi cara berpikir Madilog: melihat dunia secara objektif berdasarkan fakta materi, hubungan dialektis, dan logika ilmiah. Kebijakan publik dan komunikasi yang menyertainya tidak boleh dibangun di atas fondasi mistisisme politik atau delusi otonomi ekonomi.

Seharusnya sinergi antara komunikasi pemerintah dan kebijakan ekonomi melahirkan narasi yang jujur, edukatif, dan mitigatif. Menghadapi guncangan geo-ekonomi yang kompleks, publik tidak membutuhkan teks-teks hiburan yang menidurkan secara psikologis, melainkan membutuhkan transparansi teknokratis mengenai bagaimana negara mengelola risiko.

Menyatakan rakyat desa aman dari badai dolar hanya karena mereka tidak memegangnya secara fisik adalah bentuk "Logika Mistika" modern. Sudah saatnya pemerintah kembali pada nalar Madilog dalam berkomunikasi dengan rakyat: menyampaikan realitas apa adanya, seraya menunjukkan langkah konkret untuk menyelamatkan piring makan masyarakat di pelosok negeri.

Penulis: Arie Purnama, S.IP., M.I.Kom (Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bandar Lampung)

Editorial Team