Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi cuaca IDN Times/Irwan Idris
Ilustrasi cuaca IDN Times/Irwan Idris

Intinya sih...

  • Musim kemarau di Lampung tidak serentak terjadi
  • Wilayah masih memasuki fase pancaroba, sebagian wilayah baru masuk musim kemarau pada Juni mendatang
  • Gelombang atmosfer aktif di wilayah Lampung seperti MJO dan Gelombang Rossby menyebabkan hujan banyak terjadi di wilayah barat, selatan, hingga timur
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Lampung Selatan, IDN Times - Sejumlah wilayah di Provinsi Lampung mulai memasuki musim kemarau, namun di sisi lain hujan juga masih sering mengguyur. Kenapa sudah musim kemarau tapi masih hujan?

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II Lampung, periode musim kemarau tahun ini di provinsi setempat tidak langsung seragam terjadi pada semua wilayah.

"Jadi ada yang baru masuk musim kemarau pada bulan Juni mendatang, sehingga pada bulan Mei ini wilayah-wilayah tersebut masih berlangsung fase pancaroba," ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Lampung, Rudi Harianto dikonfirmasi, Sabtu (31/5/2025).

1. Sebagian wilayah Lampung masih fase pancaroba

Pancaroba

Rudi menjelaskan, wilayah kini masih memasuki fase pancaroba di antaranya sebagian wilayah Pesisir Barat, sebagian besar Lampung Barat, sebagian Way Kanan, sebagian besar Tulang Bawang Barat, sebagian Lampung Utara, sebagian Lampung Tengah, sebagian Mesuji, dan sebagian Tulang Bawang.

Selain musim kemarau datang tidak seragam, beberapa hari terakhir sejumlah gelombang atmosfer aktif di wilayah Lampung semisal MJO dan juga Gelombang Rossby.

"Ada juga memberikan suplai pembentukan awan hujan adalah adanya pusat tekanan rendah di sebelah barat Lampung, ini mengakibatkan terbentuk sirkulasi siklonik dan didukung dengan basahnya atmosfer yang dilihat dari tingginya nilai kelembapan udara di lapisan 700mb dan 500mb," jelasnya.

2. Hujan dan angin kencang masih potensi terjadi

ilustrasi cuaca ekstrem (freepik.com/creativeart)

Merujuk analisis cuaca tersebut, Rudi menyampaikan, kondisi ini bisa dilihat dengan sebaran hujan selama Mei, sehingga hujan banyak terjadi di wilayah Lampung bagian barat, selatan, hingga timur.

Menurutnya, wilayah ini merupakan titik pertemuan arus angin akibat adanya sirkulasi siklonik di sebelah barat Lampung. Dampaknya, beberapa kejadian angin kencang dan banjir masih terjadi selama Mei 2025.

"Salah satu yang paling signifikan adalah banjir di kota Metro beberapa waktu yang lalu, ketinggian air mencapai setinggi betis orang dewasa," ucap dia.

3. Musim kemarau paling lama diprediksi sebagian Lampung Selatan dan sebagian wilayah Lampung Timur

ilustrasi perempuan sedang kepanasan (freepik.com/freepik)

Ihwal rentang waktu musim kemarau tahun ini, Rudi menyebutkan, setiap wilayah di Lampung masing-masing memiliki durasi cukup beragam, dengan masa paling pendek sekitar 2 bulan di sebagian wilayah Pesisir Barat, dan paling lama 6 bulan di wilayah sebagian Lampung Selatan dan sebagian wilayah Lampung Timur.

Sementara untuk puncak musim kemarau tahun ini secara umum diprediksi jatuh pada Juni 2025, dengan prediksi paling lama adalah wilayah sebagian Lampung Selatan dan sebagian wilayah Lampung Timur baru akan memasuki puncak musim kemarau pada September mendatang.

"Jadi walaupun secara klimatologis kita mulai masuk musim kemarau, bukan berarti hujan langsung berhenti total. Ada banyak faktor atmosfer dinamis yang memengaruhi cuaca harian di Lampung. Tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan ini," imbau Rudi.

Editorial Team