Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi Gen Z melakukan aktivitas pekerjaan. (Pexels.com/Mikael Blomkvist)
Ilustrasi Gen Z melakukan aktivitas pekerjaan. (Pexels.com/Mikael Blomkvist)

Intinya sih...

  • Gen Z di Lampung memilih pekerjaan nyaman dan aman
  • Fleksibilitas, lingkungan kerja yang baik, dan gaji tetap menjadi prioritas
  • Mahasiswa juga sibuk bekerja untuk tambahan uang jajan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Tren kehidupan generasi Z atau lebih dikenal Gen Z selalu menarik untuk diikuti. Di dunia maya, banyak meme seliweran mencap kaum muda satu ini mudah baperan, tak kuat mental, hingga susah diatur.

Di dunia nyata, meme itu seakan berbanding lurus dengan angka pengangguran di kalangan Gen Z di Indonesia cukup tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hampir 10 juta penduduk berusia 15-24 tahun menganggur. Jumlah ini cukup banyak tepatnya hampir seperempat dari generasi muda Indonesia.

Lantas bagaimana perspektif kaum Gen Z di Provinsi Lampung dalam menyikapi isu angka pengangguran di kalangan usianya?

1. Pilih pekerjaan nyaman dan punya gaji lebih baik

Ilustrasi Upah (IDN Times)

Serly (21), Gen Z asal Kota Bandar Lampung tak sependapat dengan stampel negatif menyebutkan generasinya suka pilih-pilih pekerjaan. Ia mencontohkan dirinya sendiri dan teman-teman sekitar, cenderung berminat bekerja dibanding melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Namun diakui, usai menamatkan pendidikan SMA sejak 2022 hingga saat ini beberapa perusahaan telah disinggahinya mulai dari bergerak di bidang ritel, makanan dan minuman, hingga teknologi informasi. Alasannya, demi mencari pengalaman kerja, lingkungan pekerjaan yang aman dan nyaman, jenjang karier, hingga menjaring pendapatan atau gaji yang lebih tinggi.

"Saya pribadi banyak milih kerja di perusahaan, karena ada gaji tetap tiap bulan, dapat benefit kaya BPJS, terus jenjang karier juga lebih jelas. Apalagi kalau perusahaannya udah dikenal, biasanya sistem kerjanya lebih terstruktur jadi enak buat belajar," katanya dimintai keterangan, Jumat (2/5/2025).

Tak hanya sekadar bekerja, Serly juga memprioritaskan sejumlah faktor saat memilih pekerjaan. Misalnya, lingkungan pekerjaan nyaman hingga jauh dari kata toxic hingga manajemen yang memberikan kesempatan pekerjanya untuk lebih berkembang.

"Jadi jangan sampe kerja menguasai hidup, jam kerjanya harus reasonable. Terutama gaji sih penting, tapi kalau tempat kerjanya bikin stres, biasanya cepet bikin gak betah," lanjut dia.

2. Gemari sistem pekerjaan fleksibel

ilustrasi jam weker (pexels.com/Acharaporn Kamornboonyarush)

Berbicara terkait kriteria pekerjaan ideal di matanya, Serly menyebutkan, setiap generasi usia bukan hanya Gen Z pasti memiliki karakter dan kepribadian masing-masing dalam memandang suatu pekerjaan

Meski demikian, Gen Z dikatakan pada umumnya tetep memiliki standar khusus melamar atau menerima suatu pekerjaan di perusahaan. Terutama mengedepankan sistem pekerjaan yang fleksibel atau tak terlalu kaku seperti pada sektor formal.

"Boleh lah sesekali WFH, jadi bos atau atasannya itu kalau bisa yang ngerti work-life balance, bukan yang minta lembur terus. Terpenting lagi, lingkungan kerjanya enak, gak banyak drama," kata warga Kelurahan Labuhan Dalam tersebut.

3. Belajar dagang di sela-sela menyelesaikan tugas skripsi

Ilustrasi mengetik di laptop (pexels.com/Mikhail Nilov)

Pengalaman Gen Z lainnya datang dari Danu (22), salah satu mahasiswa tingkat akhir sedang berkutat menyelesaikan skripsi di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandar Lampung. Ia mengaku, beberapa waktu terakhir banyak dihabiskan menjaga gerai makanan di jalan protokol Kota Tapis Berseri.

Salah satu alasannya ialah untuk mendapatkan tambahan uang jajan, ketimbang menghabiskan waktu tanpa manfaat di tengah kekosongan mengerjakan tugas akhir kampus.

"Kalau saya sengaja nyambi, ya hitung-hitungan lumayan buat tambah-tambahan uang saku dari orang tua, sama sekalian belajar-belajar jualan melayani macam-macam orang," ucap dia.

Namun tetap, fokus utamanya saat ini segera menyelesaikan tugas skripsi, sehingga diharapkan bisa segera terjun ke dunia pekerjaan. "Kalau rencana kerja di mana itu belum tau pastinya, yang jelas bakal coba-coba melamar di perusahaan," sambung Danu.

4. Diawali magang kini terlanjur cinta pekerjaan

ilustrasi profesi jurnalis (pexels.com/Terje Sollie)

Kisah lain diutarakan Ardiansyah Putra Munthe (23), seorang jurnalis media nasional bertugas meliputi isu pemberitaan di Provinsi Lampung. Mengawali karier jurnalistik di media lokal semasa magang sebagai mahasiswa sementara 7, ia hingga kini terlanjur mencintai profesi tersebut.

Mulai dari niatan membantu perekonomian orang tua, mengenal dan memiliki relasi dari berbagai kalangan profesi, hingga demi membiayai kehidupan pribadi diakui menjadi beberapa alasannya terus menggeluti profesi sebagai pewarta.

"Alhamdulillah, sejak magang itu saya bayar kuliah sama biayai hidup sendiri di Bandar Lampung. Merasa nyaman ditambah biasa dapat penghasilan sendiri, jadi pilih terus bertahan kerja di perusahaan media," kata dia.

Kendati diakui menyelesaikan perkuliahan disela kesibukan tuntutan pekerjaan bukan perkara mudah. Tak jarang, Ardi harus memilih mengorbankan salah satu di antaranya.

Meski begitu, ia tetap berupaya keras menyelesaikan gelar sarjananya. "Kalau skripsi udah selesai, harapannya tahun ini bisa wisuda, mudah-mudahan bisa lancar," imbuh mahasiswa semester 12 tersebut.

Editorial Team